Beritaturah News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Bumibaru Panen 307 Ribu Kg dari Lahan Terdegradasi di Kalteng

Published Agustus 9, 2026 · Updated Agustus 9, 2026 · By John Brown - beritaturah.com

Foto : John Brown - beritaturah.com

Bumibaru Panen 307 Ribu Kg dari Lahan Terdegradasi di Kalimantan Tengah

Beritaturah.com – Palangka Raya - PT Bumibaru Indonesia Jaya berhasil mencatatkan pencapaian luar biasa dengan Bumibaru Panen 307 Ribu Kg komoditas pertanian berkualitas tinggi dari lahan terdegradasi di Kecamatan Tangkiling, Kalimantan Tengah. Pencapaian ini merupakan hasil dari penerapan metode restorasi tanah dan pertanian regeneratif yang telah dilakukan sejak September 2023. Komoditas yang dipanen meliputi pisang, nanas madu, dan semangka yang tumbuh subur di tanah yang sebelumnya mengalami degradasi berat.

CEO Bumibaru, Ramavito Mountaino, menjelaskan bahwa lahan seluas ratusan hektar tersebut sebelumnya memiliki kandungan pasir mencapai 94 persen akibat hilangnya tutupan vegetasi alami. Kondisi ini membuat tanah kehilangan kemampuan untuk menyimpan air dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. "Lahan yang terlihat mati bukan berarti tidak bisa menghasilkan. Yang dibutuhkan adalah pendekatan pengembangan yang tepat," ujar Ramavito dalam konferensi pers di Palangka Raya.

Proses Restorasi dan Peningkatan Kualitas Tanah

Untuk mengatasi masalah degradasi lahan, tim Bumibaru melakukan serangkaian perbaikan kualitas tanah menggunakan kombinasi mineral, bahan organik, dan pemulihan unsur hara. Upaya tersebut disertai pembangunan kembali ekosistem biologis tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara berkelanjutan. Hasil intervensi mulai terlihat sekitar delapan bulan kemudian melalui panen perdana pisang kepok yang menunjukkan pertumbuhan optimal.

Data teknis menunjukkan peningkatan signifikan pada parameter tanah. Tingkat keasaman tanah atau pH yang sebelumnya berada di angka 4,40 meningkat menjadi 6,01, mendekati kondisi ideal untuk pertanian. Sementara itu, tingkat kelangsungan hidup tanaman mencapai 94 persen, membuktikan efektivitas metode restorasi yang diterapkan. Produktivitas lahan juga menunjukkan tren peningkatan yang konsisten setiap tahunnya.

Optimalisasi Lahan Tanpa Membuka Area Baru

Peningkatan produksi tersebut dicapai tanpa membuka lahan baru. Optimalisasi dilakukan pada lahan yang sama sehingga peningkatan kapasitas produksi tidak mengurangi tutupan lahan yang masih tersedia. Selain menghasilkan komoditas pertanian, pemulihan tersebut meningkatkan nilai lahan hingga empat kali lipat dibandingkan biaya pengembangannya. Produksi semangka sepanjang 2025 mencapai 70.771 kilogram, meningkat 10,4 persen dibandingkan produksi tahun sebelumnya.

Kegiatan budidaya dilakukan melalui kemitraan dengan petani lokal di sekitar kawasan Tangkiling. Bumibaru kini mengembangkan metode tersebut sebagai jasa restorasi dan reklamasi lahan bagi pemilik lahan yang menghadapi kondisi serupa. Lahan yang menjadi sasaran tidak hanya lahan terdegradasi, tetapi juga lahan tidur dan lahan perkebunan yang sudah tidak produktif, termasuk lahan perusahaan agribisnis yang ingin meningkatkan kapasitas produksi tanpa membuka lahan baru.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Program Bumibaru

Apa itu lahan terdegradasi? Lahan terdegradasi adalah lahan yang mengalami penurunan kualitas akibat faktor alam atau aktivitas manusia, sehingga kemampuan untuk mendukung pertanian menurun secara signifikan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan lahan terdegradasi? Berdasarkan pengalaman Bumibaru, proses restorasi membutuhkan waktu sekitar 8-12 bulan untuk melihat hasil panen pertama yang optimal.

Apakah program ini terbuka untuk umum? Ya, Bumibaru menawarkan jasa restorasi dan reklamasi lahan bagi pemilik lahan pribadi maupun perusahaan yang memiliki lahan tidak produktif.

Berapa peningkatan nilai lahan setelah restorasi? Nilai lahan dapat meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan biaya pengembangannya setelah proses restorasi selesai.

Bumibaru menilai model tersebut dapat menjadi alternatif pemanfaatan lahan tidak produktif di Indonesia karena menggabungkan pemulihan kondisi tanah dengan aktivitas produksi pertanian. Perusahaan berharap capaian di Tangkaling dapat menjadi bukti bahwa lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat dipulihkan dan dikembangkan kembali menjadi lahan pertanian yang menghasilkan secara berkelanjutan. Dengan dukungan teknologi dan kemitraan strategis, program ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah di Indonesia yang memiliki potensi lahan terdegradasi.

Related Reading