Solving Problems: Nezar Mengupas Peran Permainan Tradisional dalam Keseimbangan Digital Anak
Solving Problems – Jakarta – Dalam wawancara terbaru, Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nezar Patria menjelaskan bahwa permainan tradisional, seperti egrang, menjadi solusi untuk mengatasi tekanan dari ruang digital. Menurutnya, aktivitas di ruang digital yang semakin intensif dapat menggeser waktu bermain anak-anak, sehingga permainan fisik dan lokal ini menjadi jeda penting untuk menyeimbangkan interaksi sosial, kesehatan mental, dan emosional mereka. Nezar menekankan bahwa keberadaan permainan tradisional tidak hanya mempertahankan budaya, tetapi juga membantu anak dalam mengembangkan kemampuan memecahkan masalah sehari-hari.
Kemajuan Teknologi dan Keterlibatan Komunitas
Dalam konteks perkembangan teknologi yang cepat, Nezar menyoroti bahwa penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,26 persen dari populasi, dengan 230 juta masyarakat terhubung. Hal ini memperlihatkan betapa besar dampak digital terhadap gaya hidup anak. Meski demikian, ia menegaskan bahwa permainan tradisional, seperti egrang, tetap relevan berkat partisipasi aktif komunitas lokal. Nezar menyatakan bahwa egrang, yang merupakan permainan tradisional dari Jawa Timur, mampu bertahan karena kepedulian masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai budaya serta keberhasilan acara seperti Festival Egrang Ledokombo.
“Saat ini, kita tidak hanya mengakses teknologi, tetapi juga hidup dalam pengaruhnya. Permainan tradisional harus diberi ruang untuk tetap menjadi bagian dari kehidupan anak, karena mereka membantu dalam menyelesaikan masalah secara langsung,” jelas Nezar.
Keseimbangan Digital dan Keterampilan Kognitif
Nezar menggarisbawahi bahwa kebiasaan bermain di ruang digital sering kali mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. Dalam permainan tradisional seperti egrang, anak belajar menyelesaikan masalah melalui pengalaman nyata, seperti menghadapi tantangan fisik dan sosial. Ia menambahkan bahwa kemampuan ini penting dalam menghadapi tekanan digital, karena membangun kemampuan berpikir kritis dan adaptasi menjadi kunci untuk mengelola teknologi secara sehat.
“Melalui egrang, anak-anak memahami arti kerja sama, keberanian, dan ketahanan. Ini adalah bentuk pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga melatih kemampuan menyelesaikan masalah sekaligus menjaga keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata,” tutur Nezar.
Kebutuhan akan keseimbangan digital dan sosial semakin mendesak, terutama dalam era di mana anak-anak sering kali menghabiskan waktu di depan layar. Nezar menyarankan bahwa keluarga dan sekolah harus memperkuat peran mereka dalam menyediakan ruang bermain yang bermakna. Dengan menggabungkan permainan tradisional dan teknologi, ia percaya anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih tangguh, baik dalam menghadapi masalah di dunia digital maupun dalam kehidupan sosial mereka.
Manfaat Permainan Tradisional dalam Pengembangan Anak
Permainan tradisional seperti egrang memiliki manfaat kognitif dan emosional yang signifikan. Dalam permainan ini, anak-anak belajar memecahkan masalah secara kolaboratif, seperti mengatur strategi, mengevaluasi kesalahan, dan beradaptasi dengan situasi yang berubah. Nezar menyoroti bahwa aktivitas ini tidak hanya mengasah kemampuan fisik, tetapi juga mendorong pengembangan sikap tanggung jawab dan kesadaran diri.
“Egrang adalah contoh nyata permainan yang melatih anak-anak untuk menyelesaikan masalah secara mandiri. Mereka belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, sehingga tidak hanya bermain, tetapi juga mengasah kemampuan mental mereka,” ujar Nezar.
Dalam pembelajaran digital, anak-anak sering kali hanya mengejar kecepatan dan hasil instan, sedangkan permainan tradisional mengajarkan kesabaran dan konsistensi. Nezar menekankan bahwa pentingnya mengimbangi waktu bermain digital dengan kegiatan fisik dan tradisional akan membantu anak dalam membangun keberanian dan ketahanan emosional yang diperlukan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Konteks Budaya dan Pertumbuhan Generasi Muda
Nezar juga menyampaikan bahwa permainan tradisional seperti egrang adalah bagian dari identitas budaya Indonesia. Ia menyoroti bahwa keberadaan permainan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang mendalam. Dengan menyelesaikan masalah melalui permainan tradisional, anak-anak terbiasa berpikir kreatif dan melatih keterampilan berkomunikasi secara langsung, yang jarang ditemukan di ruang digital.
“Saya percaya bahwa setiap anak Indonesia bisa menjadi tunas yang kuat, baik dalam dunia nyata maupun digital. Dengan menyeimbangkan antara permainan tradisional dan teknologi, mereka akan lebih mampu menghadapi tantangan masa depan secara komprehensif,” tambahnya.
