Bisnis

Main Agenda: Kemenperin perkuat kerja sama manufaktur RI dengan Belarus

Kemenperin Perkuat Kerja Sama Manufaktur RI dengan Belarus

Main Agenda – Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) menggencarkan kerja sama industri dengan Belarus untuk meningkatkan daya tanding sektor manufaktur nasional, mendorong aliran investasi, serta memperkuat hubungan rantai pasok antar kedua negara. Upaya ini dilakukan dalam rangka memperluas kerja sama industri strategis di wilayah Eurasia.

Kerja sama tersebut diharapkan bisa membuka peluang baru bagi pengembangan industri dalam negeri dan memperkuat keberlanjutan sektor manufaktur. Dalam komunikasi resmi yang diterima di Jakarta, Rabu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa langkah ini dilakukan untuk membangun kemitraan konkret yang saling menguntungkan.

“Kolaborasi industri perlu dilakukan secara efektif agar bisa mendukung pertumbuhan manufaktur kedua negara secara bersamaan,” ujar Menperin.

Sebagai bagian dari upaya ini, Kemenperin mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Perindustrian Belarus, Andrei Kuznetsov, di Xiamen, China, pada akhir Mei 2026. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah agenda BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026.

Kemitraan dengan Belarus dipandang sebagai langkah strategis setelah pertemuan sebelumnya antara Menperin dengan Wakil Perdana Menteri Belarus, Viktor Karankevich, di Jakarta pada Desember 2025. Sejak itu, dialog antar kedua negara terus diperluas untuk menjajaki kesepakatan yang lebih operasional di bidang manufaktur dan investasi.

Kinerja Ekspor dan Impor

Dalam tahun 2025, nilai perdagangan nonminyak antara Indonesia dan Belarus mencapai 221,3 juta dolar AS. Ekspor produk Indonesia ke Belarus mencapai 79,6 juta dolar AS, naik 82,57 persen dibanding tahun sebelumnya.

Komoditas utama yang diekspor mencakup komponen elektronik, produk sawit, hasil olahan perikanan, tekstil, serta bahan pertanian seperti kopi, kakao, dan teh. Sementara itu, Indonesia mengimpor pupuk, produk peternakan, bahan kimia, alat ukur, traktor, dan mesin pertanian dari Belarus.

Finalisasi MoU dan Arah Kemitraan

Kemenperin berupaya mempercepat penyusunan MoU kerja sama industri dengan Belarus. Kesepakatan ini akan mencakup sektor-sektor utama, seperti agro, otomotif, alat berat, logam, alat kesehatan, hingga industri hijau.

Menurut Dirjen KPAII Kemenperin, Tri Supondy, kolaborasi dengan Belarus memberikan peluang besar untuk mendorong investasi, transfer teknologi, serta ekspor produk unggulan Indonesia. “Kita juga fokus pada pengembangan kemitraan industri yang mengintegrasikan keunggulan masing-masing pihak,” kata dirjen tersebut.

Selain MoU, kedua negara juga mendiskusikan progres implementasi Perjanjian Bebas Tarif Perdagangan (I-EAEU FTA), yang ditandatangani Desember 2025. Perjanjian ini memberikan manfaat preferensial untuk lebih dari 90 persen barang dagangan antara Indonesia dan anggota EAEU, termasuk Belarus.

Leave a Comment