Finansial

New Policy: Ekonom nilai rupiah tembus Rp17.500 dipicu tekanan global dan domestik

New Policy Berdampak pada Rupiah Tembus Rp17.500

New Policy – Dalam wawancara terbaru, Josua Pardede, ekonom utama Permata Bank, mengatakan bahwa New Policy menjadi faktor penting dalam menurunkan nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp17.500 per dolar AS. Kebijakan tersebut memperkuat tekanan dari luar dan dalam negeri yang telah mengarah pada pelemahan mata uang lokal. Pada saat ini, investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di aset rupiah, terutama karena dampak dari New Policy yang masih terasa di berbagai sektor ekonomi.

Pengaruh Faktor Global

Pelemahan nilai rupiah, menurut Josua, tidak terlepas dari perubahan dinamika pasar global yang dipengaruhi New Policy. Lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama. New Policy yang diterapkan dalam konteks tersebut memberi tekanan tambahan pada inflasi dan biaya impor, terutama bagi Indonesia yang mengandalkan impor energi. Kenaikan harga minyak berpotensi memperburuk beban anggaran pemerintah dan mengurangi daya tarik investasi asing.

“New Policy berdampak signifikan terhadap aliran dana ke pasar modal, karena investor menilai risiko ekonomi global lebih tinggi dibanding sebelumnya,” terang Josua.

Kondisi pasar global yang tidak stabil, seperti volatilitas harga komoditas dan perubahan kebijakan moneter, mempercepat tekanan pada rupiah. New Policy yang mencakup reformasi kebijakan fiskal dan moneter memperkuat posisi ini, karena beberapa langkah kebijakan jangka pendek dianggap kurang efektif dalam mengatasi tekanan eksternal. Dengan demikian, New Policy berperan sebagai penyebab langsung dalam menggerakkan pergerakan nilai tukar rupiah.

Proses Perubahan dalam Kondisi Domestik

Dari sisi dalam negeri, New Policy juga memicu perubahan dalam sikap investor terhadap aset rupiah. Penundaan pengumuman MSCI Index Review Mei 2026 menjadi momen kritis, karena kebijakan tersebut memengaruhi persepsi pasar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. New Policy yang diumumkan beberapa waktu lalu memperkuat kriteria evaluasi yang lebih ketat terhadap konsentrasi kepemilikan saham (HSC), sehingga beberapa saham besar berpotensi mengalami perubahan bobot.

“New Policy menambah ketidakpastian bagi investor, terutama dalam menilai kinerja pasar modal. Kondisi ini mengakibatkan penurunan minat investasi asing,” ujarnya.

Di samping itu, penurunan prospek peringkat kredit oleh Moody’s dan Fitch pada awal tahun juga memengaruhi sikap investor. New Policy yang diterapkan di tengah situasi ini diperkirakan akan berdampak pada kepercayaan pasar terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Kebijakan tersebut mengubah perspektif investor, sehingga mengurangi minat mereka terhadap aset rupiah sebagai instrumen investasi.

Stabilitas Ekonomi dan Peluang New Policy

Josua menegaskan bahwa meskipun rupiah mengalami pelemahan, kondisi ekonomi Indonesia tetap lebih kuat dibanding masa krisis moneter 1997-1998. New Policy memberikan ruang untuk stabilisasi, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Pemerintah dan Bank Indonesia terus mengawasi kebijakan tersebut untuk memastikan dampaknya tidak terlalu berat bagi sektor riil.

“New Policy tidak hanya memicu tekanan sementara, tetapi juga menjadi alat untuk mengarahkan reformasi struktural ekonomi. Ini memperkuat keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang,” tambah Josua.

Kebijakan New Policy menekankan pengendalian anggaran pemerintah dan peningkatan efisiensi produksi dalam negeri. Dengan fokus pada peningkatan daya saing ekonomi, New Policy diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat nilai tukar rupiah secara bertahap. Namun, terdapat tantangan dalam menerapkan kebijakan ini secara konsisten, terutama dalam menghadapi tekanan dari sektor global.

Proyeksi Suku Bunga dan New Policy

Di sisi kebijakan moneter, New Policy memengaruhi proyeksi penurunan suku bunga acuan. Josua menilai bahwa ruang untuk menurunkan suku bunga semakin sempit, karena tekanan dari luar terus berlanjut. New Policy yang menekankan stabilitas nilai tukar memaksa Bank Indonesia tetap mempertahankan kebijakan moneter yang konservatif, meski ada kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“New Policy menunjukkan konsistensi dalam menjaga nilai rupiah, meski mengorbankan sedikit ruang untuk relaksasi suku bunga,” jelas Josua.

Terlepas dari tekanan global, New Policy juga menghasilkan efek positif dalam menstabilkan inflasi dan memperkuat cadangan devisa. Ekonomi Indonesia yang memiliki fondasi yang lebih solid dibanding negara lain, memungkinkan New Policy berdampak lebih baik dalam jangka panjang. Dengan adanya kebijakan ini, rupiah diperkirakan akan menunjukkan perbaikan stabil setelah krisis sementara berlalu.

Analisis dan Langkah Selanjutnya

Josua memperkirakan bahwa New Policy akan menjadi titik balik dalam perjalanan penstabilan rupiah. Meski beberapa faktor eksternal tidak bisa diubah sepenuhnya, kebijakan internal yang disusun oleh pemerintah dan Bank Indonesia memberikan kemungkinan untuk memperbaiki kinerja ekonomi. Pemimpin ekonomi ini menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah dan lembaga keuangan untuk memastikan New Policy berdampak optimal.

“New Policy memerlukan evaluasi terus-menerus, karena dampaknya bisa berubah tergantung pada kondisi eksternal dan domestik,” kata Josua.

Dalam menilai dampak New Policy, Josua juga memperhatikan indikator ekonomi lain seperti pertumbuhan ekspor dan kebijakan subsidi. Penguatan sektor ekspor diharapkan bisa mengimbangi tekanan impor, sementara kebijakan subsidi yang lebih efisien akan memberikan perlindungan bagi sektor produktif. New Policy yang diimplementasikan secara bertahap dianggap mampu mengarahkan ekonomi Indonesia ke jalur yang lebih sehat, meski masih membutuhkan waktu untuk terlihat hasilnya secara signifikan.

Leave a Comment