Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Issue: Menguatkan peran ayah dengan Pela Gandong

Published July 17, 2026 · Updated July 17, 2026 · By Daniel Moore

Menguatkan Peran Ayah dengan Pela Gandong

Key Issue—Di tengah rutinitas harian yang sering kali menyibukkan orang tua, peran ayah dalam pengasuhan anak sering kali terabaikan. Seorang anak SD, Khayla Zhakira, yang baru saja melangkah keluar dari pintu sekolah, menggambarkan momen kecil yang seharusnya menjadi simbol kehadiran ayah. Ia mengangkat tas yang cukup berat, sambil berjalan dengan langkah ringan, dengan tahu bahwa ayahnya akan mendengarkan cerita harinya setelah pulang. Bagi banyak anak, momen seperti ini adalah bagian dari kehidupan yang sederhana, namun bagi ayah yang aktif dalam keluarga, itu adalah penegasan bahwa peran mereka dalam pendidikan dan pengasuhan anak adalah penting. Dalam konteks Key Issue ini, Pela Gandong di Maluku menjadi landasan untuk memperkuat kehadiran ayah sebagai figur yang selalu mendampingi.

Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak

Dalam kehidupan keluarga, ayah tidak hanya bertindak sebagai penghasil penghasilan, tetapi juga sebagai pengasuh yang memberikan keamanan dan motivasi. Kehadiran ayah dalam aktivitas belajar, bermain, dan berkomunikasi adalah fondasi untuk membangun karakter anak yang kuat. Dalam ruang keluarga sederhana, nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian emosional dari ayah dapat menciptakan lingkungan yang harmonis. Fungsi ayah dalam Key Issue ini tidak bisa dipisahkan dari peran ibu, karena keduanya saling melengkapi dalam membentuk individu yang sehat secara psikologis dan sosial.

Menurut Dr. Edi Setiawan, Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Maluku, kehadiran ayah secara fisik dan emosional memiliki dampak besar pada perkembangan anak. “Anak membutuhkan figur ayah yang konsisten, karena keberadaannya membangun kepercayaan diri dan kemampuan beradaptasi di lingkungan sosial,” tambahnya. Nilai-nilai yang diterapkan oleh ayah dalam kehidupan sehari-hari, seperti kerja keras dan kejujuran, menjadi inspirasi bagi anak-anak dalam meraih tujuan hidup.

Falsafah Pela Gandong dalam Kehidupan Keluarga

Pela Gandong, yang merupakan bagian dari budaya lokal Maluku, tidak hanya menjadi ikatan antar negeri, tetapi juga memperkuat peran ayah dalam pengasuhan anak. Falsafah ini mengajarkan persaudaraan, gotong royong, dan kerja sama, yang menjadi pilar utama dalam kehidupan keluarga. Dalam praktiknya, Pela Gandong mendorong keluarga untuk melibatkan ayah dalam kegiatan sehari-hari, seperti membantu tugas rumah tangga atau berinteraksi langsung dengan anak.

Key Issue ini juga menggarisbawahi bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga perlu diimbangi oleh partisipasi aktif ayah. Dalam era modern, di mana peran ayah sering dianggap lebih bersifat ekonomi daripada emosional, Pela Gandong menjadi pengingat bahwa kehadiran ayah dalam proses pengasuhan adalah keharusan. Nilai kebersamaan dan kepercayaan ini dapat dipertahankan dengan kegiatan seperti mengajarkan keterampilan dasar, bermain, atau mendengarkan cerita anak.

Dalam masyarakat yang semakin dinamis, tantangan seperti kesibukan kerja, mobilitas tinggi, dan penggunaan teknologi sering kali mengurangi interaksi antara ayah dan anak. Namun, dengan pendekatan Key Issue ini, keluarga dapat membangun kebiasaan yang memperkuat hubungan ayah-anak. Pela Gandong menjadi alat untuk menegaskan bahwa ayah bukan hanya dalam rumah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan anak yang sehari-hari.

Pelaksanaan Gerakan Ayah Teladan

Untuk mendorong Key Issue ini, pemerintah melalui Kemendukbangga/BKKBN telah menginisiasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan Gerakan Ayah Teladan bagi Aparatur Sipil Negara (GAT-Link). Gerakan ini tidak hanya memfokuskan pada kehadiran ayah, tetapi juga pada keberlanjutan peran mereka dalam membentuk generasi yang lebih baik. Misalnya, GATI mendorong ayah aktif dalam kegiatan sehari-hari, sementara GAT-Link memberikan pelatihan dan pendampingan bagi aparatur sipil negara agar menjadi contoh teladan dalam keluarga.

“Ayah yang konsisten hadir akan membentuk anak yang lebih mandiri dan penuh kepercayaan diri,” ujar Edi Setiawan. Ia menambahkan bahwa program ini dirancang untuk mengubah persepsi bahwa ayah hanya dalam konteks ekonomi, dan menjadikannya bagian dari proses pengasuhan yang lebih holistik.

Kampanye seperti “Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah” menjadi simbol perubahan budaya dalam memperkuat peran ayah. Dengan kegiatan ini, ayah diharapkan dapat menunjukkan komitmen dalam pendidikan anak, yang sebelumnya sering kali menjadi tanggung jawab ibu. Implementasi program GATI dan GAT-Link juga mencakup penggalangan komunitas lokal, sehingga Pela Gandong menjadi bentuk kebersamaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Manfaat Pela Gandong dalam Membentuk Karakter Anak

Dalam konteks Key Issue, Pela Gandong memberikan manfaat yang signifikan dalam membentuk karakter anak. Nilai-nilai gotong royong dan persaudaraan yang diajarkan melalui budaya ini, menjadi fondasi untuk membangun rasa saling percaya dan kerja sama di dalam keluarga. Dengan kehadiran ayah yang aktif, anak-anak di Maluku dapat belajar untuk menghargai kontribusi orang tua, serta mengembangkan sikap tanggung jawab sosial.

Pela Gandong juga menjadi alat untuk mengatasi kesenjangan dalam peran ayah dan ibu. Di banyak daerah, peran ayah sering dianggap sebagai “modal ekonomi,” sementara ibu menjadi “figur pendidikan.” Dengan memperkuat kehadiran ayah melalui Key Issue ini, keluarga dapat menciptakan keseimbangan dalam pendidikan dan pengasuhan. Selain itu, budaya lokal ini juga membantu anak-anak dalam memahami pentingnya kebersamaan dalam keluarga, yang menjadi aset penting dalam menghadapi tantangan masa depan.