Key Strategy: Investasi Pertanian-Manufaktur Mendorong Serapan Tenaga Kerja
Key Strategy – Dalam situasi ekonomi global yang fluktuatif dan tekanan geopolitik yang meningkat, strategi investasi menjadi kunci utama dalam memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga mencapai 8 persen. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menegaskan bahwa investasi dalam sektor pertanian dan manufaktur memegang peran penting untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja, terutama di tengah kebutuhan akan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan. Menurutnya, pada kuartal I 2026, kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 31-32 persen, meningkat dari angka 27-28 persen pada periode sebelumnya. Dengan demikian, Key Strategy ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi jalan untuk menciptakan lapangan kerja baru di berbagai wilayah.
Investasi Padat Karya dalam Sektor Pertanian dan Manufaktur
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyoroti bahwa investasi padat karya di bidang pertanian, perikanan, dan industri manufaktur harus menjadi prioritas. Ia menjelaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional, dengan potensi besar untuk menggerakkan pertumbuhan lokal dan menyerap tenaga kerja. Key Strategy ini mengutamakan kebijakan yang mengarahkan investasi ke sektor-sektor yang bisa memberikan dampak langsung pada ketersediaan pekerjaan. “Kita perlu memastikan bahwa setiap triliun rupiah investasi bisa menciptakan sekitar 4.500 tenaga kerja,” tambah Bhima, menekankan kebutuhan transformasi struktur investasi.
“Dengan Key Strategy yang tepat, investasi di pertanian dan manufaktur bisa memperkuat daya saing ekonomi Indonesia, sekaligus menjawab tantangan penyerapan tenaga kerja yang belum sepenuhnya teratasi,” ujarnya.
Pertumbuhan Investasi dan Dampaknya pada Lapangan Kerja
Menurut laporan terbaru, realisasi investasi di Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai Rp498,8 triliun, naik 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan kinerja yang lebih baik, sekaligus memberikan kontribusi langsung terhadap penyerapan sekitar 706.569 tenaga kerja. Target investasi nasional untuk 2026 adalah Rp2.041,3 triliun, sebagian besar difokuskan pada sektor-sektor yang mendukung Key Strategy, seperti pertanian, manufaktur, dan hilirisasi sumber daya alam. Dengan fokus pada industri manufaktur, pemerintah berharap bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi sekaligus menyeimbangkan kebutuhan keterampilan pekerja.
Investasi di sektor pertanian, misalnya, dinilai sebagai penyangga ekonomi yang stabil. Dalam tahun lalu, investasi pertanian tumbuh 10 persen, menyumbang sekitar 15 persen dari total investasi nasional. Sementara itu, manufaktur tetap menjadi penggerak utama, dengan realisasi investasi mencapai Rp1.350 triliun. Key Strategy ini mengharapkan keseimbangan antara dua sektor tersebut untuk memastikan keberlanjutan perekonomian dan keadilan distribusi lapangan kerja.
Kepercayaan Investor dan Regulasi yang Mendukung
Bhima Yudhistira juga menegaskan bahwa kepercayaan investor memegang peran kritis dalam menciptakan ekosistem investasi yang berkelanjutan. “Key Strategy tidak hanya tentang jumlah uang yang masuk, tetapi juga bagaimana uang tersebut digunakan untuk membangun kapasitas lokal,” tuturnya. Menurutnya, kepastian hukum dan tata kelola ekonomi yang lebih baik akan meningkatkan minat investor, terutama di sektor pertanian dan manufaktur yang membutuhkan investasi jangka panjang. Dengan memperkuat regulasi dan kebijakan pendukung, pemerintah bisa menjamin bahwa investasi yang masuk akan memiliki dampak optimal terhadap ekonomi.
Kebijakan Key Strategy juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan swasta. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi dari sektor swasta dalam pertanian meningkat 18 persen, sementara manufaktur mencapai pertumbuhan 12 persen. Angka ini menunjukkan bahwa ekosistem investasi di Indonesia semakin dinamis, tetapi tetap perlu peningkatan strategi untuk mengoptimalkan peluang. Terutama di tengah upaya mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam RPJMN 2025-2029, pemerintah diharapkan bisa mengarahkan investasi ke sektor yang paling berpotensi.
Hasil Kinerja Investasi dan Target Pemerintah
Pada tahun 2025, realisasi investasi mencapai Rp1.200 triliun, memperlihatkan kenaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Bhima mengingatkan bahwa pertumbuhan ini belum sepenuhnya mencapai potensi maksimal, terutama di sektor pertanian. “Sektor pertanian memiliki peluang besar, tetapi serapan tenaga kerjanya masih jauh dari target,” katanya. Dengan Key Strategy yang diterapkan, pemerintah diharapkan bisa meningkatkan efisiensi penggunaan dana, sehingga mampu membangun industri yang berdaya saing dan menciptakan lapangan kerja.
Menteri Rosan Roeslani menambahkan bahwa pengembangan pertanian dan manufaktur perlu diiringi dengan perencanaan jangka panjang. Dengan pendekatan Key Strategy, investasi akan difokuskan pada keberlanjutan, inovasi, dan pengurangan risiko. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi dalam pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan menyerap tenaga kerja yang lebih luas. Dengan demikian, Key Strategy ini akan menjadi fondasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, Key Strategy dalam investasi pertanian dan manufaktur tidak hanya memperkuat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah pengangguran di Indonesia. Dengan membangun infrastruktur, memperbaiki tata kelola, dan memberikan kepastian hukum, pemerintah bisa meningkatkan daya tarik sektor-sektor ini bagi investor. Dengan strategi yang tepat, ekonomi Indonesia diharapkan bisa menyerap tenaga kerja secara signifikan, sekaligus menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan berkembang.
