Wamen Komdigi: Permainan Egrang Membantu Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak
Wamen Komdigi – Dalam era digital yang semakin pesat, Wamen Komdigi Nezar Patria menggarisbawahi pentingnya permainan tradisional egrang sebagai alat pengembangan kecerdasan emosional anak-anak. Dalam sambutannya selama peluncuran Festival Egrang ke-14 di Kecamatan Ledokombo, Jember, Sabtu, ia menjelaskan bahwa permainan ini memiliki peran strategis dalam melatih kemampuan anak untuk mengelola emosi, membangun kepercayaan diri, serta meningkatkan daya tahan mental. “Egrang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menjadi cara efektif untuk menumbuhkan kecerdasan emosional yang berkelanjutan,” ujarnya. Menurut Nezar, di tengah dominasi permainan digital yang sering dikaitkan dengan kecanduan dan kurangnya interaksi langsung, egrang tetap relevan sebagai sarana pendidikan informal yang memberikan nilai tambah bagi generasi muda.
Permainan Tradisional sebagai Sarana Pendidikan
Festival Egrang yang digelar setiap tahun menjadi bukti nyata bahwa tradisi lokal masih hidup dan diterima oleh masyarakat. Nezar Patria menyoroti bahwa acara ini bukan hanya kegiatan hiburan, tetapi juga upaya menjaga keberlanjutan budaya serta memperkuat keterlibatan komunitas dalam pengembangan karakter anak. “Egrang mengajarkan anak-anak untuk berani mencoba, menghadapi kegagalan, dan bangkit kembali,” imbuhnya. Ia menjelaskan bahwa dalam permainan ini, anak-anak belajar menggabungkan keseimbangan fisik, kerja sama tim, serta ketekunan, yang semuanya berkontribusi pada pembentukan emosi yang sehat.
Pelaksanaan Festival Egrang juga dihiasi oleh kehadiran Komunitas Tanoker, yang menjadi penggerak utama dalam melestarikan budaya ini. Mereka menyambut Wamen Komdigi dengan penampilan tradisional menggunakan janur kuning, yang menunjukkan komitmen mereka terhadap pelestarian identitas budaya. Nezar Patria menyampaikan apresiasi khusus kepada Komunitas Tanoker atas perannya dalam menjaga tradisi yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Ledokombo. “Mereka memastikan bahwa egrang tidak hanya dianggap sebagai hiburan, tetapi sebagai alat pendidikan yang berharga,” tambahnya.
Nilai Budaya dalam Permainan Egrang
Menurut Nezar Patria, permainan egrang membawa nilai-nilai budaya yang tidak tergantikan. Aktivitas ini melatih anak-anak untuk berpikir kritis, bersikap santun, serta menghargai aturan yang berlaku. “Ketika anak bermain egrang, mereka belajar menghadapi tantangan dengan kepintaran dan keberanian,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa keberadaan egrang di tengah lingkungan digital memberikan bantalan yang penting bagi anak-anak. Permainan tradisional ini membantu mencegah kecenderungan anak-anak untuk terlalu bergantung pada permainan virtual, yang cenderung mengurangi kemampuan emosional mereka.
Dalam wawancara dengan ANTARA, Nezar Patria menyampaikan bahwa Festival Egrang ke-14 telah menunjukkan pertumbuhan ekosistem sosial yang lebih kuat. “Egrang menciptakan ruang untuk interaksi sosial yang lebih nyata, memperkaya pengalaman anak dalam memahami diri sendiri dan orang lain,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa permainan ini menjadi jembatan antara generasi muda dengan warisan budaya, sekaligus menginspirasi partisipasi aktif dalam kegiatan komunitas. “Kecerdasan emosional adalah pondasi utama dalam pembentukan kepribadian yang tangguh,” kata Wamen Komdigi.
Festival Egrang juga memberikan dampak ekonomi bagi sekitar masyarakat. Nezar Patria menjelaskan bahwa kegiatan ini menciptakan peluang bagi pengrajin lokal, penjual makanan, serta pengelola tempat wisata budaya. “Selain edukasi, egrang mendorong aktivitas ekonomi yang berkelanjutan,” tegasnya. Dalam kesempatan tersebut, ia berharap lebih banyak pihak dapat melibatkan diri dalam memperkuat nilai-nilai kecerdasan emosional melalui permainan tradisional. “Egrang bisa menjadi sarana penting untuk membangun ketahanan mental, terutama di tengah tekanan informasi yang cepat dan berlebihan,” tambah Wamen Komdigi.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Jember Akhmad Helmy Luqman menegaskan bahwa Festival Egrang menjadi bukti bahwa tradisi tetap relevan di tengah kemajuan teknologi. “Egrang adalah bagian dari identitas masyarakat Ledokombo, yang harus dipertahankan agar tidak hilang,” ujarnya. Helmy menyoroti bahwa permainan ini tidak hanya memperkaya pengalaman budaya, tetapi juga menjadi sarana pendidikan yang ampuh. “Anak-anak yang bermain egrang lebih mampu mengelola stres, meningkatkan fokus, dan membangun kepercayaan diri,” lanjutnya. Wamen Komdigi menyetujui pandangan ini, mengingat kecerdasan emosional adalah aspek penting dalam pembelajaran dan kehidupan sosial anak.
