Hukum

Main Agenda: Tulungagung dampingi siswa sekolah dasar terpapar konten radikal

Tulungagung Dampingi Siswa SD Terpapar Konten Radikal

Main Agenda mengungkapkan upaya pencegahan radikalisme yang dilakukan Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Tulungagung. Dalam rangka menjalankan Main Agenda, lembaga tersebut melibatkan siswa sekolah dasar (SD) yang diduga terpapar paham radikalisme melalui game online dan media sosial. Pendampingan psikologis yang dilakukan secara berkala bertujuan untuk membimbing minat digital anak-anak ke arah yang lebih positif. Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPT) KBPPPA Tulungagung, Dwi Yanuarti, menjelaskan bahwa kasus ini terdeteksi di akhir tahun 2025.

Strategi Pendekatan Digital untuk Pencegahan Radikalisme

Main Agenda menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam intervensi radikalisme di kalangan remaja. Dwi Yanuarti menegaskan bahwa sistem pendampingan yang dilakukan secara teratur bertujuan untuk memahami dinamika digital siswa dan memastikan penggunaan teknologi tidak menyimpang dari nilai-nilai kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kemampuan digital anak-anak saat ini menjadi kunci dalam mengarahkan pengaruh konten negatif.

Keterlibatan siswa dalam grup media sosial dianggap sebagai tahap awal proses pengaruh radikalisme. Dalam pendekatan Main Agenda, tim fokus pada intervensi sejak dini agar anak tidak terjebak dalam paradigma paham ekstrem. Pendekatan ini lebih menekankan komunikasi efektif dan penguatan hubungan antara anak dengan keluarga, dibandingkan pembatasan ketat yang bisa memicu resistensi.

Pendampingan Psikologis dan Penguatan Keterlibatan Keluarga

Dalam implementasi Main Agenda, KBPPPA Tulungagung tidak hanya memantau aktivitas digital siswa, tetapi juga bekerja sama dengan orang tua untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat. “Kami menilai potensi siswa dalam bidang teknologi harus didukung, tetapi diarahkan ke penggunaan yang bermanfaat,” kata Dwi Yanuarti. Strategi ini mencakup kegiatan luar ruangan, seperti eksplorasi alam dan interaksi sosial, untuk mengurangi ketergantungan pada media digital.

Kondisi psikologis siswa yang terpapar konten radikal menunjukkan peningkatan signifikan setelah pendampingan. Anak tersebut kini lebih terbuka dalam berdiskusi dan kembali aktif belajar. Selain itu, kemampuan berbahasa Inggrisnya tetap terjaga, menunjukkan bahwa intervensi Main Agenda tidak mengganggu proses pendidikan. Dwi menambahkan bahwa hasil ini menjadi bukti bahwa pendekatan terpadu dapat mengubah perilaku anak secara positif.

“Intervensi psikologis dengan metode Main Agenda berjalan efektif karena anak merasa didukung, bukan dibatasi,” kata Dwi Yanuarti. Pendekatan ini juga mengurangi rasa kesepian dan kebingungan yang sering muncul selama masa remaja, di mana siswa cenderung mencari pengakuan melalui grup online.

Langkah ini menjadi contoh nyata dalam penerapan Main Agenda untuk menangani isu radikalisme di tingkat awal. KBPPPA Tulungagung berupaya membangun kesadaran masyarakat tentang dampak konten digital yang tidak terkontrol. Dwi Yanuarti menekankan bahwa kerja sama antara lembaga pemerintah, sekolah, dan keluarga sangat penting untuk mencegah penyebaran paham radikalisme. “Kami berharap Main Agenda ini bisa menjadi referensi bagi daerah lain,” ujarnya.

Leave a Comment