Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kemenhut pastikan kendalikan kebakaran di TN Gunung Ciremai

Published September 12, 2026 · Updated September 12, 2026 · By Patricia Lopez - beritaturah.com

Foto : Patricia Lopez - beritaturah.com

Kemenhut Pastikan Kendalikan Kebakaran di TN Gunung Ciremai

Beritaturah.com – Kemenhut pastikan kendalikan kebakaran di TN Gunung Ciremai setelah penanganan intensif dilakukan selama tiga hari, dari 7 hingga 9 September 2026. Petugas telah memadamkan api dan melakukan pemeriksaan ulang di seluruh area terdampak untuk memastikan tidak ada titik api aktif yang tersisa di kawasan konservasi tersebut.

Penanganan kebakaran dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Lokasi yang terdampak meliputi Blok Simaung, Tegal Bodas, Cileutik, Jalan Maling Situmpuk, dan Panjakroma. Berdasarkan penyisiran terakhir pada 9 September 2026 pukul 15.51 WIB, api di seluruh lokasi itu dinyatakan padam.

Luas lahan yang terbakar dalam kejadian tersebut diperkirakan mencapai 46,42 hektare. Angka itu menambah total luasan kebakaran di kawasan Ciremai sejak 21 Juli hingga September 2026, yang telah mendekati 97,32 hektare. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kewaspadaan terhadap kebakaran hutan perlu terus diperkuat, terutama saat vegetasi mengering.

Asap Terdeteksi dari Blok Simaung

Informasi awal kebakaran diterima petugas pada 7 September 2026 sekitar pukul 12.05 WIB. Warga melaporkan adanya kepulan asap di sekitar Blok Simaung, Desa Singkup. Temuan tersebut kemudian diperkuat oleh pemantauan tim Patroli Udara Tanpa Awak (PUTA) dari Posko Dalkarhut SPTN Wilayah I Kuningan.

Tim lapangan segera bergerak untuk membatasi penyebaran api. Tantangan utama datang dari angin yang cukup kuat, serasah yang menumpuk, serta semak belukar kering di sekitar lokasi. Kombinasi kondisi itu membuat api lebih mudah menjalar dan berpotensi kembali menyala setelah terlihat mereda.

Pemadaman dilakukan dari darat menggunakan peralatan manual dan mekanik. Setelah nyala utama berkurang, petugas tidak langsung menghentikan operasi. Mereka melanjutkan penyisiran pada area rawan untuk menemukan bara api, sisa panas, maupun titik kecil yang dapat memicu kebakaran kembali.

“Api beberapa kali kembali menyala karena tiupan angin. Petugas terus melakukan pemadaman dan penyisiran hingga memastikan seluruh titik api benar-benar padam. Upaya ini penting untuk mencegah kebakaran meluas dan melindungi kawasan hutan konservasi,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai Toni Anwar.

Penyisiran Dilakukan untuk Mencegah Api Menyala Lagi

Kemenhut pastikan kendalikan kebakaran di TN Gunung Ciremai bukan hanya berdasarkan hilangnya api yang terlihat di permukaan. Pemeriksaan lanjutan diperlukan karena bara dapat bertahan di bawah daun kering, ranting, atau semak. Ketika angin kembali bertiup, bara tersebut berisiko memunculkan api baru.

Risiko itu membuat pemadaman kebakaran hutan membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Tim perlu memeriksa area yang telah dipadamkan secara berulang, terutama pada titik dengan bahan bakar vegetasi yang kering. Langkah ini penting untuk mengurangi kemungkinan api menjalar ke bagian lain dari taman nasional.

Gunung Ciremai merupakan kawasan konservasi dengan fungsi ekologis yang penting. Perlindungan kawasan tidak hanya berkaitan dengan tutupan hutan, tetapi juga dengan kelestarian ekosistem, keanekaragaman hayati, dan manfaat lingkungan bagi masyarakat di sekitar kawasan. Karena itu, pengendalian kebakaran menjadi bagian penting dari upaya menjaga fungsi hutan.

Peran Masyarakat dalam Pencegahan Kebakaran

Peristiwa kebakaran yang terjadi sejak Juli menunjukkan bahwa deteksi dini sangat menentukan. Laporan warga mengenai asap atau api dapat membantu petugas merespons sebelum kebakaran berkembang lebih luas. Kemenhut pastikan kendalikan kebakaran di TN Gunung Ciremai melalui kerja lapangan, tetapi pencegahan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.

Masyarakat di sekitar kawasan diimbau segera menyampaikan informasi kepada petugas apabila melihat kepulan asap, api, atau tanda lain yang mengarah pada kebakaran. Pelaporan dini memberi kesempatan bagi tim untuk melakukan pengecekan dan tindakan pengendalian secara lebih cepat.

Menjaga kawasan Gunung Ciremai juga berarti menghindari aktivitas yang dapat memicu api, terutama ketika kondisi vegetasi kering dan angin bertiup kuat. Kehati-hatian di sekitar hutan konservasi dapat membantu menekan risiko kebakaran serta mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.

FAQ Kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai

Kapan kebakaran di Gunung Ciremai terdeteksi?

Kebakaran terdeteksi pada 7 September 2026 sekitar pukul 12.05 WIB setelah warga melaporkan kepulan asap di sekitar Blok Simaung, Desa Singkup. Pemantauan PUTA juga melihat indikasi kebakaran dari wilayah tersebut.

Berapa luas area yang terbakar?

Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 46,42 hektare. Kejadian ini menambah luasan kebakaran di kawasan Ciremai sejak 21 Juli hingga September 2026 menjadi mendekati 97,32 hektare.

Apa yang perlu dilakukan jika melihat asap di kawasan hutan?

Segera laporkan kepada petugas atau pihak berwenang setempat. Informasi yang cepat mengenai lokasi asap atau api dapat membantu proses pengecekan dan pemadaman sebelum kebakaran meluas.

Related Reading