Metro

Pendekatan perlindungan Pantura disebut tak cuma andalkan tanggul laut

1000342523

Perlindungan Pantura Dirancang dengan Kombinasi Infrastruktur dan Solusi Alam

Beritaturah.com – Kawasan Pantai Utara Jawa memerlukan perlindungan pesisir yang tidak semata-mata bertumpu pada pembangunan tanggul laut raksasa. Tantangan di wilayah ini dinilai berlapis, mulai dari kenaikan muka air laut dan penurunan permukaan tanah hingga kebutuhan warga yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada kawasan pesisir.

Deputi 1 Bidang Pengelolaan Wilayah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Benni Aguscandra, menyampaikan bahwa Giant Sea Wall atau GSW merupakan salah satu pilihan dalam skema perlindungan Pantura, tetapi bukan satu-satunya jawaban untuk seluruh bentang pantai.

Setiap area memiliki karakter, tingkat kerentanan, serta kebutuhan penanganan yang berbeda. Karena itu, perencanaan juga membuka ruang bagi penggunaan tanggul pantai dan pendekatan berbasis alam. Salah satu pilihan yang dipertimbangkan ialah perpaduan vegetasi mangrove dengan pemecah gelombang atau break water.

Desain perlindungan mengikuti kondisi tiap kawasan

Pendekatan yang beragam diperlukan karena persoalan pesisir tidak selalu sama dari satu lokasi ke lokasi lain. Struktur fisik dapat berperan dalam mengurangi paparan gelombang dan air laut, sementara unsur alami seperti mangrove dapat menjadi bagian penting dari perlindungan kawasan yang sesuai dengan kondisi lingkungannya.

Untuk Teluk Jakarta, salah satu segmen perlindungan yang direncanakan mencakup wilayah dari Sungai Ciliwung sampai Sungai Cikarang Bekasi Laut atau CBL di Bekasi. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa penyusunan sistem pengamanan pesisir perlu melihat hubungan antarwilayah, bukan hanya memusatkan perhatian pada satu titik pantai.

Pantura merupakan ruang yang menampung permukiman, jaringan infrastruktur, serta beragam kegiatan ekonomi. Kondisi itu membuat perencanaan perlindungan tidak dapat dipisahkan dari cara masyarakat menggunakan dan menghidupi kawasan pesisir. Infrastruktur yang dibangun perlu ditempatkan dalam rancangan yang memperhatikan fungsi lingkungan dan aktivitas warga.

“Amanat Presiden jelas, masyarakat pesisir menjadi salah satu perhatian utama. Karena itu, yang dibangun bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga bagaimana aspek sosial, ekonomi, dan livelihood masyarakat tetap terintegrasi di dalam perencanaannya,” tutur Benni.

Masyarakat pesisir menjadi bagian dari perencanaan

Perlindungan pantai tidak berhenti pada pekerjaan konstruksi. Warga yang tinggal dan bekerja di dekat laut perlu diperhitungkan sejak tahap penyusunan kebijakan. Hal ini mencakup dampak terhadap kegiatan ekonomi, akses harian, serta keberlanjutan mata pencaharian yang telah tumbuh di kawasan tersebut.

Benni menekankan bahwa kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah perlu diantisipasi secara serius di Pantura. Dua persoalan tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap kawasan rendah di pesisir. Dalam wilayah yang juga menjadi pusat aktivitas ekonomi dan permukiman, kebutuhan akan sistem perlindungan yang menyeluruh menjadi semakin penting.

Rencana perlindungan Pantura berada dalam kerangka kebijakan nasional. Arahnya tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN 2025–2029, serta Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2025 mengenai Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa.

Kerangka tersebut menempatkan perlindungan pesisir sebagai pekerjaan lintas aspek. Pembangunan fisik perlu berjalan bersama pengelolaan dampak sosial, penguatan kegiatan ekonomi warga, dan perhatian terhadap kondisi ekologi. Dengan demikian, hasil perencanaan tidak hanya dinilai dari keberadaan bangunan pengaman pantai, melainkan juga dari kemampuannya mendukung kehidupan di sekitarnya.

Masalah dari hulu hingga Teluk Jakarta

Tim Ahli Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Universitas Diponegoro, Denny Nugroho Sugianto, menilai persoalan pesisir harus ditangani melalui pandangan yang mencakup alur dari hulu sampai hilir. Penurunan muka tanah, sedimentasi, sampah, dan kemungkinan pencemaran yang terbawa daerah aliran sungai menuju Teluk Jakarta merupakan unsur yang perlu diperhatikan secara bersama-sama.

Pendekatan ini penting karena kondisi pantai tidak berdiri sendiri. Material dan limbah yang bergerak melalui sungai dapat memengaruhi kawasan muara serta perairan teluk. Sedimentasi juga dapat berkaitan dengan akses warga terhadap perairan dan kapal, sehingga persoalan lingkungan dapat berhubungan langsung dengan kegiatan ekonomi masyarakat pesisir.

Kebutuhan nelayan termasuk bagian penting dalam penyusunan kebijakan. Akses untuk melaut, ketersediaan bahan bakar, jalur menuju kapal, dampak sedimentasi, serta kesinambungan sumber penghidupan warga perlu diperhitungkan. Rancangan perlindungan yang mengabaikan kebutuhan tersebut berisiko tidak sepenuhnya menjawab realitas di lapangan.

“Tujuannya, agar perlindungan pesisir tidak hanya kuat secara infrastruktur, tetapi juga mampu berjalan selaras dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat yang sudah tumbuh di kawasan tersebut,” pungkas Denny.

Perlindungan Pantura pada akhirnya membutuhkan keseimbangan antara ketahanan infrastruktur, pemulihan dan pemanfaatan unsur alam, serta perlindungan terhadap aktivitas masyarakat. Kombinasi langkah tersebut diharapkan dapat menghasilkan kawasan pesisir yang lebih siap menghadapi tekanan lingkungan tanpa mengesampingkan warga yang menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat tinggal dan sumber penghidupan.

Frequently Asked Questions

What is Pendekatan perlindungan Pantura disebut tak cuma?

Pendekatan perlindungan Pantura disebut tak cuma is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pendekatan perlindungan Pantura disebut tak cuma matter?

Pendekatan perlindungan Pantura disebut tak cuma matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *