UNESCO: 2,4 juta anak perempuan Afghanistan dilarang sekolah
Krisis Pendidikan Perempuan Afghanistan: UNESCO Ungkap Dampak Luas
Beritaturah.com – UNESCO - Moskow — Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) merilis laporan yang menyoroti kondisi mendesak di Afghanistan. Selama lima tahun terakhir di bawah pemerintahan baru, tercatat sebanyak 2,4 juta anak perempuan tidak dapat mengakses pendidikan menengah. Data dari badan PBB tersebut menunjukkan bahwa Afghanistan merupakan satu-satunya negara di dunia yang secara resmi melarang anak perempuan serta perempuan dewasa mengikuti pendidikan menengah dan tinggi.
Pembatasan yang Meluas
Selain pendidikan menengah, perempuan juga dilarang melanjutkan studi ke universitas sejak tahun 2022. Mereka terus menghadapi berbagai keterbatasan ketat dalam bidang pekerjaan dan partisipasi sosial. Dalam laporannya yang dirilis pada Rabu (12/8), UNESCO menyampaikan pernyataan penting:
"Perempuan juga dilarang menempuh pendidikan di universitas sejak 2022 dan terus menghadapi pembatasan ketat terkait pekerjaan serta partisipasi dalam kehidupan masyarakat ... Hilangnya peluang-peluang ini telat menimbulkan dampak yang sangat luas,"
Dampak Ekonomi dan Sosial
Menurut perkiraan UNESCO, pembatasan pendidikan dan pekerjaan bagi perempuan di Afghanistan berpotensi menyebabkan penurunan signifikan dalam jumlah tenaga kerja perempuan. Selain itu, hilangnya total pendapatan rumah tangga diperkirakan mencapai sekitar 9,6 miliar dolar AS atau setara Rp171,3 triliun. Badan PBB tersebut juga meyakini bahwa pengucilan pendidikan yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko pernikahan dini di kalangan perempuan Afghanistan.
Krisis ini tidak hanya terbatas pada pengucilan anak perempuan dari pendidikan menengah dan tinggi. Lebih dari dua juta anak usia sekolah juga tidak mengenyam pendidikan karena alasan-alasan yang tidak terkait dengan pembatasan terhadap anak perempuan dan perempuan dewasa.
Tingkat Literasi yang Rendah
UNESCO mencatat bahwa tingkat literasi penduduk Afghanistan sangat rendah. Lebih dari 90 persen anak berusia 10 tahun tidak mampu membaca atau memahami teks sederhana. Secara keseluruhan, tingkat literasi di Afghanistan hanya sekitar 37 persen.
UNESCO memperingatkan bahwa pembatasan berkelanjutan terhadap pendidikan anak perempuan ini akan mengurangi jumlah perempuan yang bekerja di profesi terampil, seperti di sektor pendidikan dan kesehatan. Akibatnya, modal sumberdaya manusia Afghanistan semakin lemah, dan kemampuannya untuk menyediakan layanan dasar bagi penduduk.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is UNESCO?UNESCO is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does UNESCO matter?UNESCO matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.