Pelatih Apresiasi Srondeng Meski Gagal ke Final Wujiang
Pelatih apresiasi Srondeng meski gagal ke final – Dalam ajang World Climbing Series Wujiang 2026 yang berlangsung di Shanghai, pelatih tim panjat tebing Indonesia, Sholikhin, memberikan apresiasi terhadap atlet muda Putra Tri Ramadani atau akrab disapa Srondeng. Meski gagal melangkah ke babak final, pelatih menilai bahwa Srondeng telah memperlihatkan dedikasi dan kemampuan yang luar biasa. Hasil ini menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan performa di ajang internasional lainnya.
Kompetisi Wujiang merupakan salah satu dari serangkaian World Climbing Series yang menjadi penting bagi pengembangan olahraga panjat tebing di Asia Tenggara. Dalam babak semifinal, Srondeng menunjukkan sikap percaya diri dan fokus tinggi, meskipun pada rute yang lebih sulit, ia mengalami sedikit kekacauan. Sholikhin mengungkapkan bahwa kegagalan tersebut tidak mengurangi usaha maksimal yang telah ditunjukkan oleh atlet muda ini.
“Srondeng memiliki potensi besar, dan kegagalan di Wujiang adalah bagian dari proses pembelajaran. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin, meski belum rezekinya untuk menjadi finalis di World Cup Wujiang ini,” kata Sholikhin melalui pesan telepon dari Jakarta, Sabtu.
Pelatih menekankan bahwa Srondeng tidak gagal hanya karena kurangnya kemampuan teknik, tetapi lebih disebabkan oleh faktor-faktor kecil dalam kondisi tekanan. Kegagalan tersebut dianggap sebagai pengalaman berharga yang akan menjadi fondasi untuk tampil lebih baik di kompetisi internasional mendatang. “Dalam momen kritis, dia sedikit kurang stabil, tetapi ini wajar bagi seorang atlet yang masih dalam tahap pengembangan,” imbuh Sholikhin.
Latar Belakang Ajang Wujiang
World Climbing Series Wujiang 2026 diadakan di Shanghai pada tanggal 8-10 Mei 2026 sebagai bagian dari kalender kompetisi internasional tahunan. Ajang ini menarik partisipasi dari atlet terbaik Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang mengirimkan tim lengkap di tiga kategori: lead, boulder, dan speed. Meski gagal mencapai final di nomor lead, pelatih optimistis hasil ini bisa menjadi pemicu untuk peningkatan lebih lanjut.
Indonesia turut mengirimkan atlet putra seperti Raviandi Ramadan dan Veddrriq Leonardo, serta atlet putri seperti Sukma Lintang Cahyani dan Kadek Adi Asih. Namun, dalam babak kualifikasi, Srondeng berada di peringkat keempat, tetapi harus berhenti di semifinal setelah hanya meraih peringkat sembilan dari 24 peserta. Skor yang ia raih, 36+, dianggap kompetitif karena setara dengan pemanjat Jepang Neo Suzuki. Meski gagal, ini menunjukkan konsistensi Srondeng dalam menampilkan performa terbaiknya.
Pengalaman dan Pelajaran dari Kompetisi
Srondeng’s debut di Wujiang menjadi pengalaman pertamanya dalam turnamen internasional bergengsi. Meski gagal melangkah ke final, pelatih menilai bahwa kegagalan tersebut justru menjadi motivasi untuk terus berkembang. “Dalam setiap kompetisi, ada pelajaran berharga, terutama dalam menghadapi tekanan dan rute yang lebih rumit,” jelas Sholikhin.
Komentar pelatih ini mengingatkan bahwa Srondeng, sebagai atlet muda, perlu melatih mental dan ketahanan secara intensif. Faktor-faktor kecil seperti kesalahan pegangan atau penyesuaian tempo bisa menjadi penghalang di level kompetisi tinggi. Meski gagal, kompetisi Wujiang diharapkan bisa memberikan wawasan untuk memperbaiki strategi dan teknik dalam masa depan.
Di sisi lain, hasil dari ajang Wujiang juga menjadi bahan evaluasi untuk keseluruhan tim Indonesia. Sholikhin menyatakan bahwa meski gagal melangkah ke final, tim tetap berharap bahwa Srondeng bisa menjadi pilar utama di event-event besar lainnya. “Dengan pengalaman ini, ia akan lebih siap menghadapi tantangan di kompetisi internasional yang lebih tinggi,” tuturnya.
