Topics Covered: Karya Foto M Adimaja Hadirkan Esensi Kerukunan Agama di Palestina
Topics Covered menjadi topik utama dalam perayaan pameran fotografi “Ursyalim” yang dihadiri oleh Dubes Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari. Pameran ini, yang digelar di ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta Pusat, memperlihatkan keharmonisan antaragama yang menjadi fondasi kehidupan sosial di Palestina melalui karya jurnalis ANTARA, Muhammad Adimaja. Dalam pidatonya, Alsattari menekankan bahwa kerukunan beragama terus dipupuk di tengah dinamika politik dan budaya yang kompleks.
Pameran Fotografi “Ursyalim” dan Makna Keharmonisan Agama
Pameran “Ursyalim” membawa pengunjung menyaksikan perpaduan kehidupan beragama yang diwujudkan dalam fotografi yang tajam dan penuh makna. Abdalfatah Alsattari mengungkapkan bahwa di Palestina, masyarakat berbagi kehidupan sosial seperti satu keluarga, terlepas dari perbedaan keyakinan. “Kerukunan agama adalah bentuk integrasi yang mengakar dalam struktur birokrasi dan budaya,” katanya, menambahkan bahwa keharmonisan ini tidak hanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam ritual yang dijaga bersama.
Di Palestina, kami hidup bersama seperti satu keluarga besar, sama halnya dengan masyarakat Indonesia.
Profesionalisme dan Konteks Sejarah dalam Karya Adimaja
Muhammad Adimaja, sebagai fotografer yang turut menggambarkan kisah kerukunan, menekankan bahwa karya-karyanya mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Buku foto “Ursyalim” ini mengumpulkan sekitar 100 karya yang dipilih dari liputan langsung Adimaja pada Februari 2026. Foto-foto tersebut bukan hanya dokumentasi visual, tetapi juga menyampaikan pesan tentang peran tempat suci dalam memperkuat toleransi dan kebersamaan. Misalnya, Masjid Al-Aqsa dan Gereja Kelahiran di Kota Bethlehem dianggap sebagai simbol yang menggambarkan keharmonisan lintas agama.
Dubes Palestina juga menyoroti kolaborasi antara media dan lembaga keagamaan dalam memperkuat kesadaran masyarakat. Ia menjelaskan bahwa keberagaman agama di Palestina tetap terjaga karena pemahaman bersama tentang nilai-nilai keberagaman. “Kita harus menunjukkan bahwa kerukunan tidak hanya sekadar keadaan, tapi juga prinsip yang hidup dalam setiap aspek kehidupan,” tambah Alsattari, yang menilai pameran ini sebagai langkah strategis untuk memperkenalkan Palestina kepada dunia.
Peran Tempat Suci dalam Memperkuat Harmoni Sosial
Pameran ini menampilkan Tembok Ratapan, tempat ritual penting bagi umat Yahudi, yang tetap terawat meski di tengah tantangan geopolitik. Adimaja menyebutkan bahwa fotografi adalah alat untuk menyampaikan esensi keharmonisan yang ada di sana, baik melalui kehadiran diplomat Kristen maupun perempuan yang menjabat sebagai menteri luar negeri Palestina. “Setiap foto ini berbicara tentang kebersamaan, keadilan, dan kepercayaan yang kita bangun bersama,” katanya.
Kerukunan agama di Palestina, menurut Dubes, adalah hasil dari kesadaran kolektif masyarakat bahwa tempat suci bersama merupakan warisan yang harus dijaga. Dengan memperlihatkan keharmonisan ini, pameran “Ursyalim” diharapkan menjadi wadah untuk menumbuhkan pemahaman antaragama yang lebih dalam, terutama di tengah masyarakat Indonesia yang semakin terbuka terhadap isu keberagaman.
Perayaan dan Aktivitas Terkait Pameran
Pameran “Ursyalim” terbuka untuk umum dari 22 Mei hingga 29 Mei 2026, dengan pengunjung bisa mendapatkan buku foto melalui pemindaian kode batang Dompet Dhuafa di lokasi. Dubes Palestina juga menyatakan keberharapan bahwa kegiatan ini mampu memperkaya wawasan masyarakat Indonesia tentang kerukunan beragama di Yerusalem, yang menjadi fokus utama dari karya Adimaja. “Kami ingin menghadirkan cerita yang tidak hanya visual, tetapi juga bermakna untuk menginspirasi masyarakat,” tuturnya.
Dalam rangkaian kegiatan, Adimaja juga akan mengadakan diskusi tentang karyanya dalam acara Diskusi Taman Langit di ANTARA Heritage Center, Jakarta, pada Jumat (29/5) pukul 19.00 WIB. Diskusi ini diharapkan menjadi kesempatan untuk mendalamkan pembelajaran tentang budaya dan perspektif Palestina, khususnya dalam konteks kehidupan beragama yang harmonis. “Kerukunan agama adalah kunci untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan,” kata Adimaja, yang menekankan bahwa fotografi menjadi jembatan antara budaya dan kepercayaan.
Topics Covered dalam karya ini juga mencakup sejarah kehidupan sosial Palestina yang telah melalui berbagai fase. Adimaja menjelaskan bahwa foto-foto dalam “Ursyalim” bukan hanya dokumentasi kekinian, tetapi juga menggambarkan perjalanan panjang dalam membangun harmoni lintas agama. Dengan menghadirkan Tembok Ratapan, Masjid Al-Aqsa, dan Gereja Kelahiran, pameran ini mengakar pada nilai-nilai kesatuan yang menjadi esensi dari kehidupan beragama di Palestina.
Sebagai bagian dari penekanan Topics Covered, pameran ini menjadi ajang untuk menampilkan keragaman agama sebagai kekuatan, bukan hambatan. Alsattari menegaskan bahwa keberagaman di Palestina dijaga melalui upaya bersama, seperti peran duta besar Kristen di Ghana atau perempuan yang menjabat sebagai menteri luar negeri. “Ini menunjukkan bahwa kerukunan agama adalah konsep yang hidup dan terus berkembang,” katanya, menutup pidato dengan harapan bahwa pameran ini akan membangun kesadaran keagamaan yang lebih baik di kalangan masyarakat Indonesia.
