Terobosan Kloning Padi Hibrida dari Tiongkok Membuka Era Baru Ketahanan Pangan
Beritaturah.com – Beijing — Sebuah pencapaian ilmiah yang signifikan telah diraih oleh para ilmuwan Tiongkok dalam bidang kloning padi hibrida. Inovasi ini diyakini mampu mengubah secara fundamental cara konvensional produksi benih dilakukan setiap tahunnya. Selain itu, temuan ini juga memberikan kontribusi teknologi penting bagi stabilitas ketahanan pangan di seluruh dunia.
Setelah melalui proses penelitian yang panjang dan berkelanjutan selama bertahun-tahun, tim yang dipimpin oleh Wang Kejian dari Institut Penelitian Padi Nasional Tiongkok berhasil menemukan gen endogen pada padi. Gen tersebut kemudian diberi nama HUAXU. Hasil penelitian mereka telah resmi diterbitkan dalam jurnal Vita pada hari Selasa, tanggal 21 Juli.
Mekanisme Gen HUAXU dan Efisiensi Kloning
Menurut studi tersebut, gen HUAXU yang terdapat pada sel telur padi hibrida memiliki kemampuan untuk menginduksi partenogenesis dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Proses ini menghasilkan keturunan haploid yang kemudian dipadukan dengan strategi kloning gamet. Melalui kombinasi ini, beberapa galur apomiktik yang dikembangkan tim mencapai angka efisiensi kloning mendekati seratus persen.
Dalam berbagai skenario pengujian, termasuk penggunaan beragam varietas padi hibrida, lintas beberapa generasi, serta dalam populasi tanam yang berbeda, efisiensi kloning tetap konsisten berada di atas sembilan puluh sembilan persen. Bahkan dalam uji lapangan berskala besar, hasil panen pun tidak mengalami penurunan dan tetap pada tingkat normal.
Sistem padi hibrida tiga galur dan dua galur yang saat ini diadopsi secara luas tidak dapat mempertahankan keunggulan hibrida pada generasi berikutnya karena adanya segregasi genetik pada keturunan.
Visi Sistem Satu Galur dan Masa Depan Perbanyakan Benih
Pencapaian ini menandai terwujudnya target awal dari satu menjadi seratus dalam sistem padi hibrida satu galur. Langkah ini menjadi sangat krusial untuk mewujudkan visi perbanyakan benih yang berkelanjutan lintas generasi. Efisiensi kloning sendiri merujuk pada persentase benih yang dihasilkan melalui apomiksis yang diinduksi secara artifisial. Benih-benih tersebut identik secara genetik dengan tanaman induknya.
Parameter ini menjadi metrik utama untuk menilai keberhasilan teknis dalam mempertahankan heterosis. Secara langsung, hal ini juga memengaruhi kemurnian benih yang dihasilkan. Wang menjelaskan bahwa sistem konvensional saat ini memerlukan produksi benih secara artifisial setiap tahunnya melalui persilangan antara galur mandul jantan dan galur pemulih.
Tujuan utama dari sistem satu galur adalah memungkinkan tanaman hibrida menghasilkan benih klonal melalui apomiksis. Dengan demikian, heterosis dapat diperbaiki dan satu kali hibridisasi dapat diwariskan lintas generasi. Secara teori, hal ini berarti satu benih hibrida saja dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan tanpa perlu memproduksi atau menanam kembali benih baru setiap tahun.
Menurut Wang, terobosan ini menjawab tantangan yang telah lama diakui secara global dalam pemuliaan tanaman. Tantangan tersebut adalah memperbaiki heterosis pada padi hibrida secara permanen melalui benih, sehingga membuka jalan bagi pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

