Kementan bantu Rp48,47 miliar untuk rehab sawah di Aceh Tamiang
Rehabilitasi 4.173 Hektare Sawah di Aceh Tamiang Didorong dengan Anggaran Rp48,47 Miliar
Beritaturah.com – Pemulihan lahan pertanian pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang mendapat dukungan anggaran APBN 2026 sebesar Rp48,47 miliar. Dana tersebut disiapkan Kementerian Pertanian untuk memperbaiki 4.173 hektare sawah dengan kategori kerusakan ringan hingga sedang, sehingga lahan kembali dapat digunakan oleh petani.
Program ini memiliki arti penting bagi masyarakat di wilayah terdampak karena sawah menjadi salah satu penopang penghidupan warga desa. Pemulihan tidak hanya mencakup pengembalian fungsi lahan, tetapi juga perbaikan infrastruktur pertanian yang dibutuhkan agar kegiatan budidaya dapat berjalan kembali secara normal.
Kerusakan Mencapai Lebih dari Separuh LP2B
Plt Kepala Dinas Pertanian Aceh Tamiang, Irwan Hadi, menyampaikan bahwa daerah tersebut mempunyai 8.161 hektare Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan atau LP2B. Dari total itu, bencana mengakibatkan kerusakan pada 4.173 hektare sawah.
Kerusakan ringan tercatat seluas 1.961 hektare, sedangkan lahan dengan kondisi rusak sedang mencapai 2.212 hektare. Penanganan dibagi menjadi beberapa tahap agar pemulihan fungsi pertanian dapat dipercepat sesuai tingkat kerusakan dan kesiapan pelaksanaan di lapangan.
“Rehabilitasi ini bersumber dari APBN 2026 dan dibagi dalam dua tahap pengerjaan untuk mempercepat pemulihan fungsi lahan pertanian,” kata Irwan Hadi.
Pembagian pekerjaan memungkinkan perhatian diberikan terlebih dahulu pada lahan yang lebih cepat dipulihkan. Sementara itu, sawah dengan kerusakan yang memerlukan penanganan lebih besar disiapkan melalui tahapan perencanaan dan pelaksanaan tersendiri.
Tahap Pertama Hampir Selesai
Pada tahap pertama, rehabilitasi diarahkan ke 1.961 hektare sawah yang mengalami kerusakan ringan. Anggaran yang dialokasikan untuk pekerjaan ini mencapai Rp18,62 miliar. Hingga kini, progres pengerjaan dilaporkan telah berada pada angka 90 persen.
Pencapaian tersebut membuka peluang bagi semakin banyak petani untuk kembali memanfaatkan lahan yang sebelumnya terganggu. Sawah yang pulih dapat membantu mengembalikan aktivitas pertanian warga secara bertahap, terutama pada kawasan yang selama ini menggantungkan kegiatan ekonomi keluarga pada hasil garapan.
“Tahap pertama, difokuskan pada penanganan sawah rusak ringan seluas 1.961 hektare dengan alokasi anggaran sebesar Rp18,62 miliar, di mana progres pengerjaannya saat ini telah mencapai 90 persen,” ujarnya.
Tahap berikutnya telah menuntaskan pekerjaan fisik pada 712 hektare sawah dengan kerusakan sedang. Penanganan di area tersebut menggunakan anggaran Rp9,6 miliar. Rampungnya pekerjaan pada tahap ini berarti bagian dari lahan terdampak telah melewati proses rehabilitasi dan siap kembali mendukung kegiatan pertanian.
Masih ada 1.500 hektare sawah rusak sedang yang masuk rencana penanganan lanjutan. Untuk area tersebut tersedia alokasi Rp20,2 miliar, namun pelaksanaannya belum dimulai karena masih berada dalam proses Daftar Rencana Pelaksanaan atau DTR.
Perbaikan Menjangkau 10 Kecamatan
Program pemulihan infrastruktur pertanian ini tersebar di 10 kecamatan di Aceh Tamiang. Wilayah yang menjadi sasaran meliputi Karang Baru, Manyak Payed, Rantau, Seruway, Bendahara, Sekerak, Tamiang Hulu, Bandar Pusaka, Tenggulun, dan Kejuruan Muda.
Jangkauan yang luas menunjukkan bahwa dampak bencana terhadap lahan pertanian tidak terbatas pada satu kawasan. Karena itu, pelaksanaan rehabilitasi secara bertahap menjadi penting agar penanganan dapat bergerak ke sejumlah kecamatan tanpa mengabaikan perbedaan kondisi sawah di tiap lokasi.
Bagi petani, kembalinya fungsi sawah berarti kesempatan untuk melanjutkan pengolahan lahan dan menjaga kesinambungan sumber pendapatan. Perbaikan yang tepat waktu juga dibutuhkan agar lahan tidak semakin sulit dimanfaatkan setelah mengalami kerusakan.
Warga Menyambut Pemulihan Lahan
Langkah percepatan rehabilitasi mendapat respons positif dari masyarakat. Datok Penghulu Paya Meta, Kecamatan Karang Baru, Sugianto, menilai perhatian pemerintah terhadap sawah warga sangat berarti bagi pemulihan ekonomi desa.
“Kami sangat mengapresiasi perhatian dan gerak cepat pemerintah memperbaiki lahan sawah warga, sehingga para petani bisa kembali menggarap lahan mereka dan memulihkan sumber penghidupan di kampung kami,” katanya.
Di wilayah Paya Meta sendiri, rehabilitasi telah selesai dilakukan pada 15 hektare sawah. Lahan tersebut kini sudah kembali digunakan oleh petani untuk kegiatan pertanian seperti sebelumnya.
“Saat ini, sawah yang telah dipulihkan tersebut sudah kembali aktif dan dimanfaatkan petani seperti sedia kala,” demikian Sugianto.
Rehabilitasi sawah di Aceh Tamiang menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali aktivitas pertanian setelah bencana. Dengan pekerjaan tahap pertama yang hampir selesai, tahap kedua yang telah tuntas, serta rencana lanjutan untuk 1.500 hektare lahan, pemulihan diharapkan terus memberi ruang bagi petani untuk kembali menggarap sawah dan menopang kehidupan keluarganya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kementan bantu Rp48 47 miliar?Kementan bantu Rp48 47 miliar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kementan bantu Rp48 47 miliar matter?Kementan bantu Rp48 47 miliar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.