Solving Problems: BTN Turunkan Rasio NPL KPR ke 2,8% di Kuartal I 2026
Solving Problems – Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) berhasil mencatatkan penurunan rasio kredit bermasalah (NPL) pada segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR) ke 2,8 persen di kuartal pertama 2026. Angka ini mengalami penurunan dari 3,0 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan kemajuan signifikan dalam menjaga kualitas kredit yang dipasarkan.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengungkapkan bahwa upaya pencegahan risiko kredit terus ditingkatkan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang muncul dari dinamika pasar. Ia menekankan bahwa BTN tidak hanya fokus pada peningkatan volume kredit, tetapi juga menyelesaikan masalah kualitas kredit melalui penyesuaian proses yang lebih ketat dan penggunaan teknologi modern.
“BTN berkomitmen untuk menyelesaikan masalah kredit bermasalah dengan memperkuat pengawasan terhadap portofolio kredit, terutama pada sektor properti,” ujar Setiyo dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu (20/03/2026).
Pencapaian ini juga mencerminkan upaya BTN dalam menyelesaikan tantangan sektor perumahan yang menghadapi tekanan inflasi dan perubahan perilaku konsumen. Dengan rasio NPL secara keseluruhan sebesar 3,1 persen pada kuartal I 2026, BTN menunjukkan kemampuan dalam mengelola risiko kredit secara efektif, sekaligus memperkuat fondasi keuangan perusahaan.
Strategi Transformasi BTN untuk Menyelesaikan Masalah Kredit
Menurut Setiyo, penurunan NPL KPR diperoleh melalui berbagai inisiatif transformasi yang telah dijalankan selama beberapa tahun terakhir. Langkah-langkah ini mencakup penguatan proses underwriting, digitalisasi sistem kredit, dan pemanfaatan alat analisis data untuk memprediksi kemungkinan kredit bermasalah lebih dini. Selain itu, BTN juga menyelesaikan masalah dalam manajemen portofolio melalui pengelolaan yang lebih terstruktur, baik sebelum maupun setelah kredit diberikan.
Direktur Utama BTN, Catur Haryo, menambahkan bahwa perusahaan secara konsisten menyelesaikan masalah kredit dengan memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas. Ia menyoroti bahwa penerapan teknologi dan otomasi di sektor KPR telah mengurangi kesalahan administrasi, serta meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan dalam menyetujui atau menolak aplikasi kredit.
Dalam upaya menyelesaikan masalah kredit, BTN juga melakukan pelatihan terhadap tim underwriting dan pemberdayaan mitra perbankan lokal. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran kolektif terkait tata kelola kredit yang lebih ketat, terutama dalam menghadapi kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Pengembangan Platform Loan Factory untuk Menyelesaikan Tantangan Pembiayaan
Transformasi lainnya adalah pengembangan BTN Loan Factory, sebuah platform terintegrasi yang mengolah seluruh proses pembiayaan konsumer secara nasional. Platform ini berperan besar dalam menyelesaikan masalah kredit melalui otomasi workflow, alat pengambilan keputusan berbasis data, serta sistem validasi yang lebih akurat.
Dengan adanya platform digital ini, BTN mampu menyelesaikan masalah dalam distribusi kredit, mengurangi waktu pemeriksaan, dan meningkatkan transparansi dalam pengelolaan aset. Razqi M. Kurniawan, Analis Pasar Modal dari Bahana Sekuritas, menilai bahwa keberhasilan BTN dalam menyelesaikan masalah kredit memperkuat posisi perusahaan sebagai bank yang mampu menyesuaikan dengan dinamika pasar yang cepat berubah.
Razqi juga menyoroti bahwa strategi BTN dalam menyelesaikan masalah kredit tidak hanya berdampak pada penurunan NPL, tetapi juga pada peningkatan likuiditas dan stabilitas pendapatan. Ia menegaskan bahwa rasio kredit bermasalah yang menurun menunjukkan keberhasilan BTN dalam mengubah sistem pembiayaan menjadi lebih efisien dan lebih tahan banting.
