Warta Bumi

Key Discussion: Perempuan paling terdampak krisis iklim akibat kelangkaan air

Perempuan dan Krisis Iklim: Key Discussion yang Membuka Peran Gender

Key Discussion menjadi tema utama dalam forum yang diadakan di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Perempuan, menurut Kementerian Kehutanan, memainkan peran kritis dalam menghadapi dampak krisis iklim, khususnya akibat kelangkaan air. Arga Paradita Sutiyono, Project Manager FOLU Net Sink 2&3 Kemenhut, menyoroti bahwa gender tidak hanya menentukan identitas sosial, tetapi juga memengaruhi seberapa besar risiko yang dihadapi masyarakat terhadap perubahan iklim. “Perempuan terutama di daerah pedesaan sering kali menjadi pengambil keputusan dalam pengelolaan sumber daya air, namun mereka juga yang paling terdampak ketika keadaan lingkungan memburuk,” ujarnya dalam Key Discussion tersebut.

Pemanasan Global dan Tantangan bagi Perempuan

Dalam Key Discussion, disebutkan bahwa perubahan iklim tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga menimbulkan ketimpangan sosial yang lebih dalam. Kelangkaan air, sebagai salah satu dampak utama pemanasan global, menuntut respons yang lebih cepat dari masyarakat. Perempuan, yang secara tradisional menjadi pengelola air rumah tangga, harus menghadapi tekanan yang lebih besar dalam mencari sumber air saat musim kemarau mengguncang desa-desa. Arga menegaskan bahwa ini bukan hanya tentang ketersediaan air, tetapi juga tentang pengaksesan dan penggunaannya. “Perempuan yang mengambil air dari sumber terdekat sering kali mengalami kenaikan beban fisik dan waktu, yang berdampak pada kesehatan dan kesempatan pendidikan,” tambahnya.

Perspektif Global dan Solusi yang Berkelanjutan

Forum ini juga membuka ruang untuk membandingkan situasi di berbagai wilayah. Arga menyoroti bahwa di beberapa negara, perempuan diberikan pelatihan khusus untuk mengelola sumber daya air secara efisien, sementara di Indonesia, upaya ini masih berkembang. “Kami melihat bahwa Key Discussion tentang gender harus menjadi bagian dari setiap kebijakan lingkungan, karena mereka sering menjadi pengambil keputusan di tingkat lokal,” jelasnya. Selain itu, dia menekankan pentingnya pendekatan Key Discussion yang mencakup perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas, untuk memastikan keadilan yang lebih merata.

Menurut Arga, kelangkaan air bukan hanya ancaman fisik, tetapi juga sosial. Dalam Key Discussion, ia memberikan contoh bahwa perempuan yang menjadi pengambil air sering kali terabaikan dalam program pemerintah, padahal mereka memiliki peran penting dalam memastikan kelangsungan hidup keluarga. “Kami berharap Key Discussion ini mendorong pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang lebih inklusif, seperti pendanaan khusus untuk proyek air bersih yang dikembangkan oleh masyarakat perempuan,” tambahnya. Ia juga menyoroti bahwa perempuan sering kali lebih awas terhadap perubahan lingkungan, sehingga mereka bisa menjadi mitra utama dalam mitigasi krisis iklim.

Perempuan Sebagai Mitra Konservasi

Dalam Key Discussion, dibahas pula tentang bagaimana perempuan bisa menjadi bagian dari solusi konservasi. Arga menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya terdampak oleh perubahan iklim, tetapi juga memiliki peran aktif dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam. “Program Indonesia FOLU Net Sink 2030 secara khusus memperhatikan perempuan dalam setiap aktivitas, karena mereka adalah pengguna utama air dan pengambil keputusan di tingkat desa,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa partisipasi perempuan dalam kegiatan konservasi tidak hanya meningkatkan efektivitas program, tetapi juga memperkuat keadilan gender dalam pembangunan berkelanjutan.

Arga juga mengungkapkan bahwa ada data menunjukkan perempuan di daerah pedesaan lebih rentan terhadap risiko krisis iklim dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan oleh peran tradisional mereka sebagai pengambil air, pengolah tanah, dan pengasuh rumah tangga. “Dalam Key Discussion ini, kami ingin menegaskan bahwa isu gender harus menjadi fokus utama dalam merancang kebijakan lingkungan,” katanya. Ia menekankan bahwa tanpa Key Discussion yang terpadu, upaya mitigasi iklim akan kurang berhasil dan tidak menyentuh akar masalah.

Pendekatan Komprehensif untuk Masa Depan

Forum Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, yang diadakan pada 11-13 Mei 2026, menjadi platform penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat. Key Discussion tentang peran gender dalam krisis iklim diharapkan bisa menciptakan kebijakan yang lebih berimbang dan inklusif. Arga menyatakan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada Key Discussion yang terus dilakukan, baik dalam diskusi kecil maupun skala nasional. “Kami memandang bahwa Key Discussion adalah jembatan antara kesadaran lingkungan dan partisipasi aktif perempuan dalam pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam Key Discussion, para peserta juga menyoroti pentingnya edukasi tentang keberlanjutan untuk perempuan. Arga menegaskan bahwa kegiatan edukatif seperti yang dilaksanakan di Taman Nasional Gunung Ciremai bisa menjadi contoh bagus untuk membangun kesadaran masyarakat. “Perempuan perlu diberikan informasi dan pelatihan yang memadai, agar mereka bisa menjadi agen perubahan iklim di lingkungannya sendiri,” katanya. Ia menambahkan bahwa Key Discussion ini bukan hanya tentang isu krisis iklim, tetapi juga tentang keadilan sosial dan partisipasi perempuan dalam setiap aspek pembangunan.

Key Discussion adalah jalan untuk memahami bahwa perempuan adalah bagian integral dari solusi krisis iklim. Mereka tidak hanya terdampak, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam.” – Arga Paradita Sutiyono

Leave a Comment