Bisnis

Ekonom: RI perlu dorong BRICS investasi di proyek energi terbarukan

KTT-Ke-18-BRICS-Di-India-110926-as-2

Indonesia Didorong Membawa Agenda Investasi Energi Bersih ke KTT BRICS 2026

Beritaturah.com – Ekonom – Indonesia memiliki peluang untuk menjadikan KTT BRICS 2026 sebagai ruang diplomasi ekonomi bagi percepatan investasi energi baru dan terbarukan. Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di New Delhi, India, pada 12-13 September 2026 itu dapat dimanfaatkan untuk mengundang pembiayaan dan kemitraan industri dari sesama anggota BRICS.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira memandang agenda energi bersih perlu ditempatkan sebagai salah satu prioritas Indonesia. Fokusnya bukan sekadar mencari pendanaan proyek, melainkan membangun skema investasi yang ikut memperkuat kemampuan industri dalam negeri.

Peran New Development Bank

Salah satu langkah yang dapat diperjuangkan Indonesia ialah mengajak New Development Bank (NDB) terlibat langsung dalam proyek energi terbarukan nasional. NDB merupakan bank pembangunan yang dibentuk negara-negara BRICS dan dapat menjadi saluran kerja sama pembiayaan lintas negara anggota.

Bhima menekankan bahwa bentuk dukungan yang dibutuhkan Indonesia sebaiknya berupa penyertaan modal atau penanaman saham, bukan tambahan utang. Skema tersebut dinilai dapat memberi dasar yang lebih sehat bagi proyek-proyek energi bersih yang membutuhkan investasi awal dalam skala besar.

“Indonesia perlu membawa agenda kerja sama bank pembangunan BRICS atau New Development Bank untuk memberikan penanaman saham, bukan utang, ke proyek energi terbarukan,” ujar Bhima.

Perbedaan antara investasi ekuitas dan pembiayaan berbasis utang penting bagi arah pengembangan proyek. Penyertaan modal menempatkan investor sebagai pihak yang ikut menanggung risiko dan hasil usaha, sedangkan utang menciptakan kewajiban pembayaran yang tetap harus dipenuhi. Dalam proyek infrastruktur energi, pilihan sumber pendanaan dapat memengaruhi beban keuangan dan keberlanjutan pembangunan jangka panjang.

Peluang dari Proyek PLTS 100 GW

Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya menjadi salah satu contoh agenda konkret yang dapat dibawa Indonesia. Tahap pertama proyek PLTS berkapasitas 100 gigawatt atau GW dapat diperkenalkan kepada mitra BRICS sebagai peluang kerja sama investasi. Dari kapasitas tersebut, sekitar 17 GW dinilai berpotensi dikerjasamakan bersama NDB.

Skala 100 GW menunjukkan besarnya kebutuhan pembiayaan, teknologi, peralatan, dan kesiapan jaringan kelistrikan untuk menopang pengembangan tenaga surya. Karena itu, kerja sama internasional tidak hanya relevan untuk membangun pembangkit, tetapi juga untuk memperluas ekosistem pendukungnya.

Energi surya memerlukan panel, komponen kelistrikan, sistem pengelolaan daya, serta penyimpanan energi agar pasokan listrik dapat dikelola dengan lebih baik. Kehadiran investor pada rantai industri tersebut dapat memberi nilai tambah lebih luas dibanding pembiayaan pembangkit semata.

China dan Industri Komponen Dalam Negeri

China dapat menjadi mitra penting dalam agenda ini karena memiliki keahlian pada teknologi komponen panel surya dan baterai. Kolaborasi dengan China serta NDB dapat diarahkan untuk memperkuat industri domestik yang memproduksi kebutuhan utama bagi pengembangan PLTS.

“Di dalamnya (BRICS) ada China yang punya keahlian teknologi komponen panel surya dan baterai, maka ajak China dan NDB berinvestasi di industri komponen domestik panel surya,” ujarnya.

Pendekatan tersebut membuka ruang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi energi bersih. Pengembangan industri komponen di dalam negeri dapat membantu memperdalam rantai pasok, mendukung kebutuhan proyek energi terbarukan, dan memperluas keterkaitan antara investasi asing dengan kegiatan ekonomi nasional.

Kerja sama teknologi juga menjadi isu penting karena transisi energi membutuhkan kemampuan manufaktur dan penguasaan peralatan yang terus berkembang. Panel surya serta baterai merupakan bagian utama dari sistem energi terbarukan yang dapat membantu menghasilkan dan menyimpan listrik.

Prekursor Baterai dalam Hilirisasi Nikel

Selain panel surya, Bhima melihat peluang pada industri menengah atau midstream dalam rantai hilirisasi nikel. Area yang dimaksud adalah produksi prekursor baterai, yaitu bahan antara yang digunakan dalam proses pembuatan baterai. Produk ini dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan penyimpanan energi bagi pembangkit berbasis sumber terbarukan.

“Opsi lain adalah memperbesar investasi di mid-stream industry dari hilirisasi nikel yakni precursor baterai untuk storage pembangkit energi terbarukan,” kata Bhima.

Sistem penyimpanan energi memiliki fungsi penting dalam pengembangan energi bersih. Produksi listrik dari sumber seperti matahari dapat berubah mengikuti kondisi waktu dan cuaca, sehingga penyimpanan membantu mengelola energi yang tersedia untuk digunakan pada waktu yang diperlukan. Karena itu, investasi pada bahan dan teknologi baterai dapat berjalan seiring dengan pembangunan pembangkit terbarukan.

Hubungan antara hilirisasi nikel, prekursor baterai, dan penyimpanan energi memberi Indonesia peluang untuk mengaitkan sektor sumber daya dengan agenda energi rendah karbon. Namun, arah tersebut memerlukan investasi yang selaras dari tahap bahan antara hingga pemanfaatan akhir dalam sistem penyimpanan listrik.

Energi sebagai Titik Temu BRICS

Sektor energi dinilai berpotensi menjadi agenda yang menyatukan kepentingan negara-negara BRICS. Hampir seluruh anggota kelompok ini memiliki kebutuhan untuk mengembangkan pasokan energi, memperkuat industri, dan meningkatkan ketahanan ekonomi. Kesamaan kepentingan tersebut dapat menjadi dasar bagi kerja sama investasi, teknologi, serta pengembangan kapasitas produksi.

BRICS saat ini mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Iran, Ethiopia, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Sebagai kelompok negara berkembang dengan peran besar dalam perekonomian global, forum ini dapat memberi Indonesia ruang untuk mengusulkan proyek yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan.

Keberhasilan agenda tersebut akan bergantung pada kemampuan Indonesia menyiapkan proyek yang jelas, kebutuhan investasi yang terukur, serta bentuk kemitraan yang memberikan manfaat bagi pengembangan industri nasional. KTT di New Delhi dapat menjadi kesempatan untuk membawa pembicaraan energi dari tingkat komitmen umum menuju peluang investasi yang lebih konkret.

Frequently Asked Questions

What is Ekonom?

Ekonom is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ekonom matter?

Ekonom matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *