Key Discussion: ANTARA Ajak Mahasiswa Tingkatkan Literasi Media Digital
Key Discussion di Purwokerto, Jawa Tengah, menjadi momen penting dalam memperkuat kesadaran generasi muda akan pentingnya literasi media di tengah keberadaan teknologi digital yang semakin dominan. Dalam kuliah umum yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar menyoroti peran mahasiswa sebagai garda depan dalam menjaga kualitas informasi. Ia berpendapat bahwa keberhasilan literasi media kini bergantung pada kemampuan para mahasiswa untuk mengenali kebenaran dan menghadapi disinformasi di ruang digital.
Pentingnya Literasi Media di Tengah Dinamika Digital
Benny menegaskan bahwa era digital telah mengubah cara masyarakat menyerap informasi. Teknologi ini memungkinkan berita menyebarkan pesan dengan kecepatan luar biasa, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran informasi yang tidak akurat. Dalam Key Discussion ini, ia menyampaikan bahwa generasi muda perlu dilatih untuk memilah dan mengkritik berbagai sumber informasi yang ditemui di media sosial. “Mahasiswa harus menjadi benteng awal dalam mempertahankan integritas narasi,” ujarnya, sambil menyoroti bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi kunci dalam menghadapi tantangan informasi.
Krisis Informasi dan Peran Perguruan Tinggi
Kuliah umum tersebut juga menyoroti peran perguruan tinggi dalam membentuk mahasiswa menjadi konsumen informasi yang cerdas. Benny menekankan bahwa universitas bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga wadah untuk mengasah kemampuan mengidentifikasi bias, melawan hoaks, dan memahami penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan dalam menyampaikan berita. Ia menyampaikan bahwa literasi media digital menjadi aspek vital dalam mengurangi dampak negatif informasi yang tidak disaring.
“Di era ini, informasi bergerak lebih cepat daripada proses verifikasi. Karena itu, literasi media harus menjadi bagian dari pendidikan, baik di kelas maupun melalui aktivitas mahasiswa sendiri,” ujarnya.
Dalam Key Discussion, Benny juga membahas tantangan krisis informasi yang mengancam masyarakat. Ia menyebut bahwa disinformasi, misinformasi, dan malinformasi sering kali menyamar sebagai berita yang bisa menyesatkan publik. Untuk mengatasi hal ini, ia menekankan perlunya kolaborasi antara lembaga berita, perguruan tinggi, dan mahasiswa dalam membangun ekosistem informasi yang transparan dan terpercaya. “Kualitas informasi harus menjadi prioritas, bukan kecepatan,” kata Benny, yang mengingatkan bahwa media tetap berperan sebagai pelaku utama dalam menyampaikan kebenaran.
“Mahasiswa itu benteng, benteng terakhir sekaligus benteng awal. Mereka yang punya kemampuan berpikir kritis dan objektif bisa menjadi penjaga integritas narasi di tengah krisis,” tutur Benny, yang menambahkan bahwa literasi media digital tidak hanya tentang memilah informasi, tetapi juga memahami cara informasi dibentuk dan disebarkan.
Strategi Meningkatkan Literasi Media di Era Digital
Sebagai bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), ANTARA menggandeng universitas untuk mengadakan program pembelajaran yang berkelanjutan. Benny menyoroti bahwa kuliah umum ini adalah awal dari upaya membangun kesadaran tentang kebutuhan kredibilitas media. Ia menyebut bahwa mahasiswa harus terus belajar tentang cara memvalidasi sumber, serta memahami dampak informasi yang disampaikan secara langsung melalui media sosial.
“Key Discussion ini bukan hanya diskusi teoritis, tetapi ajakan konkret untuk memperkuat kemampuan literasi media dalam praktik sehari-hari. Mahasiswa harus mampu berpikir secara kritis dan proaktif,” kata Benny, yang menambahkan bahwa keberhasilan ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak.
Benny juga menekankan bahwa literasi media digital tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran yang sistematis. Ia menyatakan bahwa perlu adanya pendekatan berbasis teknologi untuk mengajarkan cara menyeleksi dan memahami konten. “Media masa kini harus menjadi alat untuk membangun kesadaran, bukan hanya menyampaikan informasi,” ujarnya. Dengan Key Discussion ini, ia berharap munculnya gerakan kolektif dari generasi muda dalam meningkatkan literasi media di Indonesia.
“Informasi yang dibentuk harus ada objektivitas, ada cross-check, dan akurasi lebih penting daripada sekadar cepat. Literasi media digital adalah tanggung jawab semua pihak,” pungkas Benny.
