Humaniora

Hari Aksara, Mendikdasmen ajak masyakarat hidupkan lagi Bulan Literasi

1000256076

September sebagai Panggung Aksi: Pemerintah Dorong Penghidupan Bulan Literasi di Seluruh Nusantara

Beritaturah.com – Tanggal 8 September bukan sekadar catatan di kalender internasional. Bagi jutaan warga Indonesia yang selama bertahun-tahun bergantung pada akses terbatas terhadap bahan bacaan, momentum peringatan Hari Aksara Internasional membawa pesan yang jauh lebih konkret: literasi bukan lagi hak istimewa segelintir kelompok, melainkan fondasi yang harus dihidupkan secara kolektif setiap bulan September. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan hal tersebut saat membuka rangkaian peringatan secara daring melalui kanal YouTube Kemendikdasmen, Selasa, dari Jakarta Pusat.

Mu’ti menyerukan agar masyarakat tidak memperlakukan peringatan tahunan ini sebagai seremoni sesaat. Ia mendorong pengaktifan kembali “Bulan Literasi” melalui kegiatan nyata yang tersebar di berbagai daerah dan komunitas, sehingga dampak literasi tidak berhenti pada satu hari perayaan lalu padam.

Tema Tahunan dan Akar Internasionalnya

Peringatan Hari Aksara Internasional tahun ini mengusung tema “Literasi untuk Sesama, Semesta dan Sejahtera.” Rumusan tersebut merupakan adaptasi langsung dari tema Hari Literasi Internasional yang ditetapkan UNESCO, yakni “Literacy for The People, The Planet and Prosperity.” Pemilihan tema ini menempatkan literasi bukan hanya sebagai keterampilan membaca dan menulis, tetapi sebagai instrumen kepedulian sosial, keberlanjutan lingkungan, dan pemerataan kesejahteraan.

Perlu dicatat bahwa peringatan tahun ini menandai 60 tahun sejak Hari Aksara Internasional pertama kali diperingati. Dekade demi dekade, gerakan literasi global telah berevolusi dari sekadar kampanye anti-buta huruf menjadi kerangka kerja multidimensi yang mencakup literasi digital, literasi finansial, dan literasi lingkungan. Konteks inilah yang membuat seruan pemerintah Indonesia untuk menghidupkan Bulan Literasi terasa semakin relevan dan mendesak.

Bentuk Nyata Bulan Literasi: Dari Kelas ke Komunitas

Mu’ti menjelaskan bahwa penghidupan Bulan Literasi tidak menuntut infrastruktur mahal atau program berskala nasional yang rigid. Sebaliknya, kegiatan yang dimaksud bersifat sederhana, dirancang agar dekat dengan persoalan riil masyarakat setempat, menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna, serta melibatkan warga belajar, keluarga, dan komunitas secara langsung. Pendekatan ini selaras dengan filosofi pendidikan nonformal yang telah lama diemban oleh lembaga-lembaga pendidikan masyarakat di Indonesia.

Di tengah percepatan digitalisasi dan meluasnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), Mu’ti mengingatkan agar masyarakat tidak sekadar menjadi penerima pasif arus informasi. Ia mengajak setiap individu untuk membaca secara lebih kritis—menelaah, mempertanyakan, dan memverifikasi setiap informasi yang diterima—sebelum menyebarkannya kembali. Dalam lanskap media sosial yang kerap menyulitkan pembedaan antara fakta dan narasi, kemampuan literasi kritis menjadi benteng pertama warga terhadap disinformasi.

Garda Terdepan: PKBM, SKB, dan Jaringan Komunitas

Pada kesempatan yang sama, Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada para pegiat literasi yang beroperasi di tingkat akar rumput. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Taman Bacaan Masyarakat, Forum Asosiasi PNFI, serta berbagai komunitas literasi lokal disebut sebagai garda terdepan yang telah membawa akses literasi hingga ke wilayah pelosok. Mereka bekerja dengan keterbatasan sumber daya yang nyata, namun tetap konsisten menghadirkan ruang belajar bagi masyarakat yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan formal.

Kehadiran jaringan ini menjadi pengingat bahwa literasi di Indonesia tidak hanya hidup di ruang kelas sekolah atau perpustakaan kota besar. Di desa-desa terpencil, di pesisir, di pedalaman, para fasilitator komunitas menjalankan fungsi yang setara dengan apa yang dilakukan oleh institusi pendidikan formal—hanya saja dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan kontekstual.

Perspektif Kebijakan: Dari Simbol ke Perubahan Nyata

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, memberikan penekanan berbeda namun saling melengkapi. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan gerakan penguatan literasi tidak diukur dari kemeriahan acara peringatan, melainkan dari perubahan konkret dalam kehidupan masyarakat yang dihasilkannya.

“Mari jadikan September 2026 sebagai momentum, dari membaca menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli, dari peduli menjadi bergerak, dan dari gerakan itulah lahir kesejahteraan.”

Muttaqin menambahkan bahwa peringatan 60 tahun Hari Aksara Internasional harus menjadi fondasi agar semakin banyak manusia Indonesia mampu membaca dunia, memahami dinamika zaman, dan menulis masa depannya sendiri. Pernyataan ini menempatkan literasi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai prasyarat bagi partisipasi penuh warga dalam pembangunan.

Konsep 3S sebagai Kerangka Aksi

Penguatan literasi yang diusung Kemendikdasmen bertumpu pada konsep 3S—Semesta, Sesama, dan Sejahtera. Ketiga pilar ini membentuk kerangka yang mengaitkan tanggung jawab ekologis, solidaritas sosial, dan aspirasi ekonomi dalam satu narasi koheren. Bagi pemerintah, konsep ini bukan label tematik semata, melainkan kompas operasional untuk merancang program pendidikan nonformal, pelatihan komunitas, dan kebijakan akses informasi di tingkat daerah.

“Literasi untuk Semesta, Sesama, dan Sejahtera, bukan sekedar tema. Ini adalah gerakan kita, tanggung jawab kita, dan ikhtiar kita untuk Indonesia yang lebih berdaya dan sejahtera.”

Dengan demikian, September 2026 diposisikan bukan sebagai titik akhir sebuah kampanye, melainkan sebagai gerbang menuju siklus tahunan penghidupan literasi yang berkelanjutan. Tantangannya jelas: mengubah niat menjadi praktik, mengubah seremoni menjadi kebiasaan, dan mengubah akses informasi menjadi daya saing manusia Indonesia di panggung global.

Frequently Asked Questions

What is Hari Aksara Mendikdasmen ajak masyakarat hidupkan?

Hari Aksara Mendikdasmen ajak masyakarat hidupkan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Hari Aksara Mendikdasmen ajak masyakarat hidupkan matter?

Hari Aksara Mendikdasmen ajak masyakarat hidupkan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *