Bisnis

New Policy: Bapanas pastikan pemerintah jaga keseimbangan harga telur hulu-hilir

New Policy: Bapanas Pastikan Stabilitas Harga Telur Ayam Ras

New Policy berupa kebijakan yang diumumkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) bertujuan untuk menjaga keseimbangan harga telur ayam ras di seluruh tahapan rantai pasok, mulai dari produksi hulu hingga konsumsi hilir. Dalam rangka mendukung ekonomi peternak sekaligus memastikan akses masyarakat terhadap bahan pangan yang vital, pemerintah melalui Bapanas berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam menstabilkan harga. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan bahwa intervensi ini penting untuk menghindari fluktuasi harga yang berlebihan, terutama dalam kondisi pasar yang dinamis.

Deflasi Telur Ayam Ras Mengalami Peningkatan

Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi telur ayam ras telah menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Dalam tiga bulan terakhir, harga telur turun hingga 5,14 persen, terutama pada bulan Mei 2026. Meski penurunan ini dinilai positif dalam mengurangi beban konsumen, Ketut menekankan bahwa kebijakan New Policy diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan produsen dan akses konsumen. “Kami harus memastikan harga tidak terlalu rendah di tingkat hulu, karena hal ini bisa memengaruhi keberlanjutan usaha peternak,” jelasnya.

“Kebijakan New Policy ini bukan hanya untuk menstabilkan harga telur, tapi juga untuk menumbuhkan industri peternakan secara berkelanjutan. Dengan memperkuat koordinasi antarlembaga, kami percaya bahwa stabilitas harga dapat tercapai,” kata Ketut dalam wawancara eksklusif di Jakarta, Minggu.

Kebijakan New Policy untuk Stabilkan Pasar

Kebijakan New Policy dibuat sebagai respons terhadap fluktuasi harga telur yang terjadi di pasar nasional. Dalam beberapa bulan terakhir, harga telur ayam ras mengalami penurunan yang berdampak pada pendapatan peternak, terutama di wilayah sentra produksi seperti Jawa Timur. Untuk mengatasi ini, Bapanas menggandeng Badan Gizi Nasional (BGN) dan berbagai lembaga terkait dalam menciptakan mekanisme penyerapan telur yang lebih efektif. Salah satu inisiatif utama adalah program makan bergizi gratis (MBG), yang diharapkan dapat menjadi penyerap pasar yang stabil.

Dalam program MBG, sekitar 60 juta penduduk akan mendapatkan alokasi telur ayam ras secara rutin, sehingga mendorong permintaan yang seimbang. Kebijakan ini juga melibatkan kerja sama dengan koperasi dan asosiasi peternak untuk memastikan distribusi yang merata. “Dengan New Policy, kita bisa mengurangi risiko harga telur yang anjlok, sekaligus memastikan masyarakat tidak terbebani secara ekonomi,” tambah Andi Amran Sulaiman, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian.

Pemantauan dan Strategi dalam Masa Depan

Pemerintah terus melakukan pemantauan intensif terhadap harga dan stok telur ayam ras, terutama di wilayah paling rentan fluktuasi. Data terkini menunjukkan bahwa rata-rata harga telur di Maret mencapai Rp27.236 per kilogram, namun terus turun hingga Rp24.424 per kg di awal Juni 2026. Ketut menyebut bahwa penerapan New Policy akan berdampak positif pada keberlanjutan industri peternakan, selain mengendalikan inflasi dan deflasi dalam sistem distribusi.

Langkah-langkah yang diambil dalam New Policy mencakup peningkatan kapasitas gudang penyimpanan, subsidi harga jual di tingkat peternak, serta pengaturan harga maksimum di tingkat konsumen. Selain itu, pemerintah juga berencana mengadakan kampanye edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya membeli telur secara bertahap dan menjangkau produsen lokal. “New Policy ini akan menjadi fondasi untuk menciptakan ekosistem pangan yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

“Kami percaya bahwa dengan New Policy, keseimbangan harga telur ayam ras dapat terjaga sepanjang waktu. Ini tidak hanya membantu peternak, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan,” tutur Ketut. Keberhasilan kebijakan ini, menurutnya, bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya, dan masyarakat. “Seluruh pihak harus terlibat dalam menjaga keseimbangan ini, agar tidak terjadi ketimpangan dalam rantai pasok,” imbuhnya.

Dengan New Policy ini, Bapanas juga berharap bisa mendorong pertumbuhan industri peternakan nasional, sejalan dengan target swasembada pangan yang telah ditetapkan. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah berencana meningkatkan produksi melalui bantuan teknologi dan akses pasar yang lebih luas. “Kami akan terus berupaya mengoptimalkan New Policy, sehingga telur ayam ras menjadi bahan pangan yang tersedia, terjangkau, dan berkualitas,” pungkas Ketut. Kebijakan ini diharapkan dapat menjadi contoh terbaik dalam mengelola harga pangan secara nasional.

Leave a Comment