Mendagri minta calon pemimpin Polri susun kebijakan berbasis sains
Tito Karnavian Tekankan Peran Sains dan Data dalam Pembentukan Pemimpin Polri
Beritaturah.com – Di Gedung Tribrata Convention Center Dharmawangsa, Jakarta, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyampaikan pesan tegas kepada para peserta Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri. Acara yang berlangsung pada Senin tersebut mengusung tema Dialog Kebangsaan, sebuah forum di mana calon komandan strategis kepolisian berinteraksi langsung dengan isu-isu tata kelola negara. Inti pesan Tito Karnavian pada kesempatan itu cukup jelas: setiap keputusan yang akan diambil di lapangan harus bertumpu pada metodologi ilmiah dan data empiris, bukan pada intuisi semata atau posisi hierarkis.
Keputusan Strategis Tidak Bisa Didasarkan pada Perasaan
Sespim merupakan program pengembangan kepemimpinan tingkat menengah-atas yang ditujukan bagi perwira Polri dengan pangkat AKBP ke atas. Lulusannya disiapkan untuk menduduki jabatan strategis seperti kepala kepolisian daerah, kepala kepolisian resor, hingga posisi komando di lingkungan TNI. Dengan cakupan tanggung jawab sebesar itu, Tito Karnavian mengingatkan bahwa persoalan yang akan mereka hadapi menuntut respons cepat sekaligus akurat. Tidak ada ruang untuk keputusan yang diambil secara impulsif.
Ia menegaskan bahwa sebelum mengambil langkah apa pun, setiap persoalan harus terlebih dahulu dipetakan melalui kajian referensi, pengumpulan data yang sistematis, serta analisis menggunakan metodologi yang tepat. Pendekatan ini, menurutnya, bukan sekadar formalitas birokratis, melainkan prasyarat mutlak bagi efektivitas kepemimpinan di sektor keamanan dalam negeri.
"Setiap pengambilan keputusan, saya minta rekan-rekan selalu mengambil keputusan berbasis science, berbasis data."
Pendidikan Formal sebagai Transformasi Pola Pikir
Tito Karnavian kemudian mengaitkan mandat tersebut dengan filosofi pendidikan tinggi. Ia menolak pandangan yang mereduksi gelar akademik menjadi sekadar label prestise. Bagi mantan Kapolri itu, tujuan utama pendidikan formal — khususnya pada jenjang sarjana — adalah mengubah cara seseorang memproses informasi dan mengambil keputusan. Kebiasaan lama yang mengandalkan perasaan atau "feeling" harus digantikan oleh pendekatan sistematis yang dapat diuji dan direplikasi.
"Jadi, targetnya S1 itu hanya untuk mengubah cara berpikir, mengambil keputusan yang tadinya hanya feeling-feeling -an menjadi berbasis systematic science, ilmiah."
Seiring naiknya jenjang pendidikan, kompleksitas kemampuan yang dituntut juga meningkat. Seorang magister atau doktor ditantang untuk mencari referensi lintas disiplin, menguasai metodologi riset yang lebih canggih, menganalisis data dalam skala besar, dan merumuskan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tito Karnavian menilai kemampuan-kemampuan tersebut menjadi bekal krusial ketika seorang pemimpin menghadapi situasi di lapangan yang tidak selalu memiliki preseden jelas.
Kepemimpinan yang Melampaui Kekuasaan
Di bagian lain paparannya, Tito Karnavian mengangkat persoalan yang lebih fundamental tentang hakikat kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa memiliki kewenangan formal dan pengikut yang banyak tidak otomatis menjadikan seseorang pemimpin yang efektif. Seorang pemimpin sejati harus mampu merumuskan konsep strategis dan menetapkan arah yang jelas bagi organisasinya, bukan sekadar menjalankan instruksi dari atas.
"Strong leader itulah leader yang tidak hanya memiliki power, kekuasaan. Kita nanti memiliki kekuasaan, kapolres, kapolda, kajati, kajari, [atau] mungkin menjadi komandan di TNI, tapi power is not enough."
Pernyataan ini relevan mengingat dinamika organisasi kepolisian Indonesia yang terus berkembang. Dengan lebih dari 400.000 personel aktif dan mandat yang mencakup keamanan, ketertiban, hingga pelayanan publik, kebutuhan akan pemimpin yang mampu berpikir konseptual — bukan sekadar administratif — menjadi semakin mendesak.
Pengetahuan sebagai Fondasi Kepemimpinan
Untuk membangun kapasitas konseptual tersebut, Tito Karnavian menempatkan pengetahuan sebagai kunci utama. Ia mengidentifikasi tiga jalur perolehan pengetahuan: pengalaman langsung di lapangan, pembelajaran dari orang lain melalui mentoring dan diskusi, serta membaca berbagai referensi secara ekstensif. Ia mendorong peserta untuk menjadikan kebiasaan membaca sebagai bagian integral dari rutinitas profesional mereka.
"Makin rajin membaca, makin banyak membaca, makin banyak knowledge, maka ketika menghadapi problem, kita akan memiliki referensi yang banyak, tinggal menambah data, terus bisa mengambil keputusan. Itulah, pemimpin yang kuat, strong leader, dia harus memiliki konsep."
Dimensi Internasional dalam Pengembangan Kapasitas
Sebagai penutup pesan utamanya, Tito Karnavian mendorong para peserta untuk memperluas cakupan pendidikan mereka, termasuk dengan memanfaatkan kesempatan belajar di luar negeri. Ia menilai bahwa institusi pendidikan di negara-negara maju menawarkan manfaat yang melampaui transfer pengetahuan teknis. Budaya kerja yang disiplin, tingkat korupsi yang lebih rendah, serta jejaring internasional yang luas menjadi nilai tambah yang tidak dapat diperoleh hanya dari kurikulum domestik.
"Kalau sekolahnya luar negeri, apalagi negara maju, negara yang disiplin, less corrupt, keunggulannya kita bisa mendapatkan budaya itu tertular ke kita."
Pesan Tito Karnavian pada Dialog Kebangsaan Sespim Lemdiklat Polri ini sejalan dengan arah reformasi kelembagaan kepolisian yang menekankan profesionalisme berbasis kompetensi. Dalam konteks di mana tantangan keamanan dalam negeri semakin kompleks — mulai dari ketahanan pangan, stabilitas sosial, hingga pengelolaan bencana — tuntutan agar pemimpin Polri berpikir secara ilmiah dan berbasis data bukan lagi pilihan, melainkan keharusan operasional.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Mendagri minta calon pemimpin Polri susun?Mendagri minta calon pemimpin Polri susun is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Mendagri minta calon pemimpin Polri susun matter?Mendagri minta calon pemimpin Polri susun matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.