Bisnis

Key Strategy: Khofifah sebut Jatim masuk fase kedaulatan pangan berkelanjutan

Key Strategy: Jawa Timur Masuk Fase Kedaulatan Pangan Berkelanjutan

Key Strategy – Jawa Timur semakin dekat dengan pencapaian fase kedaulatan pangan berkelanjutan berkat penerapan Key Strategy yang dijalankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa wilayah ini telah mengambil langkah penting dalam membangun sistem pangan yang mandiri dan berkelanjutan. “Dengan Key Strategy ini, kita bisa memastikan bahwa Jawa Timur tidak hanya menjadi penyangga ekonomi nasional, tetapi juga menjadi pusat produksi pangan yang stabil,” ujarnya dalam peresmian Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa 2026 di Sidoarjo, Rabu. Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menciptakan ketahanan pangan yang lebih baik, dengan penekanan pada pengelolaan sumber daya pertanian secara optimal.

Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera

Key Strategy di Jawa Timur tidak hanya terbatas pada pengembangan pertanian, tetapi juga mencakup upaya mengendalikan inflasi dan menjamin distribusi pangan yang adil. Khofifah menjelaskan bahwa pilihan Jawa Timur sebagai lokasi peluncuran GPIPS Wilayah Jawa didasarkan pada kinerja ekonomi daerah yang terus meningkat. Pada triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mencapai 5,96 persen secara tahunan, yang menjadi angka tertinggi di Pulau Jawa. Dengan inflasi tahunan sebesar 2,85 persen dan inflasi bulanan 0,02 persen, Pemprov Jatim menargetkan penurunan harga kebutuhan pokok melalui program ini.

Pengendalian inflasi melalui Key Strategy juga diwujudkan melalui Etalase Pengendali Inflasi Kabupaten/Kota (EPIK) Mobile, yang diluncurkan sebagai bagian dari GPIPS. EPIK Mobile diperkirakan dapat memperkuat koordinasi antar daerah dalam mengatasi kenaikan harga pangan secara responsif. “Program ini memberikan ruang bagi pemangku kepentingan untuk saling berbagi strategi dan data, sehingga distribusi pangan bisa lebih merata,” tambah Khofifah. Dengan Key Strategy yang berkelanjutan, Jawa Timur berharap mampu menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan pangan penduduk terpenuhi.

Penguatan Sektor Pertanian

Di sektor pertanian, Key Strategy Jawa Timur berfokus pada penerapan teknologi modern dan efisiensi produksi. Khofifah menekankan bahwa penggunaan alat mesin pertanian seperti combine harvester menjadi salah satu strategi untuk menekan kerugian hasil panen hingga 11 persen. “Dengan mengurangi kehilangan hasil panen, kita bisa meningkatkan produksi gabah tanpa perlu memperluas lahan,” jelasnya. Pemprov Jatim juga menargetkan produksi gabah kering panen (GKP) sebesar 34 juta ton, sehingga bisa menambah pasokan 3,4 juta ton tanpa intensifikasi lahan. Ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Key Strategy ini didukung oleh berbagai inisiatif, termasuk penguatan populasi sapi potong dan sapi perah melalui Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan protein hewani yang cukup bagi masyarakat, sejalan dengan visi pangan sejahtera yang diusung pemerintah daerah. Selain itu, program pembinaan petani berkelanjutan dan pengembangan infrastruktur pertanian menjadi pilar utama dalam Key Strategy Jatim. Dengan pendekatan ini, Jawa Timur diharapkan mampu menjadi contoh nasional dalam membangun ekonomi pangan yang mandiri.

Peluang dan Tantangan dalam Key Strategy

Pelaksanaan Key Strategy di Jawa Timur juga melibatkan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk swasta, organisasi masyarakat, dan institusi penelitian. Kemitraan ini dianggap penting untuk menciptakan ekosistem pangan yang berkelanjutan. “Kita perlu kerja sama lintas sektor agar semua komponen pangan bisa terpenuhi secara efisien,” kata Khofifah. Meski demikian, tantangan seperti fluktuasi harga global dan perubahan iklim tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi. Dengan Key Strategy yang terpadu, Jawa Timur optimis mampu menghadapi tantangan tersebut sambil memperkuat posisi sebagai pusat pangan nasional.

Key Strategy di Jawa Timur juga diimbangi dengan kebijakan pengelolaan sumber daya air dan pengurangan risiko banjir, yang secara tidak langsung berdampak pada produktivitas pertanian. Selain itu, pemerintah daerah terus mendorong pengembangan usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak di bidang pertanian dan pangan. Upaya ini bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kemandirian ekonomi petani. “Dengan Key Strategy, kita bisa menciptakan ekosistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” imbuh Khofifah, yang menekankan bahwa kesuksesan fase kedaulatan pangan berkelanjutan tidak bisa dicapai tanpa kolaborasi yang kuat.

Target Jangka Panjang Key Strategy

Khofifah menegaskan bahwa Key Strategy Jawa Timur tidak hanya fokus pada kebutuhan pangan saat ini, tetapi juga menyiapkan fondasi untuk ketahanan jangka panjang. Pemprov Jatim berencana mengembangkan sistem distribusi pangan yang lebih terarah, dengan melibatkan pelaku usaha dan masyarakat secara aktif. “Kita perlu mengubah cara memproduksi dan mendistribusikan pangan agar lebih efisien dan berdaya saing,” katanya. Target jangka panjang dari Key Strategy ini meliputi peningkatan produksi pangan sebesar 20 persen dalam lima tahun ke depan, serta peningkatan akses pasar untuk produk pertanian lokal.

Dengan Key Strategy yang berkelanjutan, Jawa Timur berharap bisa menjadi model daerah yang sukses dalam mencapai kedaulatan pangan. Pemprov Jatim juga menyiapkan pengawasan dan evaluasi berkala untuk memastikan efektivitas program ini. “Kami akan terus memantau progres dan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat,” kata Khofifah. Dukungan dari masyarakat dan kebijakan yang konsisten diharapkan dapat memperkuat Key Strategy ini, sehingga Jawa Timur bisa menjadi salah satu provinsi dengan pangan yang aman dan terjangkau bagi seluruh penduduk.

Leave a Comment