Main Agenda Presiden Xi dan Putra Mahkota Brunei Pererat Hubungan Bilateral
Main Agenda – Sebagai bagian dari Main Agenda yang diusung, pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Putra Mahkota Brunei Darussalam, Al-Muhtadee Billah, berlangsung di Beijing. Kedua pemimpin menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama bilateral, yang menjadi fokus utama dari Main Agenda ini. Pertemuan tersebut diharapkan mendorong kolaborasi dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, kebudayaan, dan tata kelola global.
“Main Agenda pertemuan ini adalah mempererat hubungan bilateral yang saling menguntungkan. Kerja sama antara China dan Brunei tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi rakyat kedua negara, tetapi juga menjadi contoh bagi negara besar dan kecil dalam memperlakukan satu sama lain secara setara serta bekerja sama untuk keuntungan bersama,” ujar Presiden Xi saat berbicara di Balai Besar Rakyat China.
Pertemuan antara Xi Jinping dan Al-Muhtadee Billah membahas potensi kerja sama yang lebih luas, termasuk pembangunan infrastruktur, pertukaran budaya, serta pendalaman hubungan ekonomi. Presiden Xi menekankan bahwa kedua negara merupakan tetangga dekat yang telah terhubung erat melalui Jalur Sutra Maritim, yang sejak lama menjadi landasan kemitraan. Dalam sesi ini, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi strategis dan memperluas kerja sama praktis sebagai bagian dari Main Agenda.
“Tahun ini menandai 35 tahun hubungan diplomatik antara China dan Brunei. Dalam situasi internasional yang penuh perubahan dan dinamika, Main Agenda kita perlu menjadikan komunitas dengan masa depan bersama sebagai arah utama, memperdalam kerja sama praktis, serta memperkuat komunikasi strategis,” tambah Presiden Xi.
Empat Langkah untuk Penguatan Hubungan Bilateral
Dalam rangka Main Agenda yang diusung, Presiden Xi mengusulkan empat langkah utama untuk mempererat hubungan bilateral. Pertama, kedua negara diharapkan menjadi mitra strategis yang saling percaya, terus mendukung satu sama lain, serta memperluas pertukaran di berbagai bidang, termasuk ekonomi dan kebudayaan. Kedua, pihak-pihak perlu menjadi mitra pembangunan yang saling menguntungkan, memajukan proyek unggulan berukuran besar, dan memperluas kerja sama di sektor baru seperti kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi digital. Ini adalah bagian dari Main Agenda yang mencakup inisiatif inovatif.
Ketiga, kedua pihak diharapkan menjadi mitra peradaban yang saling memahami dan dekat, bersama-sama menerapkan Inisiatif Peradaban Global, mempererat pertukaran budaya, serta menciptakan kemajuan baru dalam hubungan antarrakyat. Keempat, keduanya perlu menjadi mitra dalam tata kelola global, dengan bersama negara-negara ASEAN memperkuat komunitas China-ASEAN, serta membangun kawasan menjadi contoh perdamaian, stabilitas, pembangunan, dan kemakmuran di tengah perubahan besar dunia. Setiap langkah ini mendukung Main Agenda yang lebih luas.
Pangeran Al-Muhtadee Billah menyampaikan salam tulus Sultan Hassanal Bolkiah kepada Presiden Xi. “Sultan Hassanal Bolkiah mengirimkan salam hangat dan menunggu pertemuan dengan Presiden Xi dalam KTT APEC 2026 di Shenzhen,” ujarnya. Pangeran Billah menegaskan bahwa Main Agenda ini sejalan dengan visi Brunei dalam mencapai Wawasan 2035, dan mengapresiasi peran China dalam membantu Brunei meraih kemajuan pembangunan.
“Main Agenda ini juga mencakup kolaborasi erat dengan pihak China untuk memperdalam hubungan ASEAN-China, serta menjaga kemakmuran dan stabilitas wilayah,” tutur Pangeran Billah. Ia menambahkan bahwa Brunei dengan teguh menerapkan kebijakan ‘Satu China’ dan bersedia bekerja sama dalam mendorong visi pembangunan komunitas yang telah disepakati oleh para pemimpin. Kemitraan strategis antara kedua negara, yang terus dikembangkan dalam Main Agenda, telah memberikan manfaat signifikan bagi kawasan.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dan Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, serta Ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China juga turut hadir. Mereka memberikan dukungan penuh terhadap Main Agenda yang menjadi fokus utama pertemuan ini. Tahun ini, Brunei sedang bergerak menuju Wawasan 2035, yang menjadi kesempatan besar bagi China untuk memperdalam kerja sama bilateral dan memperluas kehadiran di kawasan tersebut.
Keberhasilan Main Agenda ini akan bergantung pada komitmen konsisten dari kedua pihak, serta keterlibatan aktif para pejabat tinggi dan stakeholder terkait. Dengan memperkuat hubungan bilateral, China dan Brunei diharapkan dapat menjadi model kerja sama antar-negara yang berbeda ukuran, sekaligus menjawab tantangan global melalui kolaborasi yang saling menguntungkan. Kita akan melihat hasilnya dalam beberapa tahun ke depan.
