BMKG: Waspada kemarau panjang hingga awal 2027 di Kaltim
Table of Contents
BMKG Mengimbau Kewaspadaan Terhadap Kemarau Panjang di Kalimantan Timur Menuju 2027
Beritaturah.com – BMKG – Samarinda – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda mengeluarkan peringatan kepada warga Kalimantan Timur agar mempersiapkan diri menghadapi potensi cuaca ekstrem. Peringatan ini didasarkan pada kombinasi dua fenomena iklim, yaitu El Nino yang berintensitas kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kolaborasi kedua fenomena tersebut diyakini akan memperpanjang musim kemarau hingga awal tahun 2027.
El Nino Kuat dan Dampaknya
Fatuh Hidayatullah, prakirawan BMKG Samarinda, menyampaikan bahwa El Nino saat ini telah memasuki fase aktif dengan intensitas kuat. Fenomena ini ditandai dengan anomali kenaikan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur yang melebihi batas normal.
“El Nino ini telah berada pada kondisi aktif dan pada intensitas kuat dengan Indeks Nino 3,4 yang sudah mencapai angka 1,56 dimana batas threshold untuk kategori kuat adalah 1,5,” kata Fatuh.
Menurut prediksi BMKG, kondisi El Nino kuat ini diperkirakan akan bertahan minimal hingga awal kuartal pertama tahun 2027. Hal ini menjadi perhatian serius karena berisiko memperpanjang durasi kemarau dan meningkatkan tingkat kekeringan.
Prediksi IOD Positif dan Kombinasi Fenomena
Ancaman kemarau panjang di Kaltim juga diperkuat oleh potensi munculnya IOD positif. Fenomena ini merupakan ketidaknormalan suhu permukaan laut di Samudera Hindia yang berpengaruh terhadap pola cuaca di Indonesia.
“Untuk saat ini IOD masih berada pada fase netral. Namun diprediksi berubah menjadi IOD positif pada periode September hingga Desember,” jelasnya.
Jika El Nino dan IOD positif terjadi secara bersamaan, skenario kemarau yang lebih panjang dan kering dapat melanda berbagai wilayah di Indonesia. Untuk Kalimantan Timur, puncak musim kemarau diperkirakan jatuh pada bulan Agustus 2026.
Monitoring Hari Tanpa Hujan dan Massa Udara Kering
Data monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) menunjukkan bahwa beberapa kabupaten dan kota di Kaltim telah masuk dalam kategori HTH menengah. Wilayah-wilayah di bagian selatan menjadi yang paling terdampak. Selain itu, masuknya massa udara kering dari arah timur membawa udara yang relatif panas ke wilayah Kalimantan, semakin memperkuat kondisi kemarau.
Meskipun dalam beberapa hari terakhir sejumlah daerah di Kaltim masih mengalami hujan, hal ini tidak serta-merta menandakan ancaman kemarau telah berakhir. Fatuh menjelaskan bahwa hujan tersebut bersifat sementara akibat dinamika atmosfer, termasuk aktifnya gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin yang membawa tambahan uap air secara temporer.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak terlena dengan hujan yang terjadi belakangan ini. Curah hujan yang turun perlu dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk memenuhi kebutuhan air dan mengantisipasi kondisi kering yang berpotensi berlanjut ke depan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BMKG?
BMKG is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BMKG matter?
BMKG matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
