Gen Z dominasi 26,4 persen, Sulteng masuk zona bonus demografi
Gen Z dominasi 26 4 persen – Dalam laporan terbaru dari Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap bahwa Generasi Z atau Gen Z menjadi kelompok usia paling dominan di Sulawesi Tengah (Sulteng). Dengan persentase sebesar 26,4 persen dari total populasi, Gen Z menunjukkan keberadaan yang signifikan dalam dinamika demografi wilayah tersebut. Angka ini memberi gambaran bahwa Sulteng saat ini berada dalam fase zona bonus demografi, yang memungkinkan potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi karena proporsi populasi produktif semakin besar.
Pertumbuhan Penduduk dan Struktur Usia
Pertumbuhan populasi Sulteng mencapai 1,17 persen per tahun, menurut Daryanto, kepala BPS Sulawesi Tengah, yang mengumumkan data tersebut di Palu pada Jumat (15/5). Dengan jumlah penduduk mencapai 3,16 juta jiwa, wilayah ini menunjukkan pola migrasi dan reproduksi yang berubah seiring waktu. Gen Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, kini menjadi lapisan masyarakat dengan usia muda yang siap mengisi sektor produktif. Fenomena ini menunjukkan bahwa Sulteng sedang mengalami transisi demografi yang memperkuat posisi wilayah tersebut sebagai daerah dengan potensi pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Kebutuhan Infrastruktur dan Peluang Ekonomi
Kehadiran Gen Z yang signifikan berdampak pada kebutuhan akan infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Kepala BPS Sulawesi Tengah, Daryanto, menyebut bahwa ini menjadi peluang besar bagi pengembangan ekonomi lokal, terutama dalam sektor teknologi dan layanan yang menjangkau generasi muda. “Gen Z dominasi 26,4 persen, sehingga harus dipersiapkan dengan kebijakan yang memadai,” kata Daryanto dalam wawancara eksklusif. Selain itu, angka ini juga mencerminkan bahwa Sulteng sedang mengalami fase transisi demografi, di mana kelompok usia produktif lebih besar dibandingkan kelompok usia yang lebih tua.
Daryanto menjelaskan bahwa Generasi Z menjadi kelompok usia terbesar dengan persentase 26,40 persen dari total populasi.
Dengan proporsi Gen Z yang tinggi, Sulteng diharapkan bisa memanfaatkan momentum ini untuk membangun ekosistem ekonomi yang lebih inklusif. Pemerintah daerah dan sektor swasta perlu berkolaborasi dalam menyediakan peluang kerja, serta memperkuat investasi di bidang pendidikan tinggi dan keterampilan digital. “Dengan angka 26,4 persen, kita bisa memperkirakan bahwa kelompok usia ini akan menjadi pilar utama dalam pembangunan jangka panjang,” tambah Daryanto, yang menekankan pentingnya kebijakan yang terencana untuk menyesuaikan kebutuhan populasi muda tersebut.
Konteks Zona Bonus Demografi
Zona bonus demografi adalah kondisi di mana proporsi populasi usia produktif lebih besar dibandingkan usia non-produktif, sehingga memberikan kemampuan ekonomi yang lebih baik. Sulteng masuk dalam kategori ini karena jumlah Gen Z yang dominan, ditambah adanya keseimbangan antara kelompok usia kerja dan kelompok usia muda yang siap mengisi pasar tenaga kerja. Selain itu, tingkat pertumbuhan populasi yang stabil juga menjadi faktor pendukung.
Pertumbuhan populasi Sulteng yang terus meningkat sejalan dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya investasi pada anak-anak. Gen Z, yang berusia di bawah 25 tahun, diperkirakan akan menjadi daya dukung utama bagi perekonomian wilayah ini. Kebijakan yang tepat, seperti subsidi pendidikan, pelatihan kerja, dan fasilitas kesehatan, sangat diperlukan untuk memastikan kelompok usia ini bisa berkembang optimal.
Menurut Daryanto, Sulteng berada di posisi unggul dibandingkan provinsi lain di Indonesia yang juga memiliki kenaikan jumlah penduduk. “Gen Z dominasi 26,4 persen, sehingga kita perlu optimis dan siapkan langkah strategis untuk menyerap tenaga kerja,” jelasnya. Data ini menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki keuntungan kompetitif dalam menghadapi tantangan ekonomi global, terutama dengan ketersediaan sumber daya manusia yang energik dan kreatif.
Dengan adanya Gen Z yang menguasai 26,4 persen populasi, Sulteng dapat menjadi contoh sukses dalam memanfaatkan bonus demografi. Faktor-faktor seperti akses ke teknologi, internet, dan pendidikan memperkuat kemampuan generasi muda untuk berkontribusi secara signifikan. Namun, Daryanto menyoroti bahwa hal ini juga menuntut respons yang cepat dari pemerintah dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, seperti ketersediaan pekerjaan dan kebijakan yang mendukung kemandirian ekonomi.
Dalam konteks nasional, Sulteng menjadi salah satu provinsi yang memperlihatkan pertumbuhan demografi yang dinamis. Gen Z dominasi 26,4 persen tidak hanya mencerminkan kekuatan demografi, tetapi juga potensi inovasi dan perubahan budaya yang lebih cepat. BPS mengimbau agar semua pihak, baik pemerintah, investor, maupun masyarakat, bekerja sama untuk memanfaatkan peluang ini secara maksimal. Dengan strategi yang tepat, bonus demografi Sulteng bisa menjadi peluang besar dalam menunjang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
