IESR sebut strategi multijalur jadi kunci percepatan PLTS 100 GW
IESR Sebut Strategi Multijalur Jadi Kunci Percepatan PLTS 100 GW
Beritaturah.com – Jakarta — Institute for Essential Services Reform (IESR) menegaskan bahwa pencapaian target pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) memerlukan pendekatan komprehensif. Fabby Tumiwa, Chief Executive Officer IESR, menjelaskan bahwa IESR sebut strategi multijalur jadi kunci utama dalam mempercepat realisasi program energi terbarukan ini. Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta pada hari Minggu dengan penekanan pada pentingnya koordinasi antar-sektor.
Menurut Fabby, pendekatan multijalur sangat krusial agar program PLTS 100 GW dapat berjalan efektif. Strategi ini memungkinkan pemerintah untuk tidak bergantung sepenuhnya pada satu jenis skema proyek maupun satu sumber pendanaan saja. Dengan demikian, risiko kegagalan dapat diminimalkan dan efisiensi program dapat dioptimalkan secara maksimal.
Komponen Utama Strategi Multijalur
IESR menjelaskan bahwa pencapaian target ambisius tersebut memerlukan penggabungan beberapa inisiatif strategis. Mulai dari proyek berskala besar, PLTS atap, dedieselisasi, listrik desa, kegiatan ekonomi produktif, hingga penggantian bertahap pembangkit berbahan bakar fosil. Pembangunan infrastruktur energi tidak boleh hanya mengandalkan proyek PLTS skala besar yang termuat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Beberapa jalur implementasi yang dapat ditempuh meliputi percepatan pemasangan PLTS atap untuk rumah tangga, bangunan komersial, dan sektor industri. Program listrik desa juga perlu ditingkatkan kualitasnya melalui Koperasi Desa Merah Putih atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar mampu mendukung aktivitas ekonomi produktif masyarakat secara berkelanjutan.
"Selain itu perluasan program dedieselisasi melalui PLTS dan baterai, percepatan proyek PLTS skala besar dalam RUPTL, pemanfaatan PLTS sebagai penyuplai listrik fasilitas pendukung PLTU dan lain sebagainya," ujar Fabby Tumiwa.
Tantangan dan Target Tahun 2030
Pemerintah juga diminta membatalkan rencana pembangunan PLTU dan PLTG baru yang belum masuk tahap konstruksi. Langkah ini bertujuan untuk menurunkan faktor kapasitas pembangkit fosil yang sudah ada dan menggantinya dengan PLTS serta sistem baterai. Melalui pendekatan komprehensif ini, kapasitas kumulatif PLTS secara teknis diperkirakan dapat mencapai sekitar 80 GW pada tahun 2030.
Namun, IESR menekankan bahwa upaya tambahan masih diperlukan, khususnya dalam implementasi PLTS terdistribusi yang melibatkan berbagai pihak. Hal ini penting guna mencapai target 100 GW pada 2030 sesuai dengan visi energi nasional Indonesia.
"Di samping itu, implementasi tetap harus memperhatikan kesiapan sistem dan sumber daya manusia, perkembangan rantai pasok industri, keberlanjutan pembiayaan, dan kualitas proyek," katanya menambahkan.
Rekomendasi untuk Stakeholder
IESR merekomendasikan agar pemerintah pusat dan daerah bekerja sama dalam mengimplementasikan strategi multijalur ini. Kolaborasi antar-pemerintah daerah akan mempercepat distribusi PLTS ke berbagai wilayah. Selain itu, sektor swasta juga perlu dilibatkan untuk mendukung pembiayaan dan pengembangan teknologi energi terbarukan.
Pemerintah diharapkan dapat memberikan insentif yang menarik bagi investor yang tertarik berinvestasi di sektor PLTS. Insentif ini dapat berupa kemudahan perizinan, subsidi, atau skema pembiayaan yang lebih fleksibel. Dengan demikian, pertumbuhan PLTS dapat terjadi secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Strategi PLTS 100 GW
Apa itu strategi multijalur dalam konteks PLTS? Strategi multijalur adalah pendekatan yang menggabungkan berbagai skema proyek dan sumber pendanaan untuk mencapai target PLTS 100 GW secara lebih efektif dan efisien.
Berapa target PLTS yang ingin dicapai Indonesia? Indonesia menargetkan kapasitas PLTS sebesar 100 gigawatt (GW) pada tahun 2030 melalui berbagai inisiatif dan program energi terbarukan.
Apa saja komponen utama strategi multijalur? Komponen utamanya meliputi proyek PLTS skala besar, PLTS atap, dedieselisasi, listrik desa, kegiatan ekonomi produktif, dan penggantian pembangkit fosil.
Bagaimana peran BUMDes dalam strategi ini? BUMDes berperan dalam meningkatkan kualitas program listrik desa dan mendukung aktivitas ekonomi produktif masyarakat melalui pengelolaan PLTS lokal.
Apa tantangan utama dalam mencapai target 100 GW? Tantangan utama meliputi kesiapan sistem, sumber daya manusia, rantai pasok industri, keberlanjutan pembiayaan, dan kualitas proyek yang konsisten.