Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Penerima manfaat MBG di Pasaman Barat jangkau 29.452 orang

Published September 19, 2026 · Updated September 19, 2026 · By Jennifer Jackson - beritaturah.com

Foto : Jennifer Jackson - beritaturah.com

Program MBG di Pasaman Barat Layani 29.452 Penerima hingga September 2026

Beritaturah.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, telah memberikan layanan kepada 29.452 penerima manfaat sampai September 2026. Capaian tersebut ditopang oleh 12 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah beroperasi di wilayah tersebut.

Jangkauan program mencakup kelompok yang menjadi sasaran utama pemenuhan gizi, yakni pelajar dari sekolah negeri maupun swasta, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Ketersediaan makanan bergizi bagi kelompok tersebut menjadi fokus layanan yang dijalankan SPPG di Pasaman Barat.

“Penerima manfaat itu berasal dari 12 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi hingga saat ini,” kata Koordinator Wilayah BGN Pasaman Barat Putri Geo Anggriani di Simpang Empat, Sabtu.

Pengawasan disiapkan sejak bahan baku hingga distribusi

Seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat, Badan Gizi Nasional (BGN) di Pasaman Barat memperkuat penerapan prosedur operasional standar di setiap SPPG. Pengendalian dilakukan sebelum menu MBG dikirimkan kepada penerima, dengan perhatian pada seluruh tahapan pengolahan makanan.

Kepala SPPG memiliki kewajiban melakukan pemeriksaan dan pengawasan setiap hari. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga agar proses penyediaan makanan berlangsung aman, tertib, dan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Setiap hari kepala SPPG wajib melakukan pengecekan dan pengawasan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Pemeriksaan harian tidak hanya menyasar makanan yang telah siap dibagikan. Kualitas bahan baku juga diperiksa sejak awal. Kondisi kebersihan dapur, sanitasi area pengolahan, serta kelengkapan perlindungan bagi relawan menjadi bagian dari pengawasan rutin.

Masker dan sarung tangan wajib digunakan oleh relawan dalam pelaksanaan tugasnya. Penerapan kebersihan personal dan sanitasi dapur merupakan unsur penting karena makanan yang disiapkan akan diterima oleh anak-anak, balita, serta ibu hamil dan menyusui.

“Pengawasan yang dilakukan mulai dari pengecekan kualitas bahan baku, kebersihan sanitasi dapur dan perlengkapan relawan seperti masker, sarung tangan juga wajib digunakan,” katanya.

Ahli gizi melakukan pemeriksaan makanan

Sebelum makanan didistribusikan, setiap SPPG juga diwajibkan menjalankan uji organoleptik. Pemeriksaan ini dilakukan oleh ahli gizi untuk menilai mutu dan kelayakan makanan menggunakan pancaindra, meliputi warna, aroma, tekstur, dan rasa.

Uji tersebut menjadi tahap pemeriksaan terakhir sebelum menu diterima oleh peserta program. Dengan proses ini, SPPG dapat memastikan makanan yang disiapkan memiliki kondisi yang layak untuk dibagikan serta memenuhi pengawasan mutu yang telah ditetapkan.

Pengawasan tidak berhenti pada aktivitas dapur. BGN juga menjalankan apel melalui zoom pada pagi dan sore hari untuk seluruh SPPG di Indonesia. Kegiatan pagi dimulai pukul 03.00 WIB, sedangkan pertemuan sore dilaksanakan pukul 17.00 WIB.

Rentang waktu tersebut dipandang penting karena berkaitan dengan persiapan, pengolahan, serta evaluasi kegiatan pelayanan makanan. Kepala SPPG, pengawas gizi, pengawas akuntan, dan asisten lapangan terlibat dalam pengawasan pada jam-jam krusial tersebut.

“Jam-jam tersebut termasuk waktu krusial yang pengawasannya harus ketat oleh kepala SPPG, pengawas gizi, pengawas akuntan, dan asisten lapangan,” ujarnya.

Pemerintah daerah ikut memantau operasional SPPG

Pengendalian pelaksanaan program juga melibatkan Dinas Kesehatan dan Dinas Ketahanan Pangan. Salah satu aspek yang diperhatikan adalah Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), yang berkaitan dengan kelayakan kebersihan dan sanitasi dalam penyediaan makanan.

Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat turut melakukan pemantauan terhadap SPPG yang telah berjalan. Pengawasan bersama ini diarahkan untuk menjaga pelaksanaan program tetap aman bagi seluruh penerima manfaat dan mencegah terjadinya insiden dalam layanan makanan.

“Kita tidak ingin ada kejadian seperti di daerah lain meskipun hingga saat ini di Pasaman Barat masih zero accident,” kata Sekretaris Daerah Pasaman Barat Doddy San Ismail.

Status zero accident yang masih dipertahankan menjadi perhatian penting di tengah pelayanan MBG yang telah menjangkau puluhan ribu orang. Besarnya jumlah penerima membuat konsistensi prosedur, pemeriksaan bahan makanan, kebersihan peralatan, dan pengawasan distribusi perlu dijaga setiap hari.

Dengan 12 SPPG yang aktif, keberlanjutan program di Pasaman Barat bergantung pada koordinasi antara pengelola layanan, tenaga ahli gizi, relawan, perangkat pengawasan, serta pemerintah daerah. Setiap tahapan, dari bahan baku sampai makanan diterima, menjadi bagian yang menentukan kualitas pelayanan gizi bagi masyarakat sasaran.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Penerima manfaat MBG di Pasaman Barat?

Penerima manfaat MBG di Pasaman Barat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Penerima manfaat MBG di Pasaman Barat matter?

Penerima manfaat MBG di Pasaman Barat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.