Hiburan

Key Strategy: Menulis lagu bantu Ejae keluar dari depresi gagal jadi idol

Table of Contents
  1. Menulis Lagu Bantu Ejae Keluar dari Depresi Gagal Jadi Idol
  2. Pengalaman Awal Ejae dalam Dunia K-Pop
  3. Peluang Baru di Industri Musik

Menulis Lagu Bantu Ejae Keluar dari Depresi Gagal Jadi Idol

Key Strategy – Jakarta – Dalam perjalanan karier seorang bintang grup K-Pop Demon Hunters, Ejae, menulis lagu menjadi strategi utama yang membantunya melewati masa-masa depresi setelah mengalami kegagalan dalam menjuarai mimpi menjadi idol remaja. Dilansir dari laman Channel News Asia, Kamis (7 Mei) waktu setempat, Ejae berbagi pengalaman ini kepada The New York Times, menjelaskan betapa pentingnya kreativitas dan ekspresi melalui musik sebagai sarana pemulihan diri.

Pengalaman Awal Ejae dalam Dunia K-Pop

Ejae mengungkapkan bahwa ia memasuki dunia K-Pop sejak usia 11 tahun, ketika dipilih oleh label besar Korea. Saat itu, ia yakin akan meraih sukses sebagai idola K-pop sebelum usia 18 tahun. Namun, rencana tersebut tidak berjalan lancar. Selama bertahun-tahun, Ejae terus berlatih bernyanyi dan menari hingga delapan jam sehari, terinspirasi oleh video latihan Beyonce. Meski berusaha maksimal, ia tetap menerima penolakan dari industri yang ketat.

“Kakek saya adalah tokoh besar di industri film Korea. Dia selalu mengatakan kepada saya bahwa kita harus bekerja keras untuk mencapai kesuksesan,” tambah Ejae.

Kalimat tersebut menjadi pengingat bagi Ejae dalam menghadapi tekanan, tetapi kegagalan dalam debut K-pop membuatnya merasa kehilangan arah. Dalam fase terparah, ia bahkan mengalami krisis percaya diri dan merasa hidupnya terasa seperti terjebak dalam lingkaran kegagalan.

Key Strategy: Menulis Lagu sebagai Sarana Pemulihan

Dalam masa-masa sulit tersebut, Ejae secara tidak sengaja menemukan minat dalam menulis lagu. Ia mulai menyadari bahwa melalui proses menulis, ia bisa mengungkapkan perasaan-perasaan yang terpendam, seperti frustrasi, kecewa, dan keraguan. Menulis lagu tidak hanya menjadi kegiatan kreatif, tetapi juga Key Strategy untuk mengatur emosi dan memulihkan mental. Dengan menuliskan kata-kata yang mewakili pengalamannya, Ejae merasa lebih terhubung dengan diri sendiri dan mampu menemukan tujuan baru.

Strategi ini juga membantu Ejae mengatasi kecemasan dan ketidakpastian yang menghantui dirinya. Ia mulai menulis lagu-lagu dengan tema yang lebih personal, seperti cerita kegagalan, keberhasilan, dan perjalanan hidup. Proses ini membuatnya merasa bahwa ia masih memiliki kekuatan untuk menciptakan sesuatu yang berarti, bahkan jika tidak bisa menjadi idol.

Peluang Baru di Industri Musik

Berkat Key Strategy ini, Ejae mulai dikenal di kalangan musisi K-pop dan menyumbangkan karyanya untuk beberapa grup ternama, seperti Red Velvet, Aespa, Twice, dan Le Sserafim. Ia menjelaskan bahwa menulis lagu memberinya ruang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan secara lebih bebas, sehingga bisa menjangkau audiens dengan cara yang lebih mendalam. “Menulis lagu seperti menjadi jembatan antara emosi saya dan dunia luar,” katanya.

Key Strategy ini juga membantu Ejae membangun hubungan dengan fans dan sesama musisi. Ia merasa bahwa karya-karyanya bisa memberikan makna baru pada perjalanan hidupnya, terutama setelah mengalami penolakan berulang kali. Dalam kesuksesannya, Ejae menekankan bahwa kreativitas dan ketekunan adalah kunci untuk bertahan dalam industri yang kompetitif.

“Saya pernah mendengar bahwa setiap orang akan merasakan momen kembalinya memori hidup dalam tiga detik sebelum wafat. Saya merasa seperti mengalami hal itu saat berjalan di lorong pelaminan,” ujarnya.

Momen itu terjadi ketika Ejae terpilih menyanyikan lagu “Golden” dari film Demon Hunters yang memenangkan Oscar. Kesuksesan ini menjadi bukti bahwa Key Strategy dalam menulis lagu bukan hanya membantunya melewati depresi, tetapi juga membuka jalan baru dalam karier musiknya.

Leave a Comment