Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Perhutani dukung ketahanan energi lewat pembangunan pabrik biomassa

Published September 17, 2026 · Updated September 17, 2026 · By Jennifer Jackson - beritaturah.com

Foto : Jennifer Jackson - beritaturah.com

Perhutani Perkuat Peran Biomassa untuk Energi Masa Depan

Beritaturah.com – Perum Perhutani menyiapkan pengembangan biomassa sebagai salah satu langkah jangka panjang untuk mendukung ketahanan energi Indonesia. Upaya tersebut mencakup pembangunan tiga fasilitas pengolahan di Sukabumi, Jawa Barat; Rembang, Jawa Tengah; serta Brumbung, Jawa Tengah, disertai perluasan penanaman tanaman yang dapat menjadi bahan baku energi.

Direktur Operasi Perum Perhutani Wawan Tri Wibowo menyampaikan bahwa pembangunan fasilitas tersebut masih menjadi bagian dari arah pengembangan perusahaan ke depan. Kehadiran pabrik biomassa diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan sumber daya berbasis tanaman untuk kebutuhan energi baru terbarukan.

“Perhutani saat ini sedang mencoba membangun pabrik biomassa. Ada di Sukabumi, Rembang, dan Brumbung, ke depan. Untuk jangka panjang,” ujar Wawan.

Tiga Lokasi, Dua Jenis Produk

Fasilitas di Sukabumi dan Rembang direncanakan menghasilkan sawdust atau serbuk kayu. Produk ini dapat menjadi bahan baku dalam rantai pasok bioenergi dan pengolahan berbasis kayu. Sementara itu, pabrik di Brumbung diarahkan untuk memproduksi wood pellet atau pelet kayu, bahan bakar padat yang dibuat melalui pemadatan material biomassa.

Perbedaan produk tersebut menunjukkan bahwa pengembangan biomassa tidak hanya bergantung pada satu bentuk olahan. Serbuk kayu dan pelet kayu memiliki karakteristik penanganan, pengangkutan, serta penggunaan yang berbeda. Karena itu, kesiapan fasilitas pengolahan perlu berjalan seiring dengan kepastian pasokan bahan baku dan kebutuhan pengguna akhir.

Biomassa sendiri merujuk pada material organik yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Dalam konteks pengembangan energi terbarukan, bahan ini dapat berasal dari tanaman energi maupun hasil samping pengolahan kayu. Pengelolaan yang berkelanjutan menjadi unsur penting agar pemanfaatannya tidak mengganggu keseimbangan pasokan bahan baku.

Penanaman Lebih dari 11 Ribu Hektare

Selain membangun fasilitas produksi, Perhutani telah menanam tanaman biomassa di area seluas 11.158 hektare. Luasan itu terdiri atas 6.962 hektare tanaman gamal dan 4.196 hektare tanaman kaliandra.

Penanaman tersebut diposisikan sebagai dukungan terhadap transisi energi serta penyediaan bahan baku bioenergi dalam jangka panjang. Ketersediaan tanaman menjadi faktor mendasar, sebab pabrik pengolahan akan membutuhkan pasokan yang konsisten agar dapat beroperasi secara layak.

“Perhutani itu berkomitmen untuk mendukung energi baru terbarukan. Kami pernah menanam biomassa yang digunakan untuk energi ke depan, ini sudah 11 ribu hektare,” kata Wawan.

Gamal dan kaliandra dikenal sebagai tanaman yang dapat dimanfaatkan dalam sistem biomassa. Dalam pengembangan energi, penanaman perlu direncanakan secara hati-hati, termasuk pengaturan masa panen, lokasi budidaya, serta jalur distribusi menuju titik pengolahan atau pengguna energi.

Transportasi dan Regulasi Jadi Tantangan

Pengembangan biomassa menghadapi sejumlah persoalan yang tidak sederhana. Wawan menyoroti keberlanjutan bahan baku, kemudahan akses, biaya logistik, kelayakan usaha, dan dukungan regulasi sebagai aspek yang harus ditangani bersama.

Biaya angkut menjadi perhatian penting karena biomassa perlu dipindahkan dari area penanaman atau pengumpulan menuju pabrik dan pengguna akhir. Jika jalur distribusi terlalu jauh atau mahal, nilai ekonominya dapat berkurang. Karena itu, kedekatan antara sumber bahan baku, fasilitas pengolahan, dan pusat permintaan akan sangat menentukan.

Regulasi juga dinilai dapat menciptakan daya tarik yang lebih besar bagi penggunaan energi terbarukan. Insentif yang tepat berpotensi mendorong pelaku usaha dan masyarakat untuk mempertimbangkan biomassa sebagai bagian dari pilihan energi mereka.

“Tanpa dukungan regulasi, kelihatannya tidak memungkinkan. Insentif pajak, misalkan siapa yang menggunakan EBT dapat insentif pajak, itu mungkin akan menjadi menarik,” kata Wawan.

Dukungan kebijakan dapat membantu memperjelas kepastian investasi, memperkuat permintaan, dan meningkatkan daya saing biomassa terhadap sumber energi lain. Namun, insentif saja tidak cukup tanpa tata kelola pasokan yang baik serta perhitungan ekonomi yang realistis dari hulu hingga hilir.

Kebutuhan Biomassa Nasional Terus Bertumbuh

Pengembangan yang dilakukan Perhutani berlangsung ketika kebutuhan biomassa untuk sektor energi nasional terus mendapat perhatian. PT PLN Energi Primer Indonesia menargetkan penyerapan 10 juta ton biomassa pada 2030 untuk mendukung bioenergi sebagai salah satu pilar ketahanan energi nasional.

Target tersebut diproyeksikan menciptakan nilai ekonomi hampir Rp4 triliun sekaligus menekan emisi hingga 11 juta ton karbon ekuivalen. Angka itu menggambarkan besarnya skala rantai pasok yang perlu disiapkan, dari penanaman, pemanenan, pengolahan, pengangkutan, hingga pemanfaatan di pembangkit.

Pada 2025, penyerapan biomassa oleh PLN untuk kebutuhan pembangkit mencapai 2,35 juta ton. Di sisi lain, ekspor biomassa telah berada di kisaran 8,5 juta ton, sedangkan bagian lainnya dimanfaatkan oleh sektor industri.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar biomassa sudah ada, tetapi penguatan pemanfaatan domestik membutuhkan pasokan yang andal dan biaya yang kompetitif. Pembangunan pabrik di Sukabumi, Rembang, dan Brumbung serta penanaman ribuan hektare tanaman energi menjadi bagian dari upaya memperbesar kesiapan tersebut.

Bagi ketahanan energi, biomassa dapat menjadi pelengkap dalam bauran energi yang lebih beragam. Keberhasilannya akan bergantung pada kesinambungan bahan baku, efisiensi logistik, kesiapan industri, dan kebijakan yang memberi ruang bagi energi baru terbarukan untuk berkembang secara berkelanjutan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Perhutani dukung ketahanan energi lewat pembangunan?

Perhutani dukung ketahanan energi lewat pembangunan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Perhutani dukung ketahanan energi lewat pembangunan matter?

Perhutani dukung ketahanan energi lewat pembangunan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.