Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BI masih kedepankan stabilitas seiring tekanan global belum mereda

Published Agustus 19, 2026 · Updated Agustus 19, 2026 · By Jennifer Jackson - beritaturah.com

Foto : Jennifer Jackson - beritaturah.com

Bank Sentral Tegaskan Prioritas Stabilitas di Tengah Gejolak Global yang Masih Berlangsung

Keputusan RDG Agustus 2026: Suku Bunga Dipertahankan

Beritaturah.com – Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 18–19 Agustus 2026, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di angka 5,75 persen. Suku bunga deposit facility tetap berada di 4,75 persen, sementara lending facility dipertahankan pada 6,50 persen. Menurut otoritas moneter, langkah tersebut selaras dengan upaya memperkuat ketahanan nilai tukar rupiah terhadap gejolak global yang dipicu konflik di Timur Tengah, menjaga sasaran inflasi 2,5 plus minus 1 persen (rentang 1,5–3,5 persen) untuk tahun 2026 dan 2027, serta menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Stabilitas Rupiah dan Instrumen SRBI

Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa meski tingkat bunga acuan tidak diubah, bank sentral tetap aktif mengoperasikan instrumen lain guna menopang stabilitas mata uang.

"Walaupun suku bunga saat ini kami pertahankan, sudah dua bulan ini kita pertahankan di level yang sama 5,75 persen, tapi di satu sisi kita mengeluarkan suatu kebijakan ataupun instrumen-instrumen lainnya yang tujuannya adalah untuk bisa menjaga stabilitas dari rupiah."

Destry menambahkan bahwa BI telah mengeluarkan sejumlah insentif yang ditujukan untuk mendukung aliran modal masuk ke dalam negeri. Tujuannya agar yield Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tidak mengalami kenaikan.

"Karena tentunya kita tidak ingin SRBI rate kita ini mengalami peningkatan. Sehingga kalau kita lihat dalam dua minggu terakhir ini, suku bunga SRBI atau yield SRBI terus mengalami penurunan."

Sebelumnya, pada RDG Juli 2026, BI telah menaikkan insentif swap jual lindung nilai menjadi 12,5 persen dan menetapkan insentif DNDF (domestic non-deliverable forward) jual lindung nilai sebesar 15 persen.

"Apa yang kami lakukan adalah memberikan insentif untuk hedging cost, untuk dana asing yang masuk ke sini sehingga bisa mempertahankan spread yang menarik dan mereka akan masuk ke instrumen keuangan kita."

Aliran Modal Portofolio Asing

Hingga 14 Agustus 2026, aliran investasi portofolio asing pada triwulan III-2026 mencatat net inflows senilai 1,8 miliar dolar Amerika Serikat. Peningkatan tersebut ditopang oleh penerbitan global bond pemerintah serta masuknya dana ke Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI.

Pendorong Pertumbuhan melalui Kebijakan Likuiditas Makroprudensial

Selain menjaga stabilitas, BI juga memperkuat Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan ke sektor-sektor prioritas. Hingga minggu pertama Agustus 2026, total insentif KLM yang diterima bank mencapai Rp446,5 triliun. Rinciannya: Rp368,4 triliun dialokasikan melalui financing channel, Rp73,2 triliun melalui interest rate channel, dan Rp4,9 triliun melalui financing to funding channel.

Sebagai dampak positif, pertumbuhan kredit perbankan pada Juli 2026 tercatat 13,58 persen secara tahunan (yoy), naik dari 12,67 persen (yoy) pada Juni 2026.

Koordinasi Pengendalian Inflasi

Destry memastikan bahwa BI terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat maupun daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) dalam pelaksanaan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas rupiah sekaligus menekan dampak imported inflation.

"Jadi kolaborasi bersama. Dan kita juga mencoba supaya rupiah bisa stabil dan bisa dengan tren mengalami penguatan. Karena tentunya kita juga memperhatikan dampak rambatan dari imported inflation, yang ini tentu memang menjadi perhatian kami untuk bisa kita batasi dampaknya yaitu dengan kita mempertahankan stabilitas rupiah dan kita usahakan dengan tren yang terus mengalami apresiasi."

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is BI masih kedepankan stabilitas seiring tekanan?

BI masih kedepankan stabilitas seiring tekanan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BI masih kedepankan stabilitas seiring tekanan matter?

BI masih kedepankan stabilitas seiring tekanan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.