Politik

Important Visit: Komisi VII teruskan keluhan peternak telur bebek ke pemerintah

Important Visit: Komisi VII Ajukan Keluhan Peternak Telur Bebek ke Pemerintah

Important Visit – Sebuah Important Visit terjadi di Jakarta, Minggu (14/10), saat Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia memastikan bahwa pihaknya akan meneruskan keluhan peternak telur bebek ke lembaga pemerintah dan komisi terkait. Keluhan ini berkaitan dengan anjloknya harga telur bebek yang berdampak signifikan pada pendapatan para peternak. Dalam sebuah konferensi pers, Chusnunia mengatakan bahwa keluhan tersebut telah diterima dari komunitas Persatuan Peternak Bebek Nasional (PPBN), yang berharap ada tindakan nyata dari pemerintah untuk mengatasi krisis harga yang mereka alami.

Protes Peternak dan Dukungan Politik

Keluhan peternak telur bebek diperkuat oleh aksi protes yang mereka lakukan dalam acara bertajuk “Rembug Nasional Peternak Rakyat, Harga Pakan Melambung, Harga Telur Bikin Kembung” di Resto Bebek Pinggir Embung, Sleman, Yogyakarta. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh koordinator PPBN se-Jawa, yang menunjukkan soliditas organisasi mereka. Chusnunia menegaskan bahwa Komisi VII tidak hanya akan menghimpun aspirasi peternak, tetapi juga akan meneruskannya ke Komisi IV DPR, yang membidangi sektor pertanian, serta kepada Fraksi PKB untuk mendapat perhatian khusus.

Keluhan utama yang disampaikan oleh para peternak melibatkan kenaikan biaya produksi yang tidak sebanding dengan penurunan harga jual telur bebek. “Kami akan meneruskan ini ke Komisi IV DPR yang membidangi dan juga khususnya kepada Fraksi PKB untuk mendapat perhatian,” ujar Chusnunia. Hal ini menunjukkan bahwa Important Visit bukan hanya sekadar pertemuan rutin, tetapi menjadi momen kritis untuk menggali solusi bagi permasalahan yang mengancam kelangsungan usaha peternak lokal.

Krisis Harga dan Tantangan Ekonomi

Protes peternak ini muncul akibat kondisi pasar yang tidak sehat. Menurut Ketua Umum PPBN Mohammad Rosul, harga telur bebek telah turun hingga di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP), yang seharusnya menjadi titik minimum untuk menutupi biaya produksi. “Harga telur bebek akhir-akhir ini anjlok, jangankan peternak untung, harganya saja sudah di bawah HPP,” katanya dalam pidato di acara tersebut. Rosul menambahkan bahwa kenaikan harga pakan ternak, terutama pakan bebek petelur, juga menjadi salah satu faktor utama yang memperparah tekanan ekonomi para peternak.

Menurut data yang diberikan oleh peserta rembug, harga pakan ternak telah mengalami kenaikan tiga kali dalam dua bulan terakhir. Hal ini menyebabkan biaya produksi peternak meningkat, sementara harga jual telur bebek justru turun drastis. “HPP bebek petelur setidaknya Rp 1.732 per butir, sedangkan hari ini harga telurnya hanya Rp 1.400–Rp 1.500,” papar Haryono, peserta rembug lainnya. Kondisi ini membuat para peternak kesulitan mempertahankan kelangsungan usaha mereka, sehingga mereka meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk mengendalikan pasar dan menjamin keberpihakan terhadap sektor pertanian.

Sebagai bagian dari Important Visit ini, PPBN tidak hanya menyampaikan keluhan melalui pertemuan, tetapi juga menggelar aksi bagi-bagi telur bebek secara gratis di perempatan Ringroad Utara UPN, Sleman, Yogyakarta. Aksi ini diikuti oleh sekitar 30.000 butir telur, yang dibagikan kepada masyarakat sekitar. “Ini merupakan bentuk protes kita terhadap harga dan peluang pasar telur bebek yang semakin memburuk,” jelas Rosul. Tindakan ini menunjukkan keinginan PPBN untuk menyampaikan isu mereka secara lebih terbuka kepada publik dan pihak pemerintah.

Keluhan peternak telur bebek bukan hanya soal harga, tetapi juga tentang ketahanan pangan. Rosul menekankan bahwa swasembada pangan tidak bisa tercapai jika harga telur bebek terus anjlok. “Ketahanan dan swasembada pangan bukan omongan belaka, tetapi harus diwujudkan melalui kebijakan yang tepat,” sambungnya. Ia menilai bahwa Important Visit menjadi kesempatan penting untuk memastikan bahwa kebijakan pemerintah lebih responsif terhadap kebutuhan peternak, khususnya dalam menghadapi tekanan harga yang berkepanjangan.

“Kami ingin memastikan keberpihakan pemerintah terhadap peternak rakyat semakin jelas,” ujar Haryono. Ini menunjukkan bahwa selain aspirasi yang dihimpun, Important Visit juga menjadi momentum untuk membangun kemitraan antara peternak dengan lembaga legislatif dan eksekutif.

Dalam Important Visit tersebut, seluruh peserta sepakat bahwa masalah harga telur bebek harus menjadi fokus kebijakan pemerintah. Mereka meminta adanya regulasi yang bisa menjaga stabilitas harga, serta insentif untuk para peternak yang terdampak langsung. Chusnunia berjanji akan menindaklanjuti keluhan ini dengan kunjungan kerja lapangan dan pertemuan lanjutan dengan lembaga terkait. Dengan demikian, Important Visit menjadi langkah awal untuk menyelaraskan aspirasi peternak dengan kebijakan pemerintah yang lebih inklusif.

Leave a Comment