Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi rantai pasok dalam BRICS

Published September 15, 2026 · Updated September 15, 2026 · By Daniel Moore - beritaturah.com

Foto : Daniel Moore - beritaturah.com

China Dukung Penguatan Kolaborasi Rantai Pasok BRICS

Beritaturah.com – Pemerintah China menyatakan dukungan terhadap gagasan Indonesia untuk mempererat kerja sama rantai pasok di antara negara-negara BRICS. Dukungan itu disampaikan setelah Presiden Prabowo Subianto mengajak anggota kelompok tersebut membangun industrialisasi bersama dan memaksimalkan sumber daya maupun kapasitas yang dimiliki secara kolektif.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyampaikan bahwa Beijing melihat kerja sama teknologi, penyelarasan industri, dan penguatan kapasitas sebagai bagian penting dari arah pembangunan BRICS ke depan. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Beijing pada Senin.

“China akan memperkuat kerja sama teknologi dengan negara-negara BRICS, memperdalam penyelarasan industri, melaksanakan proyek-proyek peningkatan kapasitas, serta mewujudkan pembangunan yang lebih berkelanjutan dengan kualitas yang lebih tinggi dan ketahanan yang lebih kuat,” kata Guo Jiakun.

Usulan Indonesia di KTT BRICS

Gagasan mengenai penguatan kerja sama industri dan rantai pasok global disampaikan Presiden Prabowo dalam sesi kedua KTT BRICS ke-18 di New Delhi pada Minggu (13/9). Indonesia mendorong agar negara-negara BRICS tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi global secara sendiri-sendiri, tetapi juga menggabungkan kekuatan yang saling melengkapi.

Prabowo menekankan bahwa industrialisasi bersama dapat menjadi langkah konkret bagi negara-negara berkembang untuk memperluas pertumbuhan ekonomi, memperkuat basis produksi, dan meningkatkan posisi dalam rantai nilai dunia.

“Biarkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Biarkan kita industrialisasi bersama-sama dan biarkan kita mengoptimalkan sumber dan kapasitas yang kita tanggung bersama-sama,” ujar Prabowo.

Dalam pandangan Indonesia, kerja sama yang lebih terhubung dapat mempertemukan sumber daya alam, kemampuan manufaktur, teknologi, pembiayaan, serta pasar yang tersedia di berbagai negara anggota. Pola ini dipandang relevan ketika banyak negara di Global South menghadapi tantangan serupa, termasuk kebutuhan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan industri bernilai tambah.

Potensi Sumber Daya dan Teknologi

Indonesia membawa sejumlah modal yang dapat dikembangkan melalui kemitraan BRICS. Potensi tersebut mencakup mineral kritis, logam tanah jarang, sumber energi terbarukan, teknologi bersih, teknologi tinggi, serta kawasan hutan yang memiliki arti bagi agenda pembangunan masa depan.

Sumber daya itu memiliki nilai strategis karena transisi energi dan perkembangan teknologi global meningkatkan kebutuhan akan bahan baku, energi yang lebih bersih, serta kapasitas industri yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah. Namun, penguasaan sumber daya saja tidak cukup. Pengolahan, pengembangan teknologi, pembiayaan, dan akses pasar menjadi unsur yang menentukan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

Karena itu, ajakan Indonesia berfokus pada penggabungan kekuatan anggota BRICS. Kerja sama semacam ini dapat membuka ruang bagi investasi yang lebih besar, industri yang lebih kuat, serta kesempatan kerja baru. Pada saat yang sama, kolaborasi rantai pasok juga dapat meningkatkan ketahanan negara-negara berkembang terhadap gangguan perdagangan dan ketidakpastian ekonomi internasional.

Kerja Sama Industri Sudah Dikembangkan

China menilai BRICS telah cukup lama mengembangkan agenda industrialisasi. Guo Jiakun menyebut pembentukan Pusat Inovasi Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru dan Pusat Kompetensi Industri BRICS sebagai bagian dari langkah nyata yang telah dilakukan kelompok tersebut.

“Hal itu dibuktikan dengan pembentukan Pusat Inovasi Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru dan Pusat Kompetensi Industri BRICS serta ditandai dengan berbagai hasil nyata,” tambah Guo Jiakun.

Keberadaan forum dan pusat kerja sama tersebut menunjukkan bahwa BRICS tidak semata-mata menjadi wadah dialog politik. Kelompok ini juga berupaya membangun hubungan praktis di bidang industri, inovasi, peningkatan keterampilan, dan penguatan kapasitas ekonomi. Usulan Indonesia dapat memperluas fokus tersebut dengan memberi perhatian khusus pada keterhubungan pasokan bahan baku, produksi, teknologi, dan distribusi.

BRICS memiliki komposisi ekonomi yang beragam. Ada negara dengan kekuatan manufaktur besar, pemasok energi, pemilik sumber daya mineral, pasar konsumen yang luas, hingga negara yang tengah mempercepat pembangunan industrinya. Keragaman itu menjadi modal untuk membentuk kerja sama yang tidak hanya bertumpu pada perdagangan bahan mentah, melainkan juga pada pengembangan industri dan teknologi.

Empat Pilar KTT BRICS Ke-18

KTT BRICS ke-18 mengusung empat tema utama: ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Keempatnya mencerminkan kebutuhan negara anggota untuk merespons perubahan global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik yang dapat memengaruhi arus investasi, perdagangan, energi, serta ketersediaan barang penting.

Pertemuan tersebut dihadiri Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, serta Perdana Menteri India Narendra Modi.

Brasil diwakili Menteri Luar Negeri Mauro Vieira, sementara Arab Saudi mengirim Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud. Selain negara anggota, kerangka kemitraan BRICS juga mencakup Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam.

Saat ini BRICS beranggotakan 11 negara, yaitu Brasil, China, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Kelompok ini mewakili sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto global, serta 26 persen perdagangan global.

Besarnya skala tersebut membuat pembahasan tentang rantai pasok, industrialisasi, dan kerja sama teknologi memiliki dampak yang luas. Bagi Indonesia, penguatan agenda ini menjadi peluang untuk menempatkan sumber daya dan kapasitas nasional dalam jaringan ekonomi yang lebih besar, sambil tetap mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan bernilai tambah.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi?

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi matter?

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.