Trump tuturkan kisah panjang hubungan AS-China di hadapan Xi Jinping
Key Discussion – Dalam pertemuan diplomatik di Balai Besar Rakyat, Beijing, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap perjalanan hubungan antara rakyat Amerika Serikat dan Tiongkok. Dia menyebutkan bahwa hubungan ini dimulai sejak awal berdirinya negara-negara Amerika, dengan contoh sejarah seperti kedatangan Konsul Amerika pertama, Samuel Shaw, melalui kapal dagang pada tahun 1784.
Sejarah dan Penghormatan Silang
Kata-kata Trump diiringi oleh sorak-sorai dari pengunjung yang hadir, menandai kembali pertemuan yang memperkuat hubungan bilateral. Sebelumnya, Xi Jinping dan Trump telah terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk upacara kenegaraan, pertemuan satu-satu, serta kunjungan ke Kuil Langit.
“Konsul Amerika pertama untuk China, Samuel Shaw, tiba dengan kapal dagang AS yang mencapai pesisir pada 1784. Para pedagang China punya sebutan bagi orang-orang Amerika yaitu ‘orang-orang baru’.”
Menurut Trump, selama dua setengah abad berikutnya, hubungan ini berkembang menjadi salah satu ikatan yang paling signifikan dalam sejarah dunia. “Sejak awal, warga kedua negara telah memiliki rasa saling menghormati,” tambahnya. Contoh nyata, kata Trump, adalah Benjamin Franklin, salah satu Bapak Pendiri Amerika, yang pernah menulis kata-kata bijak Konfusius dalam surat kabarnya. Sampai hari ini, patung filsuf besar Tiongkok itu terukir di bagian depan gedung Mahkamah Agung AS.
“Salah satu Bapak Pendiri Amerika, Benjamin Franklin, menerbitkan kata-kata bijak Konfusius di surat kabarnya dan hingga hari ini, patung filsuf besar China kuno itu terukir pada bagian muka gedung Mahkamah Agung AS, dan kami sangat bangga akan hal itu.”
Trump juga menyebutkan pengagum George Washington dari Tiongkok memberikan prasati batu untuk menghormatinya. Prasati tersebut ditempatkan sebagai penghias Monumen Washington. “Prasati itu memuat kata-kata seorang pejabat China yang menyebut jenderal besar dan negarawan tersebut sebagai pahlawan di antara manusia,” tambah Trump.
Dalam masa berabad-abad, rasa saling menghargai antara kedua negara tumbuh menjadi hubungan yang mencerminkan bakat dan potensi luar biasa rakyat kedua belah pihak. “Para pekerja Tiongkok turut membantu membangun jalur kereta yang menghubungkan pesisir Atlantik Amerika dengan pesisir Pasifik,” kata Trump. “Sementara para pelancong Amerika ke Tiongkok turut menyebarkan literasi dan pengobatan modern. Atas permintaan duta besar Tiongkok, Presiden Theodore Roosevelt menyediakan dana untuk mendirikan almamater Presiden Xi, Universitas Tsinghua.”
“Para pekerja China turut membantu membangun jalur kereta yang menghubungkan pesisir Atlantik Amerika dengan pesisir Pasifik. Para pelancong Amerika ke China turut membantu menyebarkan literasi dan pengobatan modern dan atas permintaan duta besar China, Presiden Theodore Roosevelt menyediakan dana untuk mendirikan almamater Presiden Xi, Universitas Tsinghua.”
Sebagai sekutu dalam Perang Dunia II, Trump mengingat Presiden Franklin Roosevelt yang pernah menyoroti keberanian rakyat Tiongkok. “Pernyataannya itu kemudian disambut sorak-sorai dan semua orang menyukai apa yang ia sampaikan,” ujarnya. Trump menambahkan bahwa saat ini, rakyat Tiongkok juga menyukai olahraga basket dan pakaian celana jin, sementara jumlah restoran Tiongkok di Amerika lebih banyak daripada gabungan lima jaringan makanan cepat saji terbesar.
“Memang seperti itulah mereka. Pernyataannya itu kemudian disambut sorak-sorai dan semua orang menyukai apa yang ia sampaikan. Sama seperti banyak orang China kini menyukai bola basket dan celana jin, restoran China di Amerika saat ini jumlahnya lebih banyak dibanding gabungan lima jaringan makanan cepat saji terbesar di AS, itu jumlah yang besar.”
Trump menegaskan bahwa ikatan perdagangan dan penghormatan selama 250 tahun menjadi fondasi untuk masa depan yang menguntungkan kedua negara. “Rakyat Amerika dan rakyat China memiliki banyak kesamaan. Kita menghargai kerja keras. Kita menghargai keberanian dan pencapaian. Kita mencintai keluarga kita, dan kita mencintai negara kita,” tutur Trump.
Dalam kesimpulannya, Trump mengundang Xi Jinping dan Peng Liyuan untuk menghadiri acara di Gedung Putih pada 24 September. “Kami menantikan kunjungan tersebut,” tutupnya. Ia juga memuji sambutan yang diberikan oleh Xi Jinping sebagai “sangat luar biasa dan ramah,” yang menurut Trump tidak pernah diterima sebelumnya.
“Sambutan itu benar-benar luar biasa, tidak seperti yang lain, dan saya juga berterima kasih karena ia telah menerima kami dengan begitu ramah dalam kunjungan kenegaraan yang sangat bersejarah ini.”
