Internasional

CENTCOM klaim bantu 1.000 kapal lintasi Selat Hormuz sejak Mei

Foto : Emily Miller - beritaturah.com

Centcom Klaim Bantu 1 000 Kapal Lintasi Selat Hormuz Sejak Mei

Beritaturah.com – Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM kembali menegaskan peran strategisnya dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional. Melalui pernyataan resmi yang dipublikasikan pada hari Rabu, CENTCOM klaim bantu 1 000 kapal niaga untuk melintasi Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut membawa total lima ratus juta barel minyak mentah melewati jalur perairan yang sangat vital ini sejak awal bulan Mei. Informasi ini kemudian diunggah melalui platform media sosial X oleh CENTCOM sebagai bagian dari upaya transparansi operasional mereka.

Sejak awal Mei, pasukan CENTCOM telah membantu sekitar 1.000 kapal dan 500 juta barel minyak mentah melewati jalur air yang sempit.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Jalur strategis ini menjadi arteri utama perdagangan energi global, terutama untuk ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah. Dalam konteks ini, CENTCOM klaim bantu 1 000 kapal menunjukkan komitmen Amerika Serikat dalam memastikan kelancaran lalu lintas maritim di kawasan tersebut. Bantuan yang diberikan mencakup koordinasi navigasi, keamanan, dan dukungan logistik untuk kapal-kapal yang melewati wilayah ini.

Posisi CENTCOM dalam Konflik Regional

Lebih lanjut, CENTCOM menegaskan bahwa Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC tidak memiliki kewenangan untuk mengatur rute pelayaran yang bebas dan terbuka. Pernyataan ini muncul setelah adanya ketegangan terkait jalur perdagangan maritim di kawasan tersebut. CENTCOM juga menyatakan bahwa setiap upaya pembatasan oleh pihak tertentu terhadap jalur pelayaran akan ditanggapi dengan tegas. Hal ini sejalan dengan kebijakan Amerika Serikat untuk menjaga kebebasan navigasi di perairan internasional.

Ahmad Bakhshayesh Ardestani, seorang anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, menyampaikan pandangannya kepada RIA Novosti. Ia berpendapat bahwa upaya Amerika Serikat untuk mengalihkan lalu lintas melalui jalur selatan yang melewati Oman justru memicu eskalasi. Teheran menginginkan kapal-kapal untuk tetap transit melalui jalur yang berada di wilayah Iran. Pandangan ini mencerminkan perbedaan perspektif antara kedua negara mengenai pengelolaan Selat Hormuz.

Evolusi Situasi Geopolitik

Pada malam sebelum tanggal 18 Juni, kedua negara berhasil menandatangani memorandum. Dokumen tersebut bertujuan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari. Namun, situasi berubah setelah tanggal 8 Juli ketika pasukan AS memulai serangkaian serangan terhadap Iran. CENTCOM mengklaim bahwa serangan-serangan tersebut merupakan bentuk balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai respons, pasukan Iran menyerang pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.

Pada tanggal 12 Juli, Iran mengumumkan keputusan untuk menutup Selat Hormuz. Penutupan ini berlaku hingga berakhirnya campur tangan Amerika Serikat di kawasan tersebut. Keputusan ini menyusul gelombang serangan udara yang terjadi antara kedua belah pihak. Sehari setelah pengumuman tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan berperan sebagai penjaga Selat Hormuz. Selain itu, Trump juga memberlakukan kembali blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan di Iran.

Klaim CENTCOM tentang bantuan kepada 1 000 kapal ini menjadi indikator penting dalam menilai efektivitas operasi keamanan maritim di kawasan. Dengan jumlah kapal yang begitu besar, CENTCOM menunjukkan kapasitas operasional mereka dalam menangani situasi kompleks di Selat Hormuz. Hal ini juga relevan dengan pernyataan CENTCOM klaim bantu 1 000 kapal yang menjadi fokus perhatian dunia internasional. Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Leave a Comment