Latest Program: BGN Minta SPPG Hindari Masak Mi Tanpa Juru Masak Berpengalaman untuk Cegah Keracunan
Latest Program – Jakarta – Nanik Sudaryati Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), menegaskan pentingnya keterlibatan juru masak berpengalaman dalam pengolahan makanan untuk mencegah risiko keracunan pangan. Surat edaran yang dikeluarkan BGN telah disampaikan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna memastikan menu mie tidak diproses secara sembarangan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kejadian penyakit makanan yang menimpa 147 anak di Jakarta Timur beberapa waktu lalu, yang terbukti berawal dari bahan makanan seperti bakmie Djawa, ayam suwir, pangsit tahu kukus, tauge rebus, timun, tomat, jamur krispi, dan semangka.
Insiden Makanan Berawal dari Kekurangan Pengawasan
Menurut Nanik, inspeksi yang dilakukan Minggu (10/5) mengungkapkan kelemahan dalam proses pengolahan makanan. “Saya menyidik dapur MBG yang menjadi sumber gangguan pencernaan pada 147 anak, di mana 33 di antaranya harus dirawat,” jelas Nanik melalui posting Instagram @nanik_deyang dan @sidakbgn, Selasa. Ia menambahkan bahwa semua anak yang sakit telah pulih pada Senin (11/5) lalu, namun insiden tersebut memperlihatkan kebutuhan untuk memperkuat pengawasan kualitas makanan dalam rangka mendukung Latest Program yang berfokus pada pencegahan risiko pangan.
“Karena mi sering menjadi penyebab keluhan pencernaan, BGN pusat memerintahkan SPPG agar tidak memasak mie tanpa chef yang terlatih dalam teknik memasak,” tutur Nanik. Ia menekankan bahwa proses pengolahan yang tidak tepat bisa membuat makanan lebih mudah membusuk, terutama bahan yang mengandung air tinggi seperti mi basah atau mi kuning segar.
Pengawasan dan Standarisasi Proses Pengolahan Makanan
Nanik menjelaskan bahwa BGN telah melakukan sosialisasi ke kepala regional dan koordinator wilayah untuk memastikan semua pihak memahami standar kualitas makanan. “Kami telah mengatur protokol khusus dalam Latest Program, termasuk pengecekan suhu penyimpanan, teknik memasak, dan penggunaan bahan baku yang higienis,” tambahnya. Dalam beberapa bulan terakhir, tercatat 10 Kejadian Luar Biasa (KLB) gangguan pencernaan di MBG Jakarta, dengan tujuh dari jumlah tersebut disebabkan oleh menu mi.
Karena mi membutuhkan pengolahan yang tepat, BGN mengimbau SPPG untuk menghindari masak mi tanpa pengawasan langsung dari juru masak. “Selama 1,5 tahun pelaksanaan MBG, kami terus mengawasi proses pengolahan makanan untuk meminimalkan risiko keracunan,” kata Nanik. Langkah ini bertujuan meningkatkan kepercayaan publik terhadap program pangan yang disediakan, terutama dalam konteks Latest Program yang fokus pada keselamatan konsumen.
Konsekuensi dan Tindak Lanjut Setelah Insiden
Sebagai tindak lanjut, BGN melakukan evaluasi terhadap seluruh dapur MBG di berbagai wilayah. “Kami menemukan kesenjangan dalam kepatuhan terhadap pedoman Latest Program,” ujar Nanik. Hal ini memicu perubahan sistem pengawasan, termasuk penggunaan alat ukur suhu, pelatihan staf, dan pemeriksaan rutin terhadap bahan baku. “Tidak hanya menu mi, spaghetti juga pernah menjadi penyebab gangguan pencernaan di tempat yang sama, sebulan sebelumnya,” tambahnya.
Dalam upaya mencegah ulang, BGN menekankan bahwa makanan harus diproses sesuai standar yang ketat. “Kami tidak hanya fokus pada menu, tapi juga pada cara penyajian dan distribusi makanan dalam Latest Program,” jelas Nanik. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut mengingatkan pentingnya konsistensi dalam setiap langkah pengolahan, mulai dari penyimpanan hingga penyajian akhir.
Peran Jurur Masak dalam Memastikan Kualitas
Keterlibatan juru masak berpengalaman dianggap sebagai faktor kunci dalam mengurangi risiko keracunan. Nanik menyoroti peran mereka dalam mengendalikan kualitas bahan, teknik memasak, dan pengaturan suhu penyimpanan. “Juru masak diwajibkan memeriksa setiap langkah pengolahan makanan untuk memastikan tidak ada cacat,” katanya. Selain itu, BGN memberikan bimbingan teknis agar SPPG memahami bahaya penggunaan bahan yang tidak terkontrol.
Sebagai bagian dari Latest Program, BGN juga berencana mengintegrasikan sistem pelaporan kejadian pangan secara real-time. “Langkah ini akan membantu kami mengidentifikasi masalah lebih cepat dan mengambil tindakan pencegahan sebelumnya,” kata Nanik. Dengan adanya tindakan preventif seperti ini, diharapkan insiden serupa dapat dihindari di masa depan.
