Sari Yuliati dan Gus Miftah dorong kolaborasi lintas agama di Mataram
Sari Yuliati dan Gus Miftah Dorong Kolaborasi Lintas Agama di Mataram
Beritaturah.com – Sari Yuliati dan Gus Miftah secara bersama-sama mendorong kolaborasi lintas agama di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebagai model penguatan moderasi beragama di Indonesia. Pertemuan yang berlangsung di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, pada Rabu malam ini dihadiri ribuan umat dari berbagai agama, menunjukkan betapa kuatnya semangat kerukunan di wilayah tersebut. Kedua tokoh ini hadir dalam kegiatan zikir dan doa kebangsaan yang menjadi momentum penting bagi penguatan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika.
Gus Miftah, Pengasuh Pesantren Ora Aji KH Miftah Maulana Habiburrahman, memberikan apresiasi tinggi terhadap kehadiran tokoh-tokoh lintas agama yang berkumpul bersama. Ia menekankan bahwa bangsa Indonesia akan menjadi besar melalui kerukunan antarumat beragama. "Kami memahami bangsa ini akan besar dari kerukunan dan malam ini bisa dilihat dari Kota Mataram," ujar Gus Miftah seusai kegiatan doa kebangsaan. Kehadiran jamaah dari berbagai agama yang memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing menjadi bukti nyata toleransi yang hidup di masyarakat.
Harapan Menjadi Tradisi Nasional
Sari Yuliati, Wakil Ketua DPR RI, mengungkapkan kebanggaannya terhadap NTB yang terdiri atas sepuluh kabupaten dan kota sebagai contoh keberagaman dan kerukunan. Meskipun mayoritas penduduk NTB beragama Islam, masyarakat dari kelompok minoritas dapat hidup rukun dalam keberagaman. "Saat saya berkunjung ke salah satu sekolah dasar di Cakranegara yang isinya 99 persen agama Hindu dan beberapa persen agama lainnya, mereka bisa sekolah aman, tidak dibullying dan mengalami rasisme," katanya dengan penuh antusiasme.
Gus Miftah berharap kegiatan zikir dan doa kebangsaan ini dapat menjadi contoh sekaligus tradisi yang diterapkan di daerah lain di Indonesia. Ia juga berkomitmen untuk menyampaikan kegiatan tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto agar Kota Mataram dapat menjadi salah satu contoh kota yang menjunjung toleransi. "Jadi, apa yang ada di Kota Mataram akan kita laporkan ke presiden. Insyaallah kita sampaikan bahwa Mataram bisa menjadi kota toleransi di Indonesia," tegasnya.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama NTB, Zamroni Azis, juga mengapresiasi kehadiran tokoh lintas agama dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, doa kebangsaan ini bisa dihadiri masyarakat dari lintas agama di semua kabupaten dan kota untuk menjaga NTB dan bangsa Indonesia. Kehadiran Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri dan Wali Kota Mataram Mohan Roliskana semakin memperkuat makna kegiatan ini sebagai momen persatuan nasional.
Kegiatan di Lapangan Sangkareang ini dihadiri oleh umat dari berbagai agama, yakni Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Kehadiran ribuan peserta dari berbagai latar belakang agama menunjukkan bahwa kolaborasi lintas agama bukan hanya wacana, tetapi sudah menjadi praktik nyata di masyarakat. Sari Yuliati dan Gus Miftah berharap model ini dapat dikembangkan lebih luas di seluruh Indonesia.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kolaborasi Lintas Agama di Mataram
Apa yang dimaksud dengan kolaborasi lintas agama? Kolaborasi lintas agama adalah kerja sama antarumat beragama dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan untuk memperkuat kerukunan dan moderasi beragama.
Di mana lokasi kegiatan zikir dan doa kebangsaan di Mataram? Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Siapa saja tokoh yang mendorong kolaborasi ini? Tokoh utama yang mendorong kolaborasi ini adalah Sari Yuliati, Wakil Ketua DPR RI, dan Gus Miftah, Pengasuh Pesantren Ora Aji.
Apakah kegiatan ini akan menjadi tradisi tahunan? Gus Miftah berharap kegiatan ini dapat menjadi tradisi bangsa yang diterapkan di berbagai daerah di Indonesia tanpa memandang agama.
Bagaimana peran pemerintah daerah dalam mendukung kegiatan ini? Pemerintah daerah melalui Wali Kota Mataram Mohan Roliskana dan Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri hadir memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan kolaborasi lintas agama.