Key Issue: WMO: Suhu global dekati rekor tertinggi hingga 2030
Key Issue: Menurut laporan terkini Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu bumi diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai rekor tertinggi dalam lima tahun ke depan. Prediksi ini menegaskan bahwa pemanasan global tidak hanya terjadi secara bertahap, tetapi juga mengalami percepatan yang berpotensi mengubah pola iklim di seluruh dunia. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa suhu tahunan global antara 2026 hingga 2030 akan naik antara 1,3 hingga 1,9°C dibandingkan dengan level suhu rata-rata pra-industri. Kenaikan ini memperkuat peringatan bahwa dampak perubahan iklim semakin nyata, dan tidak dapat dihindari dalam skenario terburuk.
El Niño dan Fenomena Iklim Lainnya
Kenaikan suhu global juga dipengaruhi oleh fenomena alami seperti El Niño, yang menunjukkan kenaikan suhu laut di Samudra Pasifik tengah dan timur. Laporan WMO menyoroti bahwa El Niño berpotensi mempercepat terbentuknya rekor suhu baru pada 2027. Dalam skenario ini, kemungkinan terbesar adalah setidaknya satu tahun dalam rentang 2026-2030 akan melebihi kenaikan 1,5°C dari level pra-industri. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi iklim lokal, tetapi juga memiliki dampak global yang signifikan, termasuk meningkatkan frekuensi badai tropis, kemarau, dan kabut asap.
“Suhu di London pada Selasa mencapai 35,1°C—rekor hari terpanas di Inggris sepanjang Mei,” tulis laporan BBC.
Key Issue tentang pemanasan global menjadi semakin kritis karena mengingatkan bahwa suhu bumi tidak hanya meningkat, tetapi juga mengikuti pola yang dapat menyebabkan efek domino. Misalnya, kenaikan suhu yang terjadi hampir 1,5°C pada 2024 telah menyebabkan hilangnya es di kawasan Arktik, mengurangi volume air laut, dan memengaruhi ekosistem yang rentan. Laporan ini menyatakan bahwa meskipun pelanggaran ambang batas 1,5°C dalam satu tahun tidak menghilangkan harapan mencapai target kebijakan global, hal tersebut menjadi indikasi bahwa kita berada di jalan yang tidak terkendali.
Perubahan Iklim di Kawasan Tropis dan Ekonomi Global
Key Issue ini tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga membahayakan kehidupan manusia. Wilayah tropis seperti Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Selatan menjadi daerah yang paling rentan terhadap cuaca ekstrem. Misalnya, kemarau panjang yang terjadi di Indonesia sepanjang 2023 telah mengganggu produksi pertanian dan mengakibatkan kekeringan di sejumlah provinsi. Di sisi lain, pemanasan global memengaruhi kemajuan ekonomi, terutama sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata. Kabut asap yang lebih tebal akibat pembakaran bahan bakar fosil menurunkan kualitas udara, memengaruhi kesehatan masyarakat, dan menurunkan produktivitas.
Para ilmuwan menyatakan bahwa kenaikan suhu global yang mencapai 1,5°C dalam waktu dekat menjadi titik kritis. Level ini diperkirakan memicu perubahan iklim yang ekstrem, seperti gelombang panas yang lebih kuat, banjir musiman yang tidak terduga, dan pergeseran distribusi hujan. Konsensus ilmiah menegaskan bahwa dampak ini tidak dapat dihindari jika tidak ada tindakan kolektif untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan adaptasi terhadap perubahan iklim. Laporan WMO yang disusun oleh Badan Meteorologi Inggris (Met Office) dengan menggabungkan data dari berbagai lembaga iklim internasional menunjukkan bahwa tahun 2024 merupakan tahap awal dari perubahan iklim yang lebih drastis
