Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pemkab Bekasi terapkan pertanian modern peralihan pola konvensional

Published Agustus 10, 2026 · Updated Agustus 10, 2026 · By Emily Miller - beritaturah.com

Foto : Emily Miller - beritaturah.com

Pemkab Bekasi Terapkan Pertanian Modern untuk Peralihan Pola Konvensional

Beritaturah.com – Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kini sedang melakukan transformasi signifikan dalam sektor pertanian melalui program modernisasi. Pemkab Bekasi terapkan pertanian modern sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi budidaya padi yang selama ini masih menggunakan metode konvensional. Program ini dikenal dengan nama PM-AAS atau Pertanian Modern-Advance Agriculture System yang mengintegrasikan teknologi terkini dengan praktik pertanian berkelanjutan.

Program PM-AAS memanfaatkan skema tanam benih langsung yang disebut Tabela, sebuah inovasi yang dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan benih dan meningkatkan hasil panen. Melalui pendekatan ini, petani tidak hanya belajar teknik penanaman baru, tetapi juga memahami pentingnya pengelolaan lahan yang terukur dan sistematis.

Implementasi Tahap Awal di Bojongmangu

Sebagai langkah permulaan, sistem tersebut telah diujicobakan pada areal seluas 4.000 meter persegi yang dikelola oleh Kelompok Tani Warudoyong I di Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Abdillah Majid, menyampaikan bahwa tahap ini merupakan bagian dari modernisasi budidaya padi yang akan diperluas ke wilayah lain.

Untuk uji coba sekaligus percontohan, sistem ini mulai diterapkan pada lahan seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I, Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu sebagai tahap awal modernisasi budidaya padi.

Implementasi di Bojongmangu dipilih karena merupakan wilayah pertanian yang representatif dengan kondisi lahan yang sesuai untuk demonstrasi teknologi. Petani setempat menunjukkan antusiasme tinggi terhadap program ini, mengingat potensi peningkatan hasil yang signifikan dibandingkan metode tradisional.

Inovasi dan Teknik Budidaya Modern

PM-AAS merupakan inovasi yang menggabungkan peran penyuluh dengan kelompok tani untuk meningkatkan efisiensi serta produktivitas usaha tani padi. Melalui pendekatan ini, para petani belajar melakukan budidaya yang lebih terukur, mencakup pengolahan lahan, pengecekan pH tanah, pemupukan sesuai dosis rekomendasi, hingga pengendalian gulma sebelum masa tanam.

Abdillah Majid menambahkan bahwa pada fase awal, program ini menggunakan varietas padi Inpari 33 dengan jumlah benih sekitar 15 kilogram. Target yang ingin dicapai adalah minimal empat ton gabah saat musim panen tiba, sebuah angka yang cukup ambisius untuk skala uji coba.

Pengelolaan Tanah dan Air yang Optimal

Ubuh Buhori, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bojongmangu, menjelaskan bahwa sebelum proses penanaman dimulai, tim penyuluh bersama petani melakukan pengujian tingkat keasaman tanah. Hasilnya menunjukkan pH sebesar 5,5, sehingga diperlukan aplikasi kapur dolomit sebanyak 500 hingga 1.000 kilogram per hektare untuk memperbaiki kondisi tanah.

Untuk lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi, diaplikasikan sekitar 500 kilogram dolomit dalam dua tahap yakni saat pengolahan tanah pertama dan tiga hari sebelum tanam. Selain itu, sehari sebelum penanaman dilakukan penyemprotan herbisida untuk mengendalikan gulma.

Selain itu, sistem ini juga mengubah kebiasaan petani dalam mengatur air. Setelah benih ditanam, lahan tidak boleh digenangi selama lima hari pertama guna mencegah pembusukan benih dan serangan penyakit. Pemantauan pertumbuhan tanaman kemudian dilanjutkan dengan pemberian pupuk pertama pada usia sekitar 10 hari sesuai rekomendasi teknis.

Target Produktivitas dan Masa Depan

Meskipun kebutuhan pupuk pada sistem PM-AAS lebih tinggi dibandingkan pola tanam konvensional karena jarak tanam yang lebih rapat, teknologi ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan. Pihaknya menargetkan hasil padi bisa mencapai 10 ton per hektare, jauh melampaui rata-rata saat ini yang masih berkisar lima ton per hektare.

Lahan di Bojongmangu sengaja dirancang sebagai demonstration plot atau demplot agar petani dapat melihat langsung perbedaan antara sistem tradisional dengan teknologi modern. Harapannya, setiap desa nantinya memiliki minimal dua hektare lahan demonstrasi sehingga semakin banyak petani yang terdorong meninggalkan pola konvensional dan beralih ke sistem pertanian modern.

Harapannya setiap desa nanti memiliki minimal dua hektare lahan demonstrasi sehingga semakin banyak petani yang terdorong meninggalkan pola konvensional dan beralih ke sistem pertanian modern.

Yusup Saepuloh, Ketua Kelompok Tani Warudoyong I, menyambut baik program ini sebagai langkah awal penting untuk mengubah cara bertani yang selama ini masih mengandalkan kebiasaan turun-temurun. Ia berharap program ini dapat menjadi model yang akan diadopsi oleh kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat.

Kami berharap hasil uji coba ini bisa menjadi acuan sebelum diterapkan lebih luas kepada seluruh anggota kelompok tani. Melalui penerapan teknologi, semoga hasil panen meningkat signifikan.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa itu PM-AAS? PM-AAS adalah singkatan dari Pertanian Modern-Advance Agriculture System, sebuah program modernisasi pertanian yang diterapkan oleh Pemkab Bekasi untuk meningkatkan produktivitas padi melalui teknik tanam benih langsung (Tabela).

Berapa luas lahan uji coba PM-AAS di Bojongmangu? Lahan uji coba PM-AAS di Bojongmangu memiliki luas 4.000 meter persegi dan dikelola oleh Kelompok Tani Warudoyong I di Desa Sukabungah.

Berapa target hasil panen dengan sistem PM-AAS? Target hasil panen dengan sistem PM-AAS adalah mencapai 10 ton per hektare, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata konvensional yang masih berkisar lima ton per hektare.

Apakah program PM-AAS sudah diterapkan di seluruh Kabupaten Bekasi? Saat ini program PM-AAS masih dalam tahap uji coba di Bojongmangu. Targetnya adalah setiap desa memiliki minimal dua hektare lahan demonstrasi sebelum diterapkan secara lebih luas.

Berapa kebutuhan kapur dolomit untuk lahan uji coba? Untuk lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi, diaplikasikan sekitar 500 kilogram dolomit dalam dua tahap, yakni saat pengolahan tanah pertama dan tiga hari sebelum tanam.

Related Reading