Program Genting Dorong Perbaikan Hunian Keluarga Berisiko Stunting di Ciamis
Beritaturah.com – Perbaikan rumah dan sanitasi menjadi bagian penting dari upaya pencegahan stunting yang dijalankan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting atau Genting. Pendekatan ini menempatkan kondisi tempat tinggal keluarga sebagai perhatian utama, bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, meninjau langsung keluarga berisiko stunting di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada Selasa. Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi keluarga tidak terbatas pada ketersediaan makanan, melainkan juga berkaitan dengan air bersih, kamar mandi, sanitasi, serta kelayakan bangunan rumah.
“Kenapa risiko stunting? Mulai dari MCK-nya, mulai dari sanitasinya, mulai dari rumah layaknya yang mungkin, mohon maaf, mungkin belum layak,” kata Wihaji.
Perhatian terhadap lingkungan hunian penting karena keluarga membutuhkan ruang tinggal yang aman dan bersih untuk mendukung tumbuh kembang anak. Ketersediaan MCK yang layak, akses air yang baik, dan penataan kamar di rumah menjadi kebutuhan dasar yang ikut menentukan kualitas kehidupan sehari-hari keluarga.
Intervensi untuk keluarga dengan kondisi hunian terbatas
Salah satu keluarga yang didatangi Wihaji terdiri atas sembilan anggota keluarga dengan sembilan anak. Keluarga itu masuk dalam kelompok keluarga risiko stunting yang perlu memperoleh dukungan segera, terutama karena kondisi rumah dan fasilitas sanitasinya memerlukan pembenahan.
Secara nasional, tercatat sekitar 8,6 juta keluarga risiko stunting di Indonesia. Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan pendampingan yang tidak dapat ditangani oleh pemerintah saja. Program Genting dirancang untuk mempertemukan keluarga yang memerlukan bantuan dengan orang tua asuh dari berbagai unsur masyarakat dan dunia usaha.
Dalam penanganan keluarga di Ciamis, Bank Rakyat Indonesia atau BRI mengambil peran sebagai orang tua asuh. Dukungan senilai Rp50 juta dialokasikan untuk membenahi tempat tinggal keluarga. Bantuan tidak diserahkan dalam bentuk uang tunai, melainkan diwujudkan melalui pekerjaan pembangunan dan perbaikan rumah secara langsung.
“Kita pastikan supaya MCK-nya dibangun, rumahnya nanti kita perbaiki, airnya juga oke, dan kamarnya juga,” ujar Wihaji.
Pembenahan tersebut mencakup pembangunan MCK, peningkatan kualitas rumah, penyediaan air yang lebih memadai, serta perhatian terhadap kondisi kamar. Tim BRI akan menangani proses pembangunan dan perbaikan, dengan target penyelesaian sekitar tiga bulan.
Model bantuan berupa pengerjaan langsung dimaksudkan agar dukungan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan yang ditemukan di lapangan. Dengan demikian, keluarga dapat merasakan perubahan kondisi tempat tinggal secara nyata, bukan sekadar menerima bantuan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan paling mendesak.
Dua keluarga mendapat bantuan
Dalam agenda kunjungannya, Wihaji mendatangi dua keluarga risiko stunting. Keluarga pertama adalah Nahdi Riyanto yang memiliki dua anak. Rumah keluarga tersebut belum mempunyai MCK serta sarana sanitasi yang memadai. Keluarga kedua ialah Endang Kuswara, yang beranggotakan sembilan orang dan tinggal bersama dalam satu rumah. Kepadatan hunian itu dinilai dapat menambah risiko stunting.
Selain pembenahan rumah, Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat menyerahkan bantuan 10 ekor ayam kepada masing-masing keluarga risiko stunting yang dikunjungi. Bantuan tersebut diarahkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi, khususnya protein, bagi anggota keluarga.
Pemberian ayam memiliki nilai praktis bagi keluarga karena kebutuhan protein merupakan salah satu unsur yang perlu diperhatikan dalam pola makan. Namun, dukungan nutrisi tetap perlu berjalan seiring dengan perbaikan kebersihan lingkungan, akses sanitasi, serta pendampingan keluarga agar penanganan risiko stunting dapat dilakukan secara menyeluruh.
“Hari ini dua yang kita kunjungi dan kita bantu, dan itu bagian dari pemerintah hadir,” katanya.
Kolaborasi lintas pihak
Wihaji menegaskan bahwa penanganan keluarga risiko stunting memerlukan keterlibatan banyak pihak melalui pendekatan pentahelix. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, serta pendamping keluarga memiliki peran yang saling melengkapi untuk menemukan masalah dan menghadirkan solusi yang sesuai di tingkat keluarga.
Kehadiran Tim Pendamping Keluarga menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Sebelum mengunjungi keluarga penerima bantuan, Wihaji bertemu dengan sekitar 1.000 anggota Tim Pendamping Keluarga di Ciamis. Para pendamping berada dekat dengan keluarga dan dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Pelibatan perusahaan seperti BRI juga menunjukkan bahwa pencegahan stunting dapat didukung melalui kerja sama yang terarah. Ketika bantuan difokuskan pada kebutuhan jelas seperti perbaikan rumah, sanitasi, air, kamar, dan sumber protein, intervensi dapat lebih mudah dirasakan oleh keluarga penerima manfaat.
“Ini bagian dari pemerintah hadir karena saya diperintah Pak Presiden agar tidak hanya seminar dan diskusi, tetapi turun ke lapangan untuk menyelesaikan masalah,” paparnya.
Penanganan stunting pada akhirnya membutuhkan perhatian terhadap kehidupan keluarga secara utuh. Anak memerlukan asupan yang cukup, tetapi keluarga juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka menjaga kebersihan, menyiapkan makanan, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih layak. Melalui Genting, perbaikan hunian di Ciamis menjadi salah satu contoh intervensi yang menghubungkan kebutuhan dasar keluarga dengan upaya mencegah risiko stunting.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kemendukbangga benahi rumah keluarga risiko stunting?
Kemendukbangga benahi rumah keluarga risiko stunting is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kemendukbangga benahi rumah keluarga risiko stunting matter?
Kemendukbangga benahi rumah keluarga risiko stunting matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

