Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Koalisi usulkan Seblat Bengkulu jadi Suaka Margasatwa lindungi gajah

Published Agustus 19, 2026 · Updated Agustus 19, 2026 · By Christopher Moore - beritaturah.com

Foto : Christopher Moore - beritaturah.com

Usulan Naik Kelas: Bentang Alam Seblat Menuju Suaka Margasatwa demi Gajah Sumatera

Beritaturah.com – Sebuah langkah konservasi besar kini mengemuka dari Bengkulu. Koalisi Bentang Seblat secara resmi mengajukan perubahan fungsi kawasan Bentang Alam Seblat dari kategori Hutan Produksi menjadi Kawasan Suaka Margasatwa, mencakup wilayah seluas 80 ribu hektare. Tujuannya jelas: memberikan perlindungan setingkat lebih tinggi bagi habitat gajah Sumatera yang tersisa di provinsi tersebut.

"Kita ingin status ini satu tingkat di atas level kawasan lindung, dalam hal ini kawasan konservasi. Usulan peningkatan status pengelolaan kawasan yang merupakan 'kantong' gajah ini."

Pernyataan itu disampaikan Ali Akbar, Ketua Kanopi Hijau Indonesia, saat berbicara di Bengkulu pada hari Rabu. Ia menegaskan bahwa kawasan inti Bentang Seblat, berdasarkan analisis koalisi, membentang sekitar 80.978 hektare. Namun dari total tersebut, sekitar 30.017 hektare telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit — sebuah angka yang menggambarkan tekanan nyata terhadap tutupan hutan dan keutuhan habitat.

Populasi di Ambang Kepunahan Lokal

Ali menyebut fragmentasi habitat dan hilangnya tutupan hutan sebagai persoalan mendesak. Jumlah gajah yang masih bertahan di kawasan itu, menurutnya, tidak mencapai 50 ekor.

"Populasi gajah yang tersisa di kawasan ini kurang dari 50 ekor. Facts ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan Gajah Sumatera di sini sedang berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal."

Sementara itu, data dari pihak konservasi memberikan gambaran yang sedikit berbeda namun tetap mengkhawatirkan. Agung Nugroho, Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu, menyebutkan populasi gajah di Bengkulu saat ini berkisar 25–30 ekor. Dari jumlah tersebut, 10 ekor merupakan gajah binaan yang berada di Taman Wisata Alam (TWA) Seblat.

"Gajah liar yang terekam punya empat anakan dan sisanya gajah dewasa. Jadi secara populasi masih bereproduksi," kata Agung.

Agung mengakui bahwa meskipun reproduksi masih berlangsung, konversi lahan menjadi perkebunan sawit dan menyusutnya tutupan hutan tetap menjadi ancaman serius.

"Jika terus terjadi maka populasi gajah ini terancam dan ini yang harus kita cegah."

Tragedi Dua Gajah yang Diracun

Koalisi Bentang Seblat juga menyoroti insiden kematian seekor induk gajah berusia sekitar 25 tahun beserta anaknya yang baru dua tahun. Kedua satwa itu ditemukan tak bernyawa di dalam hutan pada 30 April 2026. Hasil uji toksikologi dari Institut Pertanian Bogor, yang diterima oleh BKSDA Bengkulu, mengungkap keberadaan senyawa kimia florida, sulfat, dan amonia di dalam tubuh kedua gajah.

"Hasil uji laboratorium sudah keluar dan gajah mati itu diracun, bisa jadi termakan racun. Artinya ada racun di tubuhnya, ada senyawa kimia. Ini mengindikasikan adanya sengketa antara kawanan gajah dengan kelompok petani yang terdesak dan dimanfaatkan dengan kelompok tertentu," kata Ali.

Elephant Camp 2026: Edukasi dan Dukungan Publik

Usulan perubahan status kawasan tersebut dipresentasikan dalam kegiatan Elephant Camp 2026, yang diselenggarakan Koalisi Bentang Seblat bersama pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum di TWA Seblat pada 15–17 Agustus 2026. Johansyah, Koordinator Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat Bengkulu, menjelaskan bahwa acara ini bertujuan membangun dukungan publik terhadap keberlangsungan konservasi gajah di kawasan Seblat.

"Para peserta bisa berinteraksi secara langsung dan menjadi sarana edukasi tentang gajah Sumatera di Bengkulu," ujar Johan.

Peran Ekologis Gajah sebagai Penyebar Benih

Di balik isu perlindungan populasi, terdapat dimensi ekologis yang kerap luput dari perhatian. Gajah Sumatera berfungsi sebagai agen penyebar benih alami. Melalui aktivitas makan, perpindahan antar lokasi, dan pembuangan kotoran, satwa ini menyebarkan biji berbagai tanaman, membuka jalur alami di kanopi hutan, serta mendukung regenerasi vegetasi. Keberadaan gajah, dengan demikian, turut menjamin keberagaman jenis tumbuhan dapat tumbuh secara optimal dan menjaga keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Koalisi usulkan Seblat Bengkulu jadi Suaka?

Koalisi usulkan Seblat Bengkulu jadi Suaka is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Koalisi usulkan Seblat Bengkulu jadi Suaka matter?

Koalisi usulkan Seblat Bengkulu jadi Suaka matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.