Direktur STB: Kelola pengeluaran kunci agar tak bergantung “paylater”
BNPL Melonjak, STB Tekankan Pentingnya Disiplin Pengeluaran
Beritaturah.com – Industri buy now pay later (BNPL) di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa baki debet BNPL perbankan mencapai Rp30,1 triliun pada Mei 2026. Angka ini merepresentasikan kenaikan sebesar 37,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan jumlah rekening mencapai 31,76 juta. Meskipun demikian, porsi ini masih tercatat sebesar 0,34 persen dari total kredit perbankan.
Sementara itu, sektor perusahaan pembiayaan juga mencatatkan kinerja positif. Pembiayaan BNPL di industri tersebut mencapai Rp13,18 triliun pada Mei 2026, tumbuh 53,78 persen secara tahunan. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) bruto tercatat sebesar 3,44 persen.
Pengeluaran sebagai Fondasi Keuangan Pribadi
Dalam konteks pertumbuhan layanan kredit konsumen ini, Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama (STB), Tae Yong Shim, menekankan bahwa pengelolaan pengeluaran merupakan faktor krusial. Masyarakat perlu memastikan agar tidak terlalu bergantung pada utang konsumtif, khususnya layanan paylater, untuk menutupi kebutuhan bulanan.
Shim menyampaikan pesan ini dalam acara Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta pada hari Jumat. Ia menjelaskan bahwa prinsip dasar perencanaan keuangan pribadi adalah menjaga keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran.
"Pertama-tama, dalam hal perencanaan keuangan, Anda harus memastikan bahwa pengeluaran Anda berada dalam batasan pendapatan Anda," kata Shim.
Menurutnya, utang tidak seharusnya menjadi solusi permanen untuk menutupi selisih antara pendapatan dan konsumsi bulanan. Apabila seseorang memilih untuk berutang, penggunaan dana tersebut sebaiknya diimbangi dengan pembentukan aset bernilai ekonomi yang mampu menghasilkan pendapatan.
"Jika Anda memutuskan untuk meminjam uang, harus ada aset yang sepadan dan aset tersebut harus menghasilkan pendapatan," ujarnya.
Simulasi dan Evaluasi Pos Pengeluaran
Shim menilai bahwa pengeluaran merupakan komponen keuangan yang lebih mudah dikendalikan oleh individu dibandingkan dengan pergerakan imbal hasil investasi. Oleh karena itu, ia menyarankan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai pos pengeluaran. Mulai dari tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, transportasi, makan, komunikasi, asuransi, hiburan, hingga pembayaran bunga pinjaman.
Materi yang dipaparkan dalam acara tersebut menyertakan simulasi dengan contoh pendapatan Rp20 juta per bulan dan pengeluaran Rp16 juta. Dari selisih Rp4 juta tersebut, masyarakat dapat mengalokasikannya untuk investasi bulanan.
Selain itu, Shim menekankan pentingnya menetapkan tujuan keuangan berdasarkan jangka waktu, yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang. Masyarakat perlu menyesuaikan pengeluaran serta investasi sesuai dengan kebutuhan pada setiap tahap kehidupan. Ia juga menyoroti pentingnya membangun aset produktif dan menjaga konsistensi investasi dalam jangka panjang.
Literasi Keuangan dan Saran untuk Generasi Muda
Kebutuhan akan peningkatan kecakapan mengelola keuangan tercermin dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025. Survei yang dilakukan OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS) ini mencatat indeks inklusi keuangan nasional sebesar 80,51 persen. Sementara itu, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 66,46 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa tingkat akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan masih lebih tinggi dibandingkan tingkat pemahamannya. Untuk mengatasi kesenjangan ini, Shim menyarankan generasi muda untuk mengenal berbagai instrumen keuangan secara bertahap. Mulai dari obligasi, saham, reksa dana, hingga produk proteksi, agar memahami karakteristik dan risikonya sebelum menempatkan dana dalam jumlah lebih besar.
"Karena di usia muda, trial and error, pelajaran yang dipetik menurut saya terkadang lebih berharga daripada hasil investasi itu sendiri," ucap Shim.
Pengalaman tersebut dapat membantu generasi muda menemukan instrumen yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi keuangan masing-masing. Ia menyebutkan bahwa seiring bertambahnya usia dan nilai aset, keputusan keuangan juga perlu diambil dengan pertimbangan yang semakin matang.
Shim menyimpulkan bahwa perencanaan keuangan tidak hanya terkait pemilihan instrumen investasi, tetapi juga mencakup disiplin mengelola pengeluaran, menggunakan utang secara terukur, membangun aset produktif, serta mempersiapkan kebutuhan keuangan dalam jangka panjang.
"Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda, tetapi prinsip dasarnya sama. Pahami kebutuhan, kendalikan pengeluaran, mulai berinvestasi sedini mungkin, dan siapkan proteksi. Dalam perencanaan keuangan, waktu adalah salah satu aset yang paling penting," ungkap Shim.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Direktur STB?Direktur STB is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Direktur STB matter?Direktur STB matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.