Humaniora

New Policy: Ketika air tak lagi punya tempat

Ketika Air Tak Lagi Punya Tempat

New Policy – Surabaya, kota pesisir yang berada di dataran rendah, kini menghadapi tantangan baru dalam menghadapi musim hujan. Kebijakan baru yang diterapkan oleh pemerintah kota berupa sistem penampungan air secara sistematis telah menjadi solusi utama untuk mengatasi masalah banjir yang kerap mengganggu kehidupan warga. Dalam New Policy ini, infrastruktur Bozem Tanjungsari menjadi pusat perhatian, karena diharapkan mampu mengubah cara kota tersebut memanage aliran air hujan secara lebih efektif. Kota yang sering dihantam banjir ini perlu rencana jangka panjang untuk memastikan air tidak lagi menjadi ancaman.

Perkenalkan New Policy

Sebagai bagian dari New Policy, Bozem Tanjungsari di Surabaya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan air, tetapi juga menjadi elemen kunci dalam upaya mengontrol aliran air selama musim hujan. Sistem ini dirancang untuk menahan air secara sementara sebelum dialirkan ke sungai primer atau laut melalui saluran dan pompa. Dengan pendekatan ini, pemerintah mengupayakan solusi berkelanjutan yang mampu mengurangi dampak banjir di wilayah rawan.

Selama ini, kota-kota di Indonesia, termasuk Surabaya, tergantung pada saluran drainase yang sempit untuk mengalirkan air hujan ke laut. Namun, perkembangan permukiman dan betonisasi yang pesat telah mengurangi area resapan air, sehingga sistem lama tidak lagi cukup efisien. Dengan New Policy, pemerintah Surabaya memperkenalkan penampungan air yang lebih besar dan terintegrasi, sebagai upaya mengatasi masalah ini secara holistik. Strategi ini juga mencakup kolaborasi dengan berbagai wilayah seperti Diversi Gunungsari dan Bozem Dupak, yang membentuk jaringan penampungan air nasional.

Manfaat New Policy

Kebijakan New Policy tidak hanya fokus pada pencegahan banjir, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan dan ekonomi kota. Dengan menyediakan ruang penampungan air, sistem ini mampu mengurangi risiko genangan di jalan raya, permukiman, dan area produktif. Selain itu, penggunaan Bozem Tanjungsari diharapkan mencegah peningkatan erosi pantai dan kerusakan ekosistem sekitarnya. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa New Policy ini adalah langkah penting dalam membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan intensitas hujan yang semakin meningkat.

Dalam rangka mewujudkan New Policy, pemerintah Kota Surabaya telah melakukan penyesuaian pada sistem drainase yang lama. Sejumlah ruas jalan dan permukiman yang rawan banjir telah ditetapkan sebagai area prioritas untuk diubah. Proyek ini juga melibatkan komunitas lokal, dengan pendekatan partisipatif agar keberhasilan penampungan air dapat dirasakan secara merata. Keberadaan Bozem Tanjungsari tidak hanya memperkuat kapasitas kota dalam menangani air hujan, tetapi juga menjadi simbol perubahan yang lebih berkelanjutan dalam pembangunan kota pesisir.

“New Policy ini adalah bagian dari upaya kita untuk mengubah cara menghadapi bencana alam, bukan hanya sekadar memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain,”

kata Eri Cahyadi dalam beberapa wawancara terkini. Ia menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini akan tergantung pada koordinasi antar-sektor dan kesadaran warga dalam menjaga lingkungan sekitar Bozem. Proyek yang ditargetkan selesai pada November 2026 ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang, terutama dalam mengurangi kerugian ekonomi akibat banjir tahunan.

Leave a Comment