DPR Dorong Pariwisata Berbasis Indikasi Geografis di Bali
DPR dorong adanya pariwisata berbasis indikasi – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) secara aktif mendorong pengembangan pariwisata berbasis indikasi geografis di Pulau Bali sebagai upaya memperkuat daya saing sektor pariwisata nasional. Dalam rapat diskusi yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan, para anggota DPR menekankan bahwa penggunaan indikasi geografis (IG) tidak hanya bisa meningkatkan nilai ekonomi wisata lokal, tetapi juga menjadi identitas unik yang mampu menggarisbawahi kekayaan alam serta budaya Bali. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mempromosikan ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan berbasis keunggulan daerah.
Langkah Strategis DPR dalam Pengembangan Pariwisata Berbasis IG
Yasonna Laoly, salah satu anggota DPR RI, menjadi pembicara utama dalam acara sosialisasi Kekayaan Intelektual yang digelar di Kantor Gubernur Bali, Jakarta, pada Jumat (19/6). Ia mengungkapkan bahwa indikasi geografis menjadi salah satu faktor kunci dalam mendorong diferensiasi produk pariwisata Bali di pasar internasional. “Pariwisata berbasis indikasi geografis bisa mengangkat nilai tambah wisata yang sudah ada, sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan destinasi unik,” katanya dalam pidatonya.
Dalam sesi diskusi, Laoly menyoroti bahwa Bali memiliki potensi besar untuk mengklaim IG pada berbagai produk wisata, seperti pertanian, kerajinan, dan kebudayaan. Ia mencontohkan sektor pertanian Bali yang khas, seperti beras premium atau pohon pala, yang bisa menjadi basis pariwisata berbasis IG. “Selama ini, banyak produk Bali sudah memiliki keunggulan geografis, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal sebagai identitas pariwisata,” jelasnya.
Peluang dan Manfaat Pariwisata Berbasis Indikasi Geografis
Menurut Laoly, pariwisata berbasis indikasi geografis bisa memberikan manfaat ganda. Selain meningkatkan penerimaan ekonomi bagi masyarakat lokal, IG juga memperkuat citra Bali sebagai destinasi yang memiliki keaslian dan keunikan. “Dengan memanfaatkan IG, Bali bisa menjadi contoh nasional dalam pengembangan ekonomi kreatif yang berbasis keunggulan alam dan budaya,” terangnya.
Dalam pandangan Laoly, penerapan IG di sektor pariwisata bisa mendorong kerja sama antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Ia mencontohkan bahwa pengusaha lokal bisa memasarkan produk dengan label IG, yang selanjutnya menjadi jaminan kualitas dan keaslian. “Dengan label ini, konsumen akan lebih percaya pada produk Bali, baik itu makanan, oleh-oleh, maupun pengalaman wisata yang unik,” tambahnya.
Tantangan dalam Penerapan Pariwisata Berbasis IG
Laoly mengakui bahwa tantangan utama dalam menerapkan pariwisata berbasis indikasi geografis adalah kesadaran dan partisipasi pelaku usaha. Banyak pengusaha UKM masih menganggap IG sebagai hal yang rumit dan mahal. “Kita perlu memberikan edukasi dan bantuan teknis agar para pengusaha bisa memahami manfaat IG,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan ini juga memerlukan dukungan dari pihak berwenang untuk menetapkan standar pengelolaan dan pengawasan. “Pemerintah harus memastikan bahwa produk dengan label IG benar-benar mewakili keaslian geografisnya, sehingga masyarakat bisa mempercayai keunggulan tersebut,” jelasnya. Laoly juga menyoroti perlunya koordinasi antara lembaga pemerintah, badan usaha, dan komunitas lokal untuk menjaga konsistensi dalam penerapan IG.
Contoh Pariwisata Berbasis IG di Bali
Bali telah memiliki beberapa contoh sukses dalam penggunaan indikasi geografis. Salah satunya adalah produk pertanian seperti beras Bali premium, yang mendapatkan pengakuan internasional karena kualitasnya yang unik. Selain itu, produk kerajinan lokal seperti batik Bali atau anyaman dari bahan lokal juga mulai diakui sebagai pariwisata berbasis IG.
Dalam konteks pariwisata, kawasan wisata yang terkenal dengan keunikan geografis seperti Gunung Batur, Kintamani, atau Tirta Gangga bisa menjadi contoh yang baik. Destinasi-destinasi ini tidak hanya menarik wisatawan lokal, tetapi juga bisa menjadi magnet untuk turis mancanegara yang mencari pengalaman wisata yang autentik. “Kita perlu memperluas konsep ini ke seluruh sektor pariwisata, termasuk kuliner, pertunjukan budaya, dan kegiatan ekonomi kreatif lainnya,” katanya.
Para peserta acara sosialisasi juga menyoroti bahwa penerapan IG di Bali bisa menjadi jalan untuk mengatasi masalah komodifikasi wisata yang terlalu banyak. Dengan menekankan keunikan geografis, pariwisata lokal tidak lagi hanya berfokus pada volume, tetapi juga pada kualitas dan keistimewaan. “Ini bisa menjadi cara untuk menjaga keberlanjutan pariwisata Bali di masa depan,” kata salah satu peserta diskusi.
