Indonesia

Mercedes terancam dilarang di AS akibat kaitan dengan China

Foto : Jessica Taylor - beritaturah.com

Mercedes Hadapi Ancaman Larangan di AS Karena Keterkaitan dengan Tiongkok

Beritaturah.com – Hubungan panjang Mercedes-Benz dengan pasar global kembali menjadi sorotan. Tujuh dekade lalu, keterkaitan perusahaan otomotif legendaris ini dengan rezim Nazi Jerman sempat menimbulkan kekhawatiran di Amerika Serikat. Kini, perhatian beralih pada keterlibatan Mercedes dengan Tiongkok yang semakin intensif. Berdasarkan laporan Carscoops yang diterbitkan pada Kamis (23/7) waktu setempat, sebuah inisiatif legislatif baru di Senat AS berpotensi membatasi operasional perusahaan otomotif yang memiliki hubungan signifikan dengan negara tirai bambu tersebut.

Posisi Mercedes dalam Rancangan Undang-Undang

Kabar buruk bagi Mercedes muncul setelah Komite Perdagangan Senat meloloskan rancangan undang-undang yang akan membatasi produsen mobil dengan kepemilikan Tiongkok di atas ambang batas tertentu. Yang mengejutkan, Mercedes memiliki dua investor besar asal Tiongkok dengan total kepemilikan saham hampir mencapai 20 persen. Angka ini menjadi perhatian serius bagi para legislator AS yang khawatir tentang keamanan nasional dan ketergantungan teknologi.

Dua investor asal Tiongkok tersebut adalah BAIC, perusahaan otomotif milik negara Tiongkok, serta pendiri Geely, Li Shufu. Jika digabungkan, kepemilikan saham keduanya melampaui batas kepemilikan 15 persen yang sedang dipertimbangkan oleh para anggota parlemen AS. Batas ini menjadi garis merah yang jika dilampaui, dapat memicu konsekuensi serius bagi operasional Mercedes di pasar Amerika.

Jaminan dari Anggota Parlemen AS

Namun, sebelum para diler Mercedes mulai mengosongkan ruang pamer mereka, sejumlah anggota parlemen utama telah memberi sinyal bahwa pelarangan total bukanlah tujuan dari rancangan aturan tersebut. Sensor Ted Cruz dilaporkan mengakui adanya persoalan itu dalam pembahasan di komite dengan mengatakan, bahwa mereka tidak akan pernah mempertimbangkan untuk melarang Mercedes-Benz.

Sensor Bernie Moreno juga menyatakan bahwa Mercedes memiliki waktu hingga 2030 untuk menyelesaikan persoalan kepemilikan saham tersebut dan berpotensi mengajukan pengecualian. Artinya, masih ada waktu yang cukup panjang sebelum ada yang mulai merobohkan diler Daimler untuk diganti menjadi kompleks apartemen. Jangka waktu ini memberikan kesempatan bagi Mercedes untuk menyesuaikan struktur kepemilikannya sesuai regulasi yang berlaku.

Dampak Lebih Luas terhadap Industri Otomotif

Peristiwa ini menunjukkan seberapa agresif AS berupaya mengurangi ketergantungannya terhadap Tiongkok di sektor otomotif. Aturan mengenai perangkat lunak asal Tiongkok yang diterapkan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden telah memaksa Polestar—yang mayoritas sahamnya dimiliki Geely dari Tiongkok—keluar dari pasar AS pada tahun ini. Kasus Mercedes terancam dilarang di AS akibat menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan perdagangan dapat mengubah lanskap industri otomotif global.

Aturan mengenai kendaraan terhubung (connected car) melarang penggunaan perangkat lunak konektivitas asal Tiongkok pada kendaraan model tahun 2027, serta perangkat keras (hardware) asal Tiongkok pada model tahun 2030, dengan alasan kekhawatiran terhadap keamanan nasional terkait data kendaraan dan sistem komunikasinya. Regulasi ini tidak hanya memengaruhi Mercedes, tetapi juga produsen mobil lain yang bergantung pada teknologi Tiongkok.

Industri otomotif kini berlomba-lomba menyesuaikan diri. Para pemasok berupaya mengganti komponen konektivitas buatan Tiongkok, produsen mobil melakukan audit terhadap rantai pasokan mereka, dan sejumlah perusahaan telah mengajukan permohonan pengecualian. Namun, menurut para eksekutif industri, beralih dari perangkat keras asal Tiongkok juga dapat meningkatkan biaya produksi hingga 15 persen. Tantangan ini menuntut strategi jangka panjang dari semua pihak yang terlibat dalam ekosistem otomotif global.

Leave a Comment