Basarnas Tutup Sementara Pencarian 14 Korban KM Nurul Salsa
Beritaturah.com – Makassar – Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) resmi menutup sementara operasi SAR untuk mencari 14 orang korban yang hilang dalam kecelakaan kapal KM Nurul Salsa. Kecelakaan tersebut terjadi di Perairan Selayar, tepatnya di sebelah barat Pulau Polasi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada Rabu, 15 Juli 2026. Penutupan sementara ini direncanakan berlangsung pada sore hari sesuai dengan prosedur standar operasional.
Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa penutupan ini mengacu pada Surat Edaran Nomor 5 Kabasarnas yang menetapkan batas pencarian selama tujuh hari. Namun, operasi SAR telah diperpanjang selama tiga hari setelah adanya evaluasi tim di lapangan. Dengan demikian, total waktu pencarian mencapai 10 hari sebelum keputusan final diambil.
Evaluasi dan Prosedur Lanjutan
"Sore hari ini, kita akan melaksanakan evaluasi kedua terkait dengan perpanjangan atau tidak. Namun, instruksi dari pimpinan pusat hari ke-10 ditutup sementara," tuturnya kepada wartawan. Meski operasi ditutup, apabila nanti ada laporan terkait temuan korban, maka operasi SAR dimungkinkan dibuka kembali, tapi hanya dilaksanakan operasi evakuasi terhadap korban, selanjutnya diserahkan ke tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk diidentifikasi.
Mengenai 14 korban yang masih dalam pencarian, kata Arif, Tim SAR Gabungan masih melaksanakan tugas pencarian di hari ke-10 atau hari terakhir. Selanjutnya, dilakukan evaluasi, termasuk jumlah seluruh penumpang di kapal itu. Dari informasi tujuh korban yang selamat sebelumnya, lima orang pada hari keempat dan menyusul dua orang lainnya, kata dia, itu awalnya satu rakit dengan 19 orang korban.
Namun, mereka membaginya menjadi empat rakit, sehingga para korban terpisah. "Diinformasikan kepada kami, di setiap rakit itu berjumlah ada yang lima, enam dan empat orang. Korban yang pertama lima orang semuanya selamat. Korban (rakit) kedua lima orang, tapi cuma dua yang selamat, tiganya (hilang), dan korban rakit ketiga dan keempat, itu terpisah dengan korban yang lain," tuturnya.
Dari data yang masuk, termasuk permintaan keterangan dari pihak kepolisian terkait jumlah korban yang lain, tim SAR Gabungan terus bekerja, bahkan mendapat bantuan penambahan personel dan alutsista dari TNI. Dari hasil evaluasi, pencarian diperpanjang tiga hari, karena pada hari ketujuh ditemukan dua korban meninggal dunia di wilayah Pulau Sanana atau Sabalana.
Detail Lokasi dan Jumlah Korban
Pencarian difokuskan pada dua pulau itu dan tetap berkoordinasi himpunan nelayan di Kabupaten Pangkep menginformasikan apabila menemukan korban. Arif menjelaskan Pulau Sabalana dan Sanana ini tidak berpenghuni, serta pulau di sekitarnya. Setelah dihitung dengan OSC di lapangan, terdapat 20-an pulau tidak berpenghuni dan kecil-kecil, dan korban terakhir ditemukan di Pulau Mattalang, juga tidak berpenghuni.
"Dari hasil evaluasinya seperti itu. Makanya, dengan memohon maaf, batasnya tujuh hari, ditambah tiga hari, itu biasanya. Makanya, kami berharap di pulau-pulau tak berpenghuni ini mereka ada di sana (terdampar), apabila ada (ditemukan) kami langsung melaksanakan evakuasi," katanya.
Berdasarkan data awal, jumlah korban di kapal tersebut sebanyak 78 orang. Setelah diverifikasi tim kepolisian di Pos SAR Benteng beserta Pemda Kabupaten Selayar terjadi pembaharuan data menjadi 76 orang. Data ini valid hingga hari ke-10 pencarian dan tidak ada laporan baru dari keluarga.
"Kami sudah mengevakuasi atau selamat 58 orang. Sampai hari ini, kita serahkan korban yang ketiga. Korban pertama tidak diserahkan ke DVI, karena korbannya meninggal bersamaan saat evakuasi yang selamat. Jadi, meninggal dunia 4 orang, dan masih dalam pencarian sampai saat ini 14 orang," ucapnya.

