Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Historic Moment: MPLS Ramah terima respons positif orang tua, bantu murid beradaptasi

Published July 18, 2026 · Updated July 18, 2026 · By Emily Miller

MPLS Ramah: Langkah Historis Membuka Kepedulian Orang Tua dan Siswa

Historic Moment - Dalam konteks pendidikan yang semakin dinamis, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkenalkan program MPLS Ramah, yang menjadi Historic Moment dalam mengubah cara siswa baru beradaptasi dengan lingkungan belajar. Program ini tidak hanya memperkenalkan siswa kepada sekolah secara lebih menyenangkan, tetapi juga memberikan ruang bagi orang tua untuk terlibat aktif dalam mendukung proses sosialisasi anak. Pelaksanaan MPLS Ramah mencerminkan inisiatif pemerintah dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan humanis.

Pengenalan Siswa Baru yang Lebih Hemat Emosi

MPLS Ramah, atau Minggu Pertama Belajar Ramah, dirancang untuk mengurangi rasa canggung dan kecemasan siswa baru saat memasuki lingkungan sekolah. Dalam wawancara di Jakarta, Sabtu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa program ini merupakan Historic Moment dalam membangun budaya belajar yang lebih nyaman. "Kami ingin memastikan bahwa setiap anak merasa diterima sejak hari pertama, sehingga mereka bisa berkembang secara optimal tanpa rasa takut atau salah," ujarnya. Ini menjadi momen penting karena menggabungkan kesadaran akan kebutuhan psikologis siswa dengan kegiatan edukatif yang menarik.

Kegiatan Kreatif yang Membangun Konektivitas Sosial

Di SD Negeri 1 Binangga, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, program MPLS Ramah dianggap sebagai Historic Moment dalam memperkuat ikatan antara siswa, guru, dan orang tua. Imas Afriana, seorang orang tua murid, menyampaikan bahwa kegiatan seperti tur keliling sekolah dan ice breaking tidak hanya membantu anak mengenal lingkungan, tetapi juga membangun kepercayaan diri mereka. "Anak-anak lebih cepat merasa nyaman, bahkan bersemangat belajar karena suasana tidak kaku," katanya. Program ini menekankan bahwa proses adaptasi bukan hanya tentang pembelajaran akademik, tetapi juga pembentukan hubungan sosial yang sehat.

Salah satu kegiatan utama dalam MPLS Ramah adalah "Kenali Teman dan Guru", yang menjadi sarana untuk memperkenalkan siswa baru kepada sesama murid dan pengajar. Rijena, Kepala SD Negeri 1 Binangga, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menciptakan suasana yang hangat sebelum menghadapi pengajaran formal. "Kami ingin siswa merasa aman dan percaya diri, karena itu adalah Historic Moment yang mengubah cara belajar menjadi lebih menyenangkan," tambahnya. Di samping itu, sekolah juga mengadakan kegiatan seperti permainan kelompok dan dialog interaktif untuk memperkaya pengalaman siswa baru.

Respons Positif dari Berbagai Pihak

Program MPLS Ramah mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak, termasuk orang tua yang melihat perubahan sikap anak-anak. Kebanyakan orang tua merasa senang karena program ini memudahkan anak beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. "Saya melihat putri saya lebih aktif berbicara dengan teman-temannya dan tidak ragu mengajukan pertanyaan," kata Imas. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya terukur dari kuantitas kegiatan, tetapi juga dari kualitas respons siswa dan keluarga.

Rijena menambahkan bahwa Historic Moment ini juga memperkuat kolaborasi antara sekolah dan orang tua. "Kerja sama dari orang tua menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang harmonis," ujarnya. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan modern membutuhkan peran aktif dari semua pihak, bukan hanya pihak sekolah. Dengan adanya MPLS Ramah, proses adaptasi siswa baru tidak lagi menjadi beban tunggal, tetapi menjadi kolaborasi yang saling mendukung.

Keberhasilan program MPLS Ramah juga diukur dari peningkatan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Berbagai metode yang digunakan, seperti gamifikasi dan pembelajaran berbasis proyek, membantu anak-anak merasa lebih tertarik untuk mengikuti proses belajar. Dengan Historic Moment ini, Kemendikdasmen berharap bahwa pendidikan di Indonesia akan terus berkembang dengan pendekatan yang lebih humanis dan inklusif. Program ini juga menjadi model bagi sekolah-sekolah lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa.

Dalam jangka panjang, MPLS Ramah diharapkan mampu mengubah paradigma pendidikan dari sekadar transfer pengetahuan menjadi pengalaman belajar yang menyeluruh. Rijena menegaskan bahwa inisiatif ini akan menjadi dasar bagi program pendidikan masa depan. "Kami ingin anak-anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar berinteraksi, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan lingkungan sekaligus sesama teman," ujarnya. Dengan Historic Moment yang tercipta, pendidikan di Indonesia semakin dekat dengan visi membentuk generasi yang mandiri dan berkualitas.