Bisnis

New Policy: Menteri LH: Berbagai negara ingin Indonesia pimpin isu biodiversitas

Foto : Jennifer Jackson - beritaturah.com

Menteri Lingkungan Hidup: Indonesia Diminta Pimpin Perbicangan Biodiversitas

Beritaturah.com – Indonesia kini menjadi pusat perhatian dalam pengembangan New Policy yang berfokus pada isu biodiversitas global. Dalam forum London Climate Action Week, Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Jumhur Hidayat mengatakan bahwa sejumlah negara mengharapkan Indonesia menjadi pemimpin dalam upaya menjaga keanekaragaman hayati. Menurut Jumhur, kekayaan sumber daya alam, baik darat maupun laut, membuat Indonesia ideal untuk menjadi pelopor dalam kebijakan konservasi biodiversitas. “Oleh karena itu, New Policy ini mengharapkan negara-negara lain untuk bergantung pada Indonesia sebagai model dan pengambil keputusan utama,” ujarnya saat memperkenalkan Dokumen Status Keanekaragaman Hayati Bali, Nusa Tenggara, Jawa, Maluku, dan Papua.

Transisi Fase Pembangunan

Pemimpin isu biodiversitas juga menjadi bagian dari transisi Indonesia ke fase pembangunan yang lebih berkelanjutan. Jumhur menekankan bahwa negara ini telah mengalami pergeseran dari model pembangunan tradisional, yang sering kali menimbulkan ketidakseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan, menuju pendekatan yang lebih modern. Fase ini mengandalkan mekanisme seperti kredit karbon dan pengelolaan sumber daya alam tak konvensional, yang diharapkan dapat mendukung ekonomi sirkular tanpa merusak ekosistem. “Kita harus memastikan bahwa New Policy ini tidak hanya menghasilkan manfaat finansial, tetapi juga meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,” tambahnya.

Pemimpin, Pusat, dan Pemanfaatan yang Adil

“Kita harus menjadi pemimpin di situ, menjadi hub, dan keuntungan terbesar harus diperoleh masyarakat di lapangan,” kata Jumhur. Ia menjelaskan bahwa New Policy tentang kredit biodiversitas harus dirancang agar manfaatnya merata, termasuk kepada masyarakat lokal yang hidup di sekitar ekosistem yang dilindungi. “Jumlah belasan ribu triliun dari perdagangan karbon, ini bisa lebih besar lagi dalam konteks kredit biodiversitas. Kita pastikan konservasi, dan mekanisme kreditnya harus memberi manfaat kepada bangsa dan masyarakat yang berada di bawah,” ujarnya.

Jumhur menyoroti pentingnya New Policy dalam mengintegrasikan kebijakan lingkungan dengan kegiatan ekonomi. Ia menyebutkan bahwa dengan memperkuat sistem data dan informasi biodiversitas, pemerintah dapat merancang kebijakan yang lebih responsif terhadap tantangan global. Selain itu, kebijakan ini diharapkan mampu menyeimbangkan antara perlindungan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya secara adil, sehingga menjadikan Indonesia sebagai contoh keberhasilan dalam konservasi.

Strategi Pemanfaatan dan Penguatan Kebijakan

Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah konkret untuk mewujudkan New Policy terkait biodiversitas. Salah satu strategi utama adalah pembangunan pusat data keanekaragaman hayati yang akan menjadi platform integrasi antara berbagai kementerian, lembaga, dan mitra internasional. Pusat ini dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data, termasuk dalam merancang kebijakan akses dan pembagian manfaat dari penggunaan sumber daya genetik. “Dengan New Policy ini, kita bisa memastikan bahwa ekonomi biodiversitas menjadi bagian dari kebijakan nasional yang berkelanjutan,” kata Jumhur.

Menurut Jumhur, New Policy harus mencakup pendekatan holistik, seperti pengaturan zona konservasi yang terpadu dengan program ekonomi sirkular. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan komunitas lokal, agar kebijakan ini tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam menjaga ekosistem. “Kita harus membuka peluang untuk masyarakat mengambil manfaat dari New Policy, seperti melalui pendidikan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi,” ujarnya.

Dukungan Global dan Pandangan Internasional

Dalam forum internasional, Jumhur mengatakan bahwa banyak negara mengapresiasi upaya Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati. Beberapa negara, khususnya yang memiliki keanekaragaman hayati yang serupa, menginginkan Indonesia menjadi pusat negosiasi dan pendorong dalam New Policy global. “Indonesia punya tanggung jawab untuk menjadi percontohan, terutama dalam menyelaraskan pembangunan ekonomi dengan konservasi,” tuturnya.

Menurut Jumhur, New Policy tentang biodiversitas bisa menjadi jalan untuk menghadapi perubahan iklim secara lebih efektif. Ia mengatakan bahwa kebijakan ini harus mengintegrasikan faktor lingkungan dengan aspek sosial dan ekonomi. “Dengan New Policy ini, kita bisa mengurangi emisi karbon, melindungi habitat, dan sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan,” tambahnya. Ia juga menekankan pentingnya New Policy dalam menghadapi tantangan global seperti deforestasi, penangkapan ikan berlebihan, dan perubahan ekosistem akibat aktivitas manusia.

Implementasi dan Kebijakan

Peluncuran New Policy ini dilakukan sebagai bagian dari komitmen Indonesia untuk menghadapi isu keanekaragaman hayati. Jumhur menyebutkan bahwa kebijakan ini akan diimplementasikan secara bertahap, dengan pembangunan pusat data biodiversitas sebagai langkah awal. “Kita harus berpikir jangka panjang, agar New Policy ini bisa bertahan hingga puluhan tahun ke depan,” ujarnya.

Dalam proses implementasi, pemerintah juga menyiapkan mekanisme pendanaan yang terbuka untuk seluruh pihak, termasuk swasta dan organisasi internasional. New Policy ini diharapkan bisa menjadi kerangka kerja yang terpadu, dengan pembagian manfaat yang adil antara pemerintah, masyarakat, dan perusahaan. “Kita harus memastikan bahwa kebijakan biodiversitas ini tidak hanya sekadar retorika, tetapi juga menjadi tindakan nyata yang terukur,” tambahnya. Jumhur juga menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan sebagai bagian dari New Policy, agar masyarakat memahami manfaat konservasi dan mengambil peran aktif dalam menjaganya.

Leave a Comment