Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Mengenal Sayuti Melik, sosok di balik pengetik teks Proklamasi

Published Agustus 14, 2026 · Updated Agustus 14, 2026 · By Emily Miller - beritaturah.com

Foto : Emily Miller - beritaturah.com

Mengenal Sayuti Melik: Sosok di Balik Mesin Ketik Teks Proklamasi

Beritaturah.com – Mengenal Sayuti Melik sosok di balik peristiwa bersejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tokoh yang lahir dengan nama Mohamad Ibnu Sayuti pada 22 November 1908 di Sleman, Yogyakarta ini, dikenal luas sebagai orang yang mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan menggunakan mesin ketik. Ia menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada 27 Februari 1989, pada usia 80 tahun. Peran Sayuti Melik dalam sejarah Indonesia tidak hanya sebatas sebagai pengetik, melainkan juga sebagai jurnalis dan pejuang kemerdekaan yang aktif sejak masa kolonial.

Jejak Aktivisme dan Karier Jurnalistik

Sejak usia muda, Sayuti Melik telah menunjukkan semangat kebangsaan yang kuat. Pengaruh nasionalisme mengalir dari keluarganya, khususnya dari sang ayah, Abdul Muin atau Partoprawito, seorang lurah di Sleman yang dikenal berani menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Latar belakang keluarga yang memiliki jiwa perjuangan ini membentuk karakter Sayuti Melik sebagai tokoh yang tidak takut menghadapi tantangan.

Ketertarikannya terhadap dunia politik dan jurnalistik menjadikan Sayuti Melik sebagai aktivis nasionalis yang vokal. Ia memanfaatkan kegiatan pers sebagai media untuk menyampaikan gagasan-gagasan tentang perjuangan kemerdekaan. Bersama istrinya, S.K. Trimurti, ia berhasil menerbitkan surat kabar Pesat yang terbit di Semarang. Melalui surat kabar ini, Sayuti Melik mampu menjangkau pembaca yang lebih luas dan menyebarkan ide-ide kebangsaan.

Perpaduan aktivitas jurnalistik dan politiknya tidak luput dari perhatian penguasa kolonial. Sayuti Melik beberapa kali mengalami penahanan akibat perjuangannya melawan penjajah. Pengalaman-pengalaman ini semakin memperkuat keyakinannya bahwa kemerdekaan Indonesia harus segera terwujud. Ia tidak hanya berjuang melalui tulisan, tetapi juga melalui aksi langsung bersama para pemuda lainnya.

Momen Bersejarah di Balik Mesin Ketik

Peran Sayuti Melik dalam peristiwa Proklamasi dimulai setelah konsep naskah selesai dirumuskan. Proses perumusan tersebut berlangsung di rumah Laksamana Tadashi Maeda, yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta. Malam 16 Agustus hingga dini hari 17 Agustus 1945 menjadi waktu krusial bagi Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo dalam menyusun konsep proklamasi.

Setelah konsep tulisan tangan Soekarno disepakati bersama, Sayuti Melik ditugaskan untuk mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik. Dalam proses pengetikan ini, terjadi beberapa perubahan penting dari konsep awal. Salah satu perubahan yang signifikan adalah penggantian kata "tempoh" menjadi "tempo". Selain itu, bagian penutup naskah juga dimodifikasi menjadi "Atas nama bangsa Indonesia" yang kemudian diikuti oleh nama Soekarno dan Hatta.

Sayuti Melik bukan perumus utama teks Proklamasi, melainkan tokoh yang mengambil peran pada tahap berikutnya dengan mengetik konsep yang telah disepakati menjadi naskah siap pakai. Perannya sebagai pengetik naskah Proklamasi menjadi simbol penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Kontribusi dalam Perjuangan Kemerdekaan

Kontribusi Sayuti Melik terhadap kemerdekaan Indonesia tidak terbatas hanya pada momen pengetikan naskah. Ia juga termasuk dalam kelompok pemuda yang gigih mendorong agar Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaan setelah Jepang menyerah kepada Sekutu. Semangatnya untuk segera membebaskan Indonesia dari penjajahan membuat ia selalu berada di garis depan perjuangan.

Pada 16 Agustus 1945, Sayuti Melik bersama para pemuda lainnya terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok. Tujuan utama dari peristiwa tersebut adalah mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta agar segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya peran Sayuti Melik dalam mempercepat proses proklamasi kemerdekaan.

Setelah Indonesia merdeka, Sayuti Melik terus aktif dalam kancah politik. Ia pernah menjabat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian menjadi anggota DPR/MPR pada masa pemerintahan Orde Baru. Pengalaman politiknya yang panjang menunjukkan bahwa Sayuti Melik tidak hanya berperan dalam masa perjuangan, tetapi juga dalam pembangunan bangsa.

Warisan Sayuti Melik tetap hidup hingga kini. Ia bukan sekadar sosok di balik mesin ketik pada malam menjelang Proklamasi, melainkan seorang jurnalis, aktivis, dan pejuang yang turut serta dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Perjuangannya menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus menjaga nilai-nilai kemerdekaan.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Siapa Sayuti Melik dan apa perannya dalam Proklamasi Kemerdekaan? Sayuti Melik adalah tokoh yang mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan menggunakan mesin ketik. Ia lahir pada 22 November 1908 di Sleman, Yogyakarta, dan meninggal pada 27 Februari 1989 di Jakarta. Perannya yang paling dikenal adalah mengetik naskah yang telah dirumuskan oleh Soekarno, Hatta, dan Soebardjo.

Di mana proses pengetikan naskah Proklamasi dilakukan? Proses pengetikan naskah Proklamasi dilakukan di rumah Laksamana Tadashi Maeda, yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta. Malam 16 Agustus hingga dini hari 17 Agustus 1945 menjadi waktu krusial dalam proses ini.

Apa saja perubahan yang dilakukan Sayuti Melik saat mengetik naskah Proklamasi? Sayuti Melik melakukan beberapa perubahan penting saat mengetik naskah Proklamasi, termasuk penggantian kata "tempoh" menjadi "tempo" dan modifikasi bagian penutup naskah menjadi "Atas nama bangsa Indonesia" yang diikuti oleh nama Soekarno dan Hatta.

Bagaimana kontribusi Sayuti Melik setelah Indonesia merdeka? Setelah Indonesia merdeka, Sayuti Melik terus aktif dalam kancah politik. Ia pernah menjabat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian menjadi anggota DPR/MPR pada masa pemerintahan Orde Baru. Kontribusinya dalam pembangunan bangsa terus berlanjut hingga akhir hayatnya.

Related Reading