Finansial

Analis: Rupiah berpeluang menguat, dolar AS tertekan buyback obligasi

nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-ditutup-menguat-2710226
Foto : Daniel Moore - beritaturah.com
Table of Contents
  1. Analis: Rupiah Berpeluang Menguat, Dolar AS Tertekan Rencana Buyback Obligasi
  2. Related Reading

Analis: Rupiah Berpeluang Menguat, Dolar AS Tertekan Rencana Buyback Obligasi

Beritaturah.com – Analis pasar mata uang menilai rupiah memiliki ruang untuk menguat dalam jangka pendek seiring pelemahan tajam dolar AS. Sentimen pemicu utama datang dari pengumuman Departemen Keuangan Amerika Serikat yang berniat menggandakan operasi buyback obligasi jangka panjang guna menopang likuiditas pasar. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung Rabu (19/8) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen, dengan Deposit Facility tetap di 4,75 persen dan Lending Facility di 6,50 persen. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat analis memperkirakan tekanan jual terhadap dolar akan berlanjut sementara waktu.

Keputusan BI dan Implikasinya bagi Pasar Domestik

Keputusan BI untuk menahan BI-Rate di 5,75 persen mencerminkan sikap bank sentral yang masih melihat ruang pelonggaran bertahap tanpa mengorbankan stabilitas harga. Bagi analis, langkah ini mengirim sinyal bahwa otoritas moneter tidak terburu-buru menyesuaikan kebijakan di tengah ketidakpastian eksternal. Dengan suku bunga deposito dan pinjaman masing-masing bertahan di 4,75 persen dan 6,50 persen, selisih margin perbankan tetap terjaga, sehingga tidak ada tekanan mendadak terhadap nilai tukar dari sisi domestik.

Para analis juga mencatat bahwa keputusan RDG tersebut diambil pada saat volatilitas pasar global sedang meningkat akibat perubahan kebijakan fiskal Amerika Serikat. Dalam konteks ini, sikap BI yang stabil dianggap sebagai jangkar bagi pelaku pasar domestik agar tidak bereaksi berlebihan terhadap gejolak eksternal.

Dampak Buyback Obligasi AS terhadap Dolar dan Rupiah

Lukman Leong, analis mata uang dari Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa rencana penggandaan operasi buyback obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan AS menjadi katalis utama pelemahan dolar. Menurutnya, langkah tersebut secara langsung meningkatkan permintaan atas surat utang pemerintah AS, yang pada gilirannya menekan yield dan melemahkan nilai tukar dolar terhadap mata uang utama lainnya, termasuk rupiah.

“Rupiah berpotensi menguat seiring pelemahan tajam pada dolar AS itu sendiri setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk menggandakan operasi buyback guna mendukung likuiditas obligasi jangka panjang,” kata Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan bahwa efek buyback tidak bersifat sesaat; selama program tersebut berjalan dalam skala besar, tekanan jual terhadap dolar akan terus terasa. Kondisi ini, menurut analis tersebut, menciptakan jendela peluang bagi rupiah untuk mencatatkan penguatan bertahap selama beberapa sesi perdagangan ke depan.

Pergerakan Pasar dan Proyeksi Sesi Kamis

Pada pembukaan perdagangan Kamis, rupiah tercatat menguat 30 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp17.810 per dolar AS, setelah sebelumnya ditutup di level Rp17.840 per dolar AS. Penguatan tersebut sejalan dengan ekspektasi yang telah dibangun oleh analis sejak pengumuman kebijakan buyback AS beredar di pasar internasional.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen yang beredar, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.750–Rp17.850 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan Kamis. Ia mengingatkan bahwa meskipun arah jangka pendek condong ke penguatan, faktor-faktor seperti arus modal keluar dan dinamika geopolitik masih dapat memicu koreksi mendadak sehingga pelaku pasar tetap perlu memantau pergerakan secara ketat.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Sentimen Mata Uang

Apa yang dimaksud dengan operasi buyback obligasi?

Buyback obligasi adalah mekanisme di mana pemerintah membeli kembali surat utang yang telah beredar di pasar sekunder. Tujuannya adalah menyerap likuiditas berlebih, menstabilkan yield, dan menjaga agar pasar obligasi tetap berfungsi normal. Dalam konteks pengumuman terbaru Departemen Keuangan AS, skala operasi tersebut akan digandakan sehingga dampaknya terhadap dolar lebih signifikan.

Bagaimana keputusan BI-Rate memengaruhi nilai tukar rupiah?

Suku bunga acuan yang dipertahankan pada level tertentu menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah bagi investor asing. Selama selisih bunga antara Indonesia dan negara maju tidak menyempit drastis, tekanan jual terhadap rupiah dari sisi carry trade relatif terbatas. Analis umumnya memandang keputusan BI yang stabil sebagai faktor pendukung bagi penguatan bertahap rupiah.

Apakah penguatan rupiah akan berlanjut dalam jangka menengah?

Para analis menilai bahwa keberlanjutan penguatan sangat bergantung pada implementasi nyata program buyback AS serta respons pasar terhadap data ekonomi global berikutnya. Selama tidak ada perubahan kebijakan moneter mendadak dari BI atau The Fed, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbuka dalam batas wajar.

Leave a Comment